Divergent Conservation: Opini

Masalah sudah ada di dunia, barangkali sejak manusia tercipta. Dalam pemikiran saya, tidak ada masalah tunggal di dunia ini. Suatu masalah t...


Masalah sudah ada di dunia, barangkali sejak manusia tercipta. Dalam pemikiran saya, tidak ada masalah tunggal di dunia ini. Suatu masalah tampak sederhana kalau kita melihat dari satu sudut pandang saja. Cobalah melihat dari beberapa sudut pandang, akan segera tampak bahwa masalah itu tidak tunggal yang artinya tidak ada pula solusi tunggal untuk memecahkannya. 

Demikian pula dalam masalah-masalah keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup. Solusi linear biasanya tidak cukup untuk mengurai permasalahan. Salah-salah malah memicu masalah baru. Melalui artikel ringkas ini, saya mengajak pembaca melakukan brainstorming untuk menemukan alternatif jalan pemecahan masalah lingkungan yang mungkin bisa menjadi tawaran segar sekaligus (semoga) realistis. 

Brainstorming kita kali ini mungkin terasa sebagai petualangan menembus belantara pemikiran yang membutuhkan navigasi yang berbeda. Untuk itu, kita aktikan dulu mode “berpikir lateral” sebagai alat navigasi itu. Pemikiran lateral adalah istilah yang pertama kali dicetuskan oleh Edward de Bono. Berbeda dengan pemikiran vertikal (logika tradisional) yang bergerak maju selangkah demi selangkah untuk mencari satu jawaban "benar", pemikiran lateral bergerak ke samping untuk merestrukturisasi pola berpikir.

Kali ini, kita berangkat dari sebuah konsep yang “agak lain” yang diharapkan menghasilkan solusi yang lebih holistik. Saya menyebutnya "Konservasi Divergen". Marilah kita sepakati dulu pemahaman mengenai istilah ini. Mengenai kata konservasi tentu sudah familiar dengan keseharian kita, artinya pelestarian, perlindungan, atau pengelolaan secara lestari. Dalam tulisan ini, konteksnya adalah pada sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sementara kata "divergen" artinya keadaan menyebar atau menghasilkan cabang-cabang. 

Sebentar, sebelum kita lanjut, rasanya ada yang mengganjal. Jika saya mengusulkan Konservasi Divergen, apakah artinya ada “Konservasi Konvergen” (merujuk lawan kata divergen)? Sebenarnya sih tidak ada istilah baku "Konservasi Konvergen". Istilah-istilah itu hanya analogi yang saya buat sendiri. Pahami juga bahwa saya tidak melakukan dikotomi. Divergen-konvergen bukan dua pilihan jalan yang saling berlawanan sehingga kita harus memilih salah satu. 

Saya merasa bahwa upaya-upaya konservasi yang selama ini kita lakukan cenderung bersifat konvergen (meskipun perlu kehati-hatian menggunakan istilah ini karena bisa menimbulkan kerancuan). Ciri-cirinya: cenderung linear dari sisi keilmuan, fokus pada masalah tunggal, mencari satu atau sedikit pilihan solusi, cenderung melihat segala sesuatu dari kacamata anthroposentrisme, ketergantungan pada birokrasi, dan elitis (hanya oleh segelintir kalangan). Sebagai tawaran baru, paradigma Konservasi Divergen datang dengan tidak hanya fokus pada masalah maupun solusi tunggal, menggunakan pendekatan lintas disiplin ilmu, sifatnya ekosentris, demokratis, dan inklusif. 

Konservasi Divergen selanjutnya bisa dipahami sebagai bentuk konservasi yang berani keluar dari jalur biasa. Kita membuat jalur-jalur baru yang menyebar dan bercabang cabang, persis seperti mode berpikir lateral yang sedang kita pakai. Keberanian bercabang ini dimulai dari cara memandang dan mengurai permasalahan yang menyeluruh–dari berbagai sudut, menghasilkan banyak ide solusi, hingga ke penemuan metode pendekatan maupun aksi pemecahannya. Memetakan permasalahan sampai ke akar-akarnya menjadi kunci penting. Juga mencari solusi dan metode pendekatan yang out of the box. Ringkasnya, karakter divergen dalam bidang konservasi dilekatkan pada paradigma (cara pandang), metode pemetaan masalah, dan strategi pendekatan atau pemecahan masalah.

Prinsip dan Strategi

Untuk mencapai cara pandang, solusi, dan pendekatan divergen sebagaimana saya maksud dalam pemikiran Konservasi Divergen di atas, saya mencoba merangkum beberapa strategi untuk membangun gagasan tersebut. Beberapa contoh kasus juga saya sisipkan.

Pertama, mengarusutamakan paradigma "holistik-sistemik". Sosok fisikawan sekaligus filsuf lingkungan Fritjof Capra sangat mempengaruhi pemikiran ini. Ia menganjurkan sesuatu yang disebutnya “ekoliterasi” sebagai pegangan hidup manusia. Sederhananya ialah pemahaman kita yang mendalam mengenai apa dan bagaimana alam bekerja. Ada beberapa asas dalam ekoliterasi: interdependensi, keragaman, daur ulang, kemitraan, dan fleksibilitas.

Asas utama ekosistem adalah interdependensi. Ekosistem disusun oleh komponen abiotik seperti tanah, air, udara, dan banyak sekali makhluk hidup sebagai komponen biotik. Setiap komponen saling berinteraksi satu sama lain menciptakan koneksi yang sedemikian rumit. Keragaman menjadi karakter utama pada ekosistem. Untuk menjaga kesehatan ekosistem, kita mesti menjaga keragaman di dalamnya. Satu komponen rusak mengakibatkan efek domino yang bisa jadi tidak akan sanggup dikalkulasi.

Asas lain yang ada di alam adalah daur ulang. Energi utama yang menggerakkan kehidupan berasal dari matahari. Setiap makhluk hidup memiliki sistem yang otonom, menyerap energi sekaligus mengalirkan sisa energi ini ke makhluk lainnya. Istilahnya "autopoiesis-dissipatif", gabungan dari sumbangan pemikiran Humberto Maturana, Fransisco Varella dan Ilya Prigogine. Dengan memahami prinsip daur ulang, kita menemukan ada semacam kerja sama atau kemitraan antar-komponen alam itu sendiri. 

Alam memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan dan kondisi dalam perkembangannya. Namun, di era anthroposen ini, perubahan besar pada bumi termasuk kepunahan masal keenam dipercaya merupakan dampak dari dominasi manusia. Sebagai entitas berkesadaran yang menjadi bagian dari ekosistem, manusia perlu memahami dan menyesuaikan diri terhadap prinsip-prinsip di atas. Jangan justru melepaskan diri, menjadikan kita terisolir dari ekosistem itu sendiri. Kita tidak bisa keluar dari batas fleksibilitas ekosistem.

Capra mengusulkan "systems thinking", bisa kita terjemahkan pemikiran sistemik, sebagai kerangka untuk memahami koneksi antar-bagian, dan melihat interaksi seperti jaring-jaring. Pemikiran sistemik ini menjadi syarat mutlak bagi Konservasi Divergen. Dengannya, kita bisa menemukan jauh lebih banyak kemungkinan. 

Contoh kasus: dalam melihat ancaman terhadap burung, alih-alih melihat senapan sebagai ancaman tunggal yang terisolasi, kita menelusuri pola yang membentuknya: dari tekanan ekonomi dan struktur sosial, hingga kondisi psikologi-neurobiologis sang pemburu. Cara pandang sistemik inilah yang kemudian memicu lahirnya solusi-solusi divergen—tindakan yang sekilas tampak tidak berkorelasi, namun sebenarnya menyentuh akar permasalahan.

Potret hutan tropis di Bukit Barisan, contoh ekosistem yang sangat kompleks.

Kedua, demokratisasi konservasi
. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan partisipasi semua pihak. Kita perlu membuka ruang seluas-luasnya untuk semua kalangan memberi kontribusi, termasuk dan terutama masyarakat. Ada istilah-istilah seperti community based conservation hingga community led conservation. Konsep-konsep itu bisa digunakan, pada intinya adalah partisipasi dari sebanyak mungkin anggota komunitas suatu masyarakat. Tidak perlu memperdebatkan konsep mana yang terbaik, tetapi lebih kepada bagaimana mengoptimalkannya pada suatu komunitas masyarakat. Setiap masyarakat memiliki karakter dan kondisi sosial budaya yang berbeda-beda sehingga kita tidak bisa memaksakan suatu konsep tertentu pada suatu masyarakat tertentu. 

Beberapa kata kunci penting yang bisa dijadikan pegangan dalam membangun prinsip partisipatif antara lain: inklusif, adil, persuasif. Gerakan konservasi mesti terbuka bagi siapa saja (lintas gender, jabatan, kelompok usia), sifatnya menjaring aspirasi dari bawah alias bottom-up, memberikan manfaat yang adil bagi para pelakunya, dan secara persuasif mengajak keterlibatan sebanyak mungkin anggota masyarakat.

Dalam Konservasi Divergen, kita tidak mencari solusi yang terlihat paling logis, tapi mencari titik ungkit (leverage) yang paling kecil tekanannya tetapi paling besar dampaknya bagi seluruh sistem. Saya pikir, masyarakat dalam hal ini adalah titik ungkit paling ideal. Ketika konservasi lahir dari kehendak komunitas, ia tidak lagi bergantung pada pendanaan eksternal atau instruksi birokrasi, melainkan menjadi bagian dari mekanisme organik dan identitas kolektif.

Tak bisa dimungkiri bahwa banyak permasalahan lingkungan hidup bersifat global, seperti perubahan iklim, deforestasi, dan kepunahan massal. Namun, cara-cara penanganannya bisa dimulai dari skala kecil-kecil. Setiap wilayah punya potensi dan tantangannya masing-masing. Oleh karena itu, gerakan konservasi juga perlu disesuikan dengan konteks lokal. Batasannya bisa sangat variatif. Bisa berbasis ekoregional, bioregional, skala lansekap, atau bahkan pada lingkup administratif yang sangat kecil, misalnya desa. Di sini, kita menemukan bahwa melalui demokratisasi, memungkinkan terjadinya desentralisasi konservasi. Kita tidak lagi tergantung pada intruksi dan kebijakan dari pusat.

Di Indonesia, kalau kita mengacu pada Undang-Undang Desa, ada kewenangan yang cukup besar bagi desa dalam pengelolaan sumber daya alam yang dimilikinya. Maka gerakan-gerakan konservasi berbasis desa atau komunitas-komunitas di dalamnya menjadi peluang besar ke depannya. Desa Ramah Burung yang diinisiasi masyarakat Desa Jatimulyo bisa menjadi contoh bagaimana konservasi keanekaragaman hayati bisa dijalankan oleh masyarakat desa.

Desa Ramah Burung Jatimulyo di Kulonprogo, contoh keberhasilan konsevasi berbasis masyarakat desa.

Ketiga, menggunakan pendekatan interdisipliner. Manusia bisa membangun peradaban bukan karena secara individual kelewat cerdas, atau tubuhnya kuat, ataupun lebih adaptif dibanding spesies lainnya. Namun, semata karena kita memiliki kemampuan bekerjasama dalam jumlah sangat besar. Kecerdasan kolektif sebagai kekuatan pengikatnya. Maka dengan logika yang sama, kesuksesan sebuah gerakan konservasi juga kemampuan membangun kerjasama. 

Gerakan konservasi tidak bisa menggantungkan peran satu atau beberapa pihak saja, tetapi membutuhkan peran serta banyak pihak yang saling bekerja sama dan saling mendukung. Multi-pihak dan lintas disiplin. Pihak-pihak itu meliputi: pemerintah, akademisi, lembaga non-pemerintah, swasta, hingga masyarakat luas. Begitu pula dengan disiplin ilmu yang dibutuhkan juga beragam, antara lain: biologi, ekonomi, sosial-budaya, politik, hingga ilmu-ilmu terapan seperti kehutanan, bioteknologi, dan lain sebagainya.

Gambaran sederhana pola kerjasama antar-disiplin ilmu sekaligus prinsip partisipatif, misalnya sebagai berikut: ahli biologi konservasi melakukan monitoring dinamika populasi suatu spesies terancam punah dan merencanakan aksi konservasinya. Ahli ekonomi melakukan kajian mengenai aktivitas masyarakat yang berisiko terhadap lingkungan, dan mencari alternatif ekonomi lestari. Ahli ilmu sosial mempelajari struktur sosial masyarakat dan membantu mereka mengorganisir diri. Seniman dilibatkan untuk membuat karya seni dalam rangka memasyarakatkan program-program konservasi. 

Masyarakat sendiri dengan pengetahuan lokal terlibat aktif dalam aksi-aksi konservasi misalnya melakukan patroli, dan mengembangkan skema ekonomi berkelanjutan seperti ekowisata. Lembaga-lembaga non-pemerintah membantu peningkatan kapasitas dan mencari jejaring pemasaran.

Maaf kalau saya terlalu reduksionistik, tetapi saya khawatir bahwa terlalu menggunakan logika intelektual tanpa diimbangi aspek emosional seperti empati, berisiko membawa kita pada pandangan konservasi yang semata-mata anthroposentris. Konservasi yang hanya berujung pada kepentingan manusianya. Tidak salah dengan itu, tapi manusia cenderung punya keinginan yang berubah-ubah dari waktu ke waktu. Hal itu bisa jadi masalah. Keinginan yang berubah membawa konsekuensi pada perilaku yang berubah pula. Seringkali perubahan itu tidak kita sadari hingga dampaknya bisa dirasakan. Otak kita tidak didesain untuk secara alami berpikir jauh ke depan.

Lagipula, sains terbaru mengungkap bahwa sebagian besar hidup kita tidak dikontrol oleh intelektualitas ataupun rasionalitas, tetapi lebih dominan oleh emosi dan proses otomatis. Ini cara kita menghemat energi otak. Saat kita selesai membuka permen dan memasukkan permennya ke mulut, kita tidak lalu melakukan proses mental seperti ini: plastik kemasan permen ini saya buang ke mana ya, kalau saya buang di sembarang tempat mungkin dia akan mencemari tanah atau air dengan mikroplastik, atau menyumbat aliran selokan. Yang terjadi adalah: kita memperlakukan bungkus permen itu kurang lebih sama seperti cara sebelumnya, sebelumnya lagi, dan sebelumnya lagi. Ini adalah proses otomatis, semacam sistem autopilot. 

Kita bisa membaca banyak himbauan tentang “membuang sampah pada tempatnya”. Sejak kecil, kita juga tahu risiko membuang sampah sembarangan. Namun sebagai komunitas, bangsa kita tampaknya kurang melatih perilaku ini melalui pembiasaan. Melatih mode autopilot tadi. Sekali lagi, bukan karena kita tidak bisa berpikir, tetapi karena mode yang dilatih tidak tepat sasaran. Kita terlalu fokus pada otak rasional (neokorteks), malah lupa bahwa perilaku kita dominan dikontrol otak emosi (sistem limbik).

Kabar baiknya, kecerdasan emosi adalah tipe kecerdasan yang bisa dilatih. Otak memiliki kemampuan beradaptasi melalui prinsip “neuroplastisitas”. Tawarannya adalah mengembangkan gerakan konservasi yang menyentuh sisi kecerdasan emosional. Melatih perilaku berkelanjutan, seperti cara kita memperlakukan sampah tadi, dengan memprogram otak lalu mengaktifkan mode autopilot. Hal ini efektif jika dilakukan sejak kecil, saat fase perkembangan otak sedang dalam performa tertingginya. Orang dewasa pun bisa melatihnya, meskipun akan butuh upaya mental yang lebih besar.

Selain otomatisasi perilaku, melatih empati barangkali bisa menjadi taktik mengubah cara pandang dan perilaku kita terhadap satwa liar. Membayangkan kesedihan seekor burung yang kehilangan anaknya karena diambil pemburu melatih diri kita untuk tidak sembarangan membunuh atau mengusik makhluk lain. Empati menjadi kunci penting untuk membuka wacana ekosentrisme, bahwa setiap kehidupan punya nilai intrinsik yang wajib kita hormati.

Tari Jingkrak Sundang karya seniman Sujono Keron untuk membangkitkan empati terhadap satwa. (Dok PPM Mendolo)

Kreativitas juga termasuk dalam kecerdasan emosional. Kerja-kerja kreatif dalam mengurai permasalahan-permasalahan lingkungan maupun keanekaragaman hayati yang semakin hari semakin pelik perlu terus dikembangkan. Banyak bidang bisa menjadi ladang garapannya, sebut saja: seni, pendidikan, jurnalistik, dan teknologi. Di Mendolo, seni pertunjukan diperkenalkan sebagai pendekatan untuk membangkitkan empati masyarakat.

Sebagaimana kita diskusikan di atas, prinsip interdisipliner pada Konservasi Divergen berimplikasi pada penemuan koneksi-koneksi baru berbagai disiplin ilmu. Misalnya, temuan-temuan neurosains modern menurut saya sangat relevan dalam membangun pola-pola hidup berkelanjutan, mulai dari pengambilan keputusan dalam memilih produk ramah lingkungan, hingga mengembangkan sikap empati terhadap makhluk hidup lain seperti contoh di atas. Kita bisa menyebutnya “neuro-konservasi”.

Bagaimana selanjutnya?

Saya sudah memaparkan gagasan Konservasi Divergen berikut prinsip dan strategi untuk membangunnya. Lah, mengapa menjadi sangat rumit begini? Mengapa tidak berpikir yang sederhana saja? Begini: dalam banyak kasus, upaya menyederhanakan masalah justru merupakan bentuk pengabaian terhadap realitas. Jika kita bertumpu pada dasar argumen yang kuat–tak terbantahkan, kita akan menemukan bahwa kompleksitas bukanlah beban, melainkan syarat mutlak bagi kehidupan. Kita coba pakai argumen fisika yang telah mapan secara validitas.

Hukum Termodinamika Kedua menyatakan bahwa dalam sistem yang terisolasi, entropi–ukuran ketidak-teraturan, akan selalu meningkat. Itulah mengapa buah membusuk dan kopi panas mendingin. Karena entropi ini pula kita merasakan waktu bergerak maju. Alam semesta secara alami bergerak menuju kematian termal (death heat) triliunan tahun ke depan.

Namun, kehidupan adalah anomali yang luar biasa di alam semesta kita. Kehidupan adalah sistem yang bekerja keras melawan entropi. Istilahnya “negentropi”. Ia menciptakan keteraturan dan menurunkan entropi lokal dengan cara membangun kompleksitas. Untuk mempertahankan kompleksitas tersebut, sistem kehidupan harus memproses energi secara terus-menerus. Mengingat kembali ke gagasan Ilya Prigogine, kehidupan bersifat disipatif: ia menyerap energi, mengolahnya dalam struktur yang rumit, lalu meneruskannya.

Kesederhanaan yang statis sebenarnya hanya milik benda mati. Batu, air, atau logam itu sederhana karena mereka tidak perlu aktif melawan entropi. Kita bisa melihat ini melalui densitas aliran energi (jumlah energi yang mengalir per satuan massa dan waktu). Satu sel tunggal memiliki densitas energi yang jauh lebih besar daripada benda mati alami mana pun di alam semesta. Semakin cerdas dan kompleks suatu makhluk–terutama manusia dengan peradabannya, semakin tinggi pula densitas energi dan kompleksitas yang ia butuhkan untuk bertahan.

Oleh karena itu, memaksakan solusi yang "terlalu menyederhanakan" atau dengan kata lain reduksionisme untuk masalah-masalah kehidupan, adalah tindakan yang melawan kodrat biologi kita sebagai entitas yang melawan entropi. Demikian pula dalam konservasi. Kita tidak bisa memecahkan masalah sistemik dengan cara pandang benda mati. Jika kita ingin mempertahankan kehidupan agar tidak runtuh, kita tidak boleh melarikan diri ke dalam penyederhanaan yang semu. Kita harus berani merangkul kompleksitas.

Hari ini, perkembangan teknologi sedemikian cepat dan membuka era baru. Menurut sejarawan Yuval Noah Harari, kecerdasan buatan (AI) merupakan lompatan besar sejarah umat manusia. Untuk pertama kalinya, kecerdasan berpisah dari kesadaran. Hal ini membawa kekhawatiran mengenai dampak yang akan kita hadapi di masa depan. Apakah ada dampak buruk, termasuk terhadap biosfer kita ini ini? Kita tidak bisa memprediksi masa depan. Namun, kita masih bisa mengupayakan yang terbaik. 

Pandangan yang pesimis mungkin membawa kita pada kecemasan. Konservasi Divergen mesti membawa sikap optimis, termasuk dalam menggunakan sains dan teknologi mutakhir seperti AI yang membawa kekhawatiran tadi. Poin yang ingin saya sampaikan adalah: kompleksitas mungkin tidak cukup kita proses secara organik dengan otak kita. AI bisa dihadirkan untuk itu. Memproses data skala besar, atau membuat prediksi-prediksi. Namun, keputusan tetap ada di tangan si manusia bijak, Homo sapiens. Oh ya, dalam merumuskan tulisan ini pun, saya banyak terbantu dengan AI.

Saya tutup opini ini, tentu saja masih sangat dangkal dan barangkali masih sangat utopis. Sisi lemah konservasi divergen sendiri belum digali. Ah, setidaknya kita telah menyadari bahwa kerumitannya membuat tidak implementatif. Kita tetap membutuhkan konvergensi dalam konservasi. Pada praktiknya, konvergen dan divergen adalah dua pendekatan yang perlu dikombinasikan, saling menguatkan. 

Saya ingin mengajak kita semua untuk menjadi “ambidekstrus” dalam konservasi. Kita gunakan analogi lateralisasi tangan yang terhubung langsung dengan kedua belahan otak kita. Dalam konservasi, kita tidak bisa hanya mengandalkan tangan kanan yang terkesan kaku—yang fokus pada angka, regulasi, dan solusi linear. Namun, kita juga tidak bisa hanya menggunakan tangan kiri yang terus-menerus meraba banyak kemungkinan tanpa melakukan tindakan nyata. Dengan kompleksitas masalah yang terus meningkat, kita membutuhkan gerakan tangkas kedua tangan sekaligus. Tangan kiri yang berani mengurai kompleksitas dan kerumitan, berdampingan dengan tangan kanan yang mengeksekusi langkah-langkah strategis dan taktis.


Diperbaharui pada Februari 2026
-SH

You Might Also Like

0 comments