Rekening di sudut dapur
June 14, 2026Di Sawangan Ronggo, gula aren tidak hanya komoditas biasa melainkan tabungan dan investasi. Mayoritas warga di salah satu dusun yang terse...
Di Sawangan Ronggo, gula aren tidak hanya komoditas biasa melainkan tabungan dan investasi. Mayoritas warga di salah satu dusun yang terselip di kedalaman hutan tropis Pulau Jawa mengolah nira aren menjadi gula merah. Produksi gula menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat, di samping aneka komoditas lain seperti kopi, kapulaga, dan durian. Hanya saja, akses pasar menjadi rintangan paling berat akibat jalan yang tidak memadai.
Dusun yang terdiri dari sekitar 60 KK ini termasuk wilayah administratif Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Untuk mencapai pasar terdekat, warga harus menempuh jarak kurang lebih 30 kilometer melintasi jalan sempit yang meliuk-liuk melintasi lembah-lembah curam dan memotong bukit-bukit terjal. Diperparah dengan aspal yang mengelupas di sana-sini, waktu tempuhnya bisa mencapai dua jam.
Kondisi jalan bukan satu-satunya hambatan. Harga gula merah cetak di tingkat petani cenderung fluktuatif. Disparitas harga tertinggi dan terendah bisa mencapai sepuluh ribu rupiah, dengan harga rata-rata kisaran Rp. 20.000,- per kilo. Artinya, harga bisa turun ke level Rp 15.000,- dan naik hingga Rp. 25.000,-. Kenaikan tajam biasanya terjadi di bulan suci Ramadhan saat permintaan sedang tinggi-tingginya.
Dua tantangan besar itu tidak membuat warga Sawangan menyerah. Akses jalan yang tidak mudah dan fluktuasi harga justru memunculkan adaptasi unik. Alih-alih langsung mencetak seluruh nira menjadi gula merah padat, petani menyimpannya dalam bentuk gula cair. Setelah dimasak hingga kadar airnya turun, cairan kental berwarna cokelat tua itu ditampung dalam drum atau gentong.
Di sudut dapur rumah para warga, stok gula cair diawetkan oleh dirinya sendiri. Kandungan gula yang tinggi dan kadar air rendah menciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi sebagian besar mikroorganisme. Dapur dengan tungku kayu yang menyala setiap hari mungkin turut menciptakan kondisi yang mendukung. Simpanan ini dapat bertahan berbulan-bulan tanpa mengalami penurunan kualitas yang berarti.
Pola adaptasi ini sudah dilakukan turun-temurun. Hal ini tampak dari akumulasi pengetahuan para petani. Mereka bisa menjelaskan secara rinci setiap proses yang dijalankan, karakteristik nira yang bisa disimpan lama, hingga pemahaman mengenai pengaruh musim terhadap daya simpan. Para pemuda belajar langsung dari generasi orang tuanya melalui praktik sehari-hari.
Lalu kapan gula cair kembali dimasak dan dicetak menjadi gula merah padat untuk dipasarkan? Ketika ada kebutuhan uang yang mendesak, misalnya ada anggota keluarga yang sakit, hendak menghelat hajatan, atau kebutuhan mendadak lainnya. Dalam situasi seperti itu, drum-drum gula cair berfungsi layaknya rekening tabungan.
Di sisi lain, praktik ini justru memberi keleluasaan bagi petani untuk menentukan waktu penjualan agar mendapat momentum terbaik. Ketika harga sedang turun, stok dapat disimpan lebih lama. Sebaliknya, saat permintaan meningkat dan harga membaik, stok diolah untuk dilepas. Bagi petani, gula cair menjadi instrumen investasi spekulatif serupa saham, emas, atau bitcoin. Di titik ini kita mendapat pelajaran menarik: timing the market bukan eksklusif milik orang kota.
Keterbatasan akses pasar dan fluktuasi harga—double combo tantangan ekonomi perdesaan tidak melulu berarti akar keputusasaan. Di tangan masyarakat Sawangan, tantangan itu justru melahirkan peluang dan resiliensi ekonomi. Jika drum-drum gula cair adalah tabungan yang terlihat, maka pengetahuan untuk mengelolanya adalah aset tak kasatmata yang jauh lebih berharga.





