Dekonstruksi "Pangan Berakar" Melalui Koro Benguk
September 21, 2026Cerita menarik di Jatimulyo tidak hanya tentang burung-burung liar yang hidup bebas di alam melalui skema Desa Ramah Burung . Gerakan pelest...
Situasi itu memunculkan pertanyaan: adakah kemasan makanan dari dedaunan yang lazim digunakan pada masa lampau? Muncul lah nama “dekon”, bungkus makan—khususnya nasi—yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Dekon biasanya digunakan untuk bungkus nasi berkat pada acara kenduri. Ukurannya cukup besar karena digunakan untuk mengemas makanan bagi satu keluarga. Bagian dalam dekon dilapisi daun jati. Nasi yang menempel pada daun jati warnanya berubah merah dan menghasilkan aroma yang menggugah selera makan.
Kemasan yang ramah lingkungan dan bisa jadi memiliki sejarah panjang, tetapi telah lama ditinggalkan. Itulah nasib dekon. Beruntung, generasi tua masih menyimpan memori kolektif tentangnya. Melalui skema ekowisata, dekon kembali dihidupkan. Dengan sedikit penyesuaian: ukurannya diperkecil dan disesuaikan untuk bungkus makan satu orang. Sejak pertama kali digunakan pada program wisata, dekon langsung diapresiasi oleh para tamu. Ia dipandang unik, mengandung nilai historis, dan tentu saja ramah lingkungan.
Dari dekon ke lembar inovasi selanjutnya
Jika dekon telah menyelesaikan sebuah permasalahan teknis mendasar sekaligus membuka kesadaran baru, pertanyaan selanjutnya adalah: apakah melalui replikasi metaforis yang sama, kita bisa menyambungkan berbagai simpul pengetahuan lain yang selama ini terisolasi? Di sini, dekon menjadi alat pemantik dekonstruksi pikiran. Jadi, ketika cara berpikir dekon—merevitalisasi kembali kearifan masa lalu untuk memecahkan krisis masa kini—diterapkan secara meluas, ia bisa memicu ledakan koneksi informasi di masyarakat yang pada akhirnya membangun dinamika.
Berangkat dari cara berpikir itu, saya menemukan kembali kandidat yang bisa didorong menjadi terobosan baru bagi Jatimulyo: benguk. Bagi masyarakat Kulon Progo, benguk masih cukup familiar hingga hari ini. Benguk adalah jenis polong-polongan dengan nama latin Mucuna pruriens dari Suku Fabaceae. Di Kulon Progo, benguk atau koro benguk ini biasa diolah menjadi tempe yang lazim mendampingi kuliner khas gĕblèk. Tempe benguk umumnya dimasak menjadi baceman, sengek, atau digoreng.
Di lingkungan Gunungkelir sebagai pusat kegiatan ekowisata yang dijalankan KTH Wanapaksi, benguk masih bisa dijumpai di kebun-kebun. Ia ditanam dan sebagian besar dimanfaatkan secara subsisten oleh masyarakat. Hanya saja, kalangannya semakin terbatas pada kelompok yang kini telah memasuki masa lansia. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tanaman pangan yang punya nilai historis di Kulon Progo ini bisa semakin hilang ke depannya.
Bagi masyarakat Gunungkelir, terutama yang tergabung dalam Wanapaksi, benguk bisa menjadi titik ungkit (leverage) baru dalam pengembangan ekowisata maupun, lebih luas lagi, skema konservasi berbasis pangan lokal. Benguk tidak sekadar komoditas pangan lokal. Ia adalah jangkar kedaulatan pangan sekaligus berpotensi menjadi agen konservasi sistemik melalui gerakan politik pangan yang sistematis.
Pada konteks ekowisata, benguk membawa nilai historis yang kuat yang bisa memberikan pengalaman istimewa bagi para tamu. Benguk bisa dipromosikan menjadi sajian pengganti bagi tempe kedelai yang saat ini lebih umum digunakan. Dibandingkan dengan kedelai yang tidak ditanam langsung oleh masyarakat—bahkan seringkali harus diimpor dari luar, benguk menawarkan pangan yang “berakar”. Ia dibudidayakan, diolah, dan dikonsumsi sendiri oleh masyarakat. Kita bisa memastikan bahwa setiap prosesnya dijalankan dengan bertanggungjawab, baik secara lingkungan maupun sosial.
Karena berakar lokal, kita dapat mengasumsikan bahwa benguk lebih ramah lingkungan. Jejak karbonnya jauh lebih kecil ketimbang pangan yang diangkut dari tempat yang jauh, apalagi diimpor. Isu mengenai jejak karbon ini sangat sejalan dengan semangat konservasi maupun nilai-nilai yang dipegang dalam ekowisata. Saya tidak memahami situasinya secara pasti, tetapi berita mengenai kedelai yang sebagiannya secara genetik telah dimodifikasi (GMO) semakin memperkuat kebutuhan bahan lokal pengganti.
Membangun ekonomi sirkuler berbasis wanatani
Kita bisa memulainya dari lingkungan paling dekat. Kebutuhan akan tempe di komunitas Wanapaksi sendiri cukup besar. Analog dengan dekon yang menggantikan kertas minyak dan kardus makan sebagai kemasan, tempe benguk harus menggantikan tempe kedelai dalam penyediaan kuliner bagi tamu dan pengunjung. Ini bukan sesuatu yang rumit, melainkan hanya soal memulai sebuah kebiasaan baru.
Jika kebiasaan ini mulai terbentuk, kebutuhan akan benguk otomatis meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan bagi tamu-tamu wisata saja, saat ini tidak akan cukup dipenuhi hanya dari produksi lokal yang tersedia. Untuk itu, diperlukan skema khusus dengan mendorong budidaya yang lebih serius kepada para anggota maupun warga masyarakat sekitar—kelompok perlu mendesain rantai pasoknya. Skema ini tidak berhenti pada peningkatan produksi saja, tetapi juga menumbuhkan ekonomi sirkuler di tingkat lokal. Petani menghasilkan produk bahan mentah, kelompok membeli dan mengolah, dan adanya wisata membuka pasar yang relatif lebih stabil. Struktur ini menghasilkan rantai pasok yang jelas dan mudah dirunut kembali. Semua elemen yang terlibat bukan hanya mendapat manfaat ekonomi langsung, melainkan juga nilai tambah.
Benguk tumbuh merambat sehingga bisa ditanam dengan memanfaatkan pohon-pohon yang sudah ada sebagai rambatannya. Metode tanamnya relatif sederhana, tetapi justru sangat selaras dengan konsep wanatani yang telah turun-temurun dijalankan oleh para petani di Jatimulyo. Tanaman benguk tidak hanya berpotensi menjadi komoditas tambahan, tetapi juga turut menambah kompleksitas hutan rakyat itu sendiri.
Membangun mata rantai inovasi
Ketika wisata berhasil diubah menjadi pasar yang nyata, kita tidak perlu terlalu mencemaskan serapan hasil panen. Yang perlu dilakukan hanya menggunakan prinsip substitusi, persis seperti saat dekon diperkenalkan sebagai pengganti kemasan pabrikan, beberapa tahun lalu. Kebutuhan untuk sajian bagi tamu wisata bisa menjadi pasar utama, karenanya semua menu berbasis tempe yang disajikan kepada para tamu mesti terbuat dari benguk. Yang tak kalah penting adalah bahwa transisi ini juga mesti diimbangi dengan narasi besar mengenai pangan berakar dan ekonomi sirkuler yang terus dilekatkan kepadanya.
Pertumbuhan wisata belum tentu linear dengan produksi komoditas benguk yang dihasilkan kalau asumsinya minat masyarakat untuk menanamnya jadi meningkat tajam. Untuk itu, skenario yang lebih panjang menjadi keniscayaan. Jika suatu saat stok yang dihasilkan oleh anggota maupun masyarakat di lingkup Gunungkelir melebihi kebutuhan utama, kita masih bisa berinovasi lagi untuk melahirkan produk turunan lain seperti kecap, canguk (kacang benguk goreng), atau produk lain yang bahkan belum terpikirkan saat ini.
Saat kita tidak memandang benguk sebagai komoditas fisik semata, peluang lain bisa datang menyertainya. Peluang itu muncul dari potensi wisata imersif. Pengetahuan mengenai aspek sejarah, teknis budidaya, metode pengolahan, maupun budaya gastronomi yang dibangun dari koro benguk bisa ditawarkan sebagai bentuk wisata yang memberikan pengalaman langsung bagi para wisatawan. Pengetahuan tradisional dalam proses perebusan, perendaman selama beberapa hari, pencucian, dan fermentasi benguk justru bisa dikemas apik menjadi materi utama wisata edukasi.
Dekon yang berhasil bangkit kembali dari tidur panjangnya bisa menjadi inspirasi bagi kebangkitan tradisi lokal yang lebih luas. Kebangkitan itu bisa muncul dari kebutuhan intrinsik untuk terus berinovasi. Di titik ini kita menyadari bahwa inovasi tidak melulu lahir sebagai sesuatu yang benar-benar baru, tetapi juga bisa melalui pergeseran cara pandang dan proses pembiasaan yang terencana.
