Monday, December 21, 2015

Karst Maros-Pangkep itu...



 Stone garden di Pangkep (Dok. Sidiq Harjanto)

Saya sengaja menulis judul tulisan ini dengan kalimat menggantung. Jujur saya tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan kawasan tower karst di Kabupaten Maros dan Pangkep di Provinsi Sulawesi Selatan ini. Tempat ini adalah secuil surga yang ada di bumi ini. Indah, penuh dengan keunikan dan potensi yang terkadung di dalamnya. Terlalu kaya untuk didefinisikan.

Karst di Maros-Pangkep terbentuk pada Formasi Tonasa, formasi gamping yang termasuk dalam kategori tua. Sejauh itu yang saya ketahui, dan saya tidak berani bercerita banyak karena keterbatasan pengetahuan saya. Sejak masa-masa kuliah, dulu sekali, saya sering mendengar cerita atau membaca informasi mengenai kawasan yang diklaim sebagai salah satu kawasan karst terindah di Indonesia ini, atau bahkan sejajar dengan kawasan-kawasan karst indah di dunia. Sejak saat itu pula saya bemimpi untuk mengunjunginya.

Akhir tahun ini mimpi itu terwujud. Saya telah menginjakkan kaki di kawasan karst yang menjadi salah satu kebanggaan Indonesia, menikmati keindahan karst di Maros-Pangkep dari dekat. Kawasan dengan luas lebih dari 40.000 ha ini sebagian merupakan kawasan konservasi di bawah pengelolaan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Tower-tower yang terbentuk dari pelarutan batuan gamping itu nampak kokoh, tinggi menjulang, dan di bawahnya mengalir sungai-sungai besar yang keluar melalui gua-gua. Di tepiannya cukup mudah menemukan batu-batu yang bermunculan dari dalam bumi, yang membentuk panorama mengagumkan. Orang-orang menyebutnya stone garden.


Laba-laba buta dari Pangkep (Dok. Sidiq Harjanto)


Kawasan karst Maros-Pangkep kaya akan potensi keanekaragaman hayati. Gua-guanya dihuni oleh jenis-jenis biota khas gua (troglobion). Salah satu yang menarik buat saya pribadi adalah laba-laba butanya. Di tempat inilah laba-laba yang sudah berevolusi menjadi biota asli gua bisa dengan mudah dijumpai. Salah satu jenis yang telah dikenal dalam ilmu pengetahuan adalah Speocera caeca. Jenis laba-laba ini memiliki tubuh berwarna pucat karena adanya depigmentasi dan benar-benar telah kehilangan organ mata alias buta.

Selain kekayaan biotanya, kawasan ini juga terkenal dengan gua-gua situs prasejarah. Jejak-jejak manusia purba ditandai dengan banyaknya temuan gambar cadas pada dinding-dinding gua, bekas dapur, dan perkakas-perkakas yang digunakan pada jaman dahulu. Salah satu temuan gambar cadas dari kawasan ini bahkan konon teridentifikasi sebagai yang tertua di dunia.

Kawasan karst memiliki peran penting bagi kehidupan manusia, misalnya dalam hal penyediaan air. Karst menyimpan air dan mengalirkannya melalui sistem sungai bawah tanah yang keluar menjadi mata air. Gua-gua di karst juga menjadi rumah bagi jutaan kelelawar yang menjadi pengontrol serangga, menjadi pengganti pestisida yang tidak perlu membeli, dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Di Maros, jutaan kelelawar yang keluar dari gua saat menjelang malam di Ramang-Ramang menjadi destinasi wisata yang potensial untuk dikembangkan.

Dengan potensi dan nilai penting yang dimilikinya, maka sudah selayaknya kawasan ini dilindungi dan dikelola dengan sebaik-baiknya.

Tuesday, October 27, 2015

Pendataan Karst Partisipatif

Kemarau tahun ini dirasakan cukup berat bagi warga Dusun Jonggrangan, Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Hal ini karena beberapa mata air yang menjadi tumpuan dalam mencukupi kebutuhan air mulai mengering. Menurut informasi dari masyarakat setempat, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi penurunan debit air secara signifikan. Melihat fenomena ini, beberapa pemuda berinisiatif untuk melakukan gerakan pelestarian sumber air agar sumber-sumber air tersebut bisa memenuhi kebutuhan air di masa-masa yang akan datang.

Mata air Simaling yang debitnya dilaporkan menyusut.

Dusun Jonggrangan berada di kawasan Karst Menoreh, sehingga memiliki karakteristik hidrologi yang khas. Sehingga untuk melakukan kegiatan konservasi mata air ini perlu mempertimbangkan karakteristik khas karst tersebut. Sumber air umumnya berasal dari lorong-lorong bawah tanah yang mengalirkan air dari bukit-bukit karst di atasnya. Seperti mata air Simaling yang berupa lorong goa sempit pada batuan gamping. Mata air ini adalah salah satu penyuplai air yang penting bagi masyarakat di sekitarnya. Konon debit air yang keluar dari goa ini sebelumnya jauh lebih besar dibandingkan kondisi saat ini.
 
 Menandai titik koordinat Jumbleng Sepelet menggunakan alat GPS.

Selain mata air Simaling, masih ada banyak mata air lainnya yang juga dimanfaatkan oleh warga. Untuk itu hal pertama yang perlu dilakukan adalah memetakan sebaran mata air dan menilik kondisi zona tangkapan air di atasnya. Seperti diketahui, air di karst terkumpul dari cekungan-cekungan di atasnya dan masuk melalui ponor-ponor dan goa-goa. Para pemuda di Jonggrangan ini secara partisipatif melakukan sendiri identifikasi dan inventarisasi beberapa mata air dan ponor-ponor yang ada di wilayah dusunnya. Data ini nantinya penting untuk menentukan langkah berikutnya dalam upaya pelestarian sumber-sumber air.

Sebaran mata air, goa, dan ponor di Jonggrangan. (thanks to Google)

Dari pendataan yang pertama ini setidaknya diperoleh 6 mata air dan goa berair, 1 goa vertikal, dan 2 ponor. Data ini masih sangat sedikit dan masih ada banyak mata air dan goa yang belum didata. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi para pemuda di Jonggrangan sampai diperoleh data yang menyeluruh.

Kelik 'Golenk' yang lelah saat menelusuri Goa Sitawing yang sempit dan pengap.

Banyak diskusi yang terjadi selama kegiatan pendataan ini. Salah satu yang perlu jadi perhatian ke depannya adalah penyadartahuan masyarakat tentang karst. Ketidaktahuan masyarakat mengenai karakteristik karst menjadi permasalahan sendiri, misalnya pengelolaan ponor dan goa yang keliru. Beberapa ponor dan goa justru dijadikan tempat pembuangan sampah, yang dampaknya adalah pencemaran pada mata air di bawahnya. Satu lagi pekerjaan rumah kita semua, memasyarakatkan pengetahuan karst dan mengajak masyarakat mengelola kawasan karst dengan baik.

Wednesday, October 7, 2015

Matakecil, si flagship species

Si matakecil, laba-laba kebanggaan Menoreh.

Flagship species adalah jenis biota yang dijadikan simbol konservasi suatu kawasan. Jenis semacam ini umumnya memiliki keistimewaan tertentu, misalnya karena langka, endemik, atau memiliki peran vital bagi ekosistem. Sebagai contohnya adalah komodo, karena hewan ini endemik dan bernilai ilmiah tinggi.

Konservasi memadukan pengawetan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya alam. Dengan prinsip tersebut, maka perlu penyeimbangan antara eksploitasi sumber daya alam dengan perlindungannya. Pengelolaan yang baik diharapkan akan menjamin terjaganya sumber daya alam yang ada. Pengelolaan yang baik adalah yang bisa menjamin keberlanjutan.

Laba-laba Amauropelma matakecil adalah jenis laba-laba endemik kawasan karst di Menoreh yang hanya dijumpai di 4 goa alam. Laba-laba kecil ini adalah jenis troglobion, yaitu biota yang hanya hidup di lorong-lorong bawah tanah. Hewan ini sangat tergantung pada kestabilan lingkungan dan ekosistem goa yang gelap, lembab dan memiliki komposisi udara tertentu. 

Karena hidup dalam kondisi lingkungan yang sangat stabil, maka laba-laba matakecil menjadi sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Yang dimaksud dengan perubahan kondisi lingkungan di goa misalnya penurunan kadar kelembaban, atau masuknya bahan-bahan pencemar ke dalam ekosistem. Inilah ancaman nyata bagi spesies langka dan unik di Menoreh. Perubahan lingkungan mikro bisa terjadi jika ada perubahan di atas permukaan tanah, misalnya pengurangan atau perubahan tutupan vegetasi.

Untuk melindungi A. matakecil sebagai spesies troglobion kebanggaan Menoreh, maka satu-satunya cara adalah mempertahankan kondisi lingkungan yang ada, menghindari pembukaan lahan secara berlebihan, dan mengelola sistem hidrologi karst agar tidak tercemar oleh bahan berbahaya. Salah satu kesulitan dalam mengkaji kehidupan biota troglobion adalah mustahil untuk memperoleh gambaran populasi dan distribusi yang sebenarnya. Hal ini karena banyak lorong-lorong bawah tanah yang tidak bisa diakses oleh manusia. Untuk itu harus diasumsikan bahwa kita perlu melindungi seluruh kesatuan ekosistem di suatu kawasan.

Lalu bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat matakecil dan menggantungkan hidup dari perkebunan? Melindungi satu jenis biota unik tidak berarti mematikan kehidupan masyarakat. Yang perlu dilakukan hanyalah mengedukasi masyarakat untuk tetap mengelola lahan dengan bijak, dengan terus menjaga tutupan vegetasi, dan mengelola limbah secara baik. Kita perlu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap matakecil sebagai kebanggaan Menoreh. Ayo kita jaga si matakecil!

Monday, October 5, 2015

Matakecil Project




Matakecil Project adalah sebuah upaya mengumpulkan informasi mengenai spesies laba-laba endemik Pegunungan Menoreh, Amauropelma matakecil. Seperti diketahui jenis laba-laba ini hanya dijumpai di 4 goa di kawasan karst Menoreh. Selain sebaran yang terbatas, data-data ilmiah mengenai jenis troglobion ini masih sangat sedikit. Di sisi lain, habitat alaminya terancam oleh penggunaan goa untuk kepentingan wisata.

Proyek ini dilakukan di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo dengan melibatkan unsur pemerintah desa, beberapa orang pemuda lokal, dan masyarakat umum. Capaian yang ingin diperoleh antara lain:
       1. Diperoleh gambaran habitat alami laba-laba goa, meliputi peta goa dan deskripsi lingkungan mikro di dalamnya.
  2. Adanya dokumentasi tentang sisi biologi A. matakecil.
       3. Kegiatan kampanye konservasi, dengan menjadikan jenis ini sebagai flagship species di Kawasan Karst Menoreh.

Wednesday, August 12, 2015

Potensi aren Menoreh

Gula kristal aren Menoreh

Aren (Arenga sp.) adalah jenis tanaman dari kelompok palm-palman yang biasa tumbuh di hutan atau di sempadan sungai-sungai kecil. Di Menoreh, aren tumbuh subur di tempat-tempat sulit seperti di tepian jurang, atau di lembah-lembah yang curam. Tempat ini menjadi habitat ideal bagi aren karena aman dari gangguan manusia. Tanaman aren dianggap mengganggu saat tumbuh di lahan produktif, karena daunnya yang lebat bisa menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan oleh tanaman pertanian atau perkebunan milik masyarakat. Hingga kemudian para petani lebih memilih menebang pohon-pohon aren mereka.

Aren merupakan tanaman yang sering dijadikan simbol kemanfaatan, karena hampir semua bagiannya bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia. Daun dan sabutnya bisa dijadikan bahan atap bangunan, batangnya bisa dijadikan bahan makanan, buah kolang-kaling tentu tak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat kita karena sering terhidang sebagai campuran aneka minuman. Lalu para petani juga menyadap nira aren untuk dibuat gula. Orang-orang biasa menyebutnya 'arenga palm sugar/ palm zuiker'.

Lalu mengapa orang-orang di Menoreh memilih menebang aren di kebun mereka? Apakah tanaman aren kini tidak lagi bermanfaat? Saya pikir permasalahannya hanya pada kemauan untuk menggali manfaat aren lebih dalam. Selanjutnya potensi besar tanaman aren di Kawasan Menoreh perlu digarap dengan serius. Gula aren misalnya, yang kini permintaan pasar kian meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan kebutuhan akan  bahan pemanis yang sehat. Sayangnya penyadap nira aren kian sedikit. Itupun didominasi generasi tua. Menyadap nira aren memang membutuhkan teknik yang lebih rumit ketimbang menyadap nira kelapa. Namun sebenarnya hasil dari produksi gula aren yang diperoleh akan jauh lebih besar dibanding gula kelapa. Menurut cerita masyarakat menyadap satu pohon aren untuk satu periode saja bisa seharga seekor kambing Peranakan Ettawa (jenis kambing yang banyak dibudidayakan di Menoreh). Perlu diketahui harga kambing jenis itu berkisar 2-3 juta untuk kualitas biasa.

Belum lagi hasil dari kolang-kaling dan sabut aren yang juga tak kalah menggiurkan. Manfaat ekonomis seperti di atas masih belum seberapa jika dibandingkan manfaat ekologis tanaman aren di ekosistem. Tanaman aren sangat baik bagi siklus hidrologi, karena sifatnya bisa menyimpan air dan kemudian mengalirkannya pelan-pelan. Artinya dalam skala populasi tertentu, tanaman jenis ini bisa menjaga pasokan air di suatu kawasan. Profil daunnya yang lebar juga berperan penting dalam meredam momentum air hujan, sehingga menjaga bunga tanah di bawahnya dari proses denudasi/pencucian tanah.

Saya pernah mewawancarai salah seorang penyadap aren, dan beliau menceritakan bahwa beberapa penyadap menggunakan mantera tertentu selama proses penyadapan. Saya tertarik pada aspek kearifan lokalnya, di mana dalam mantera tersebut terkandung penghargaan terhadap binatang musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus). Mengapa musang luwak? Binatang ini memang diyakini menjadi agen pemencar biji aren, menjadikan tanaman-tanaman muda yang baru. Tanaman yang tumbuh dari proses dispersal oleh musang luwak ini juga lebih bagus dibanding dari proses biasa. Menjadi ironi saat belakangan ini populasi binatang berjasa itu kian terdesak oleh perburuan. Akankah nasib aren di Menoreh akan berakhir pada kehancuran, ataukah potensinya akan kian tergali? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Friday, August 7, 2015

Merintis produksi kopi terbaik dari Jatimulyo


Bandar kopi, saya menyebut profesi baru saya. Ya, beberapa minggu terakhir saya bersama beberapa teman terbaik sering teramati keluar masuk kebun untuk berburu kopi terbaik dari Menoreh, khususnya di Desa Jatimulyo Kecamatan Girimulyo. Target kami untuk saat ini tidak muluk-muluk, sekedar mendapatkan buah kopi segar yang dipetik langsung dari kebunnya, dan mengolahnya menjadi produk kopi siap saji dengan cara terbaik. Menoreh pada jaman dahulu terkenal dengan produksi kopinya yang bagus, namun kemudian tenggelam oleh komoditas lain yang dianggap lebih menguntungkan. Apakah kopi tidak lagi menguntungkan? Inilah yang hendak kami jawab. Hingga saat ini kami masih percaya bahwa kopi masih menjadi komoditas yang seksi. Kopi adalah salah satu komoditas terbesar di dunia. Jadi kenapa kita tidak ikut bermain dalam bisnisnya?

Meskipun keyakinan yang besar akan bisnis kopi yang menggiurkan, saya dan kawan-kawan tidak mau buru-buru meluncurkan produk yang kami hasilkan. Masih banyak yang harus dipersiapkan untuk mendapatkan hasil yang terjamin baik kualitas, kuantitas, maupun kontinuitasnya. Ketika kita bicara permintaan pasar, untuk lokal Yogyakarta saja permintaan itu terus datang dan hingga saat ini belum ada penyuplai kopi yang mampu memenuhi kebutuhan itu. Kenapa bisa seperti itu? Saya melihat ada gap yang nyata di sini. Konsumen menghendaki kopi dengan kualitas terbaik. Atau sebut saja kopi premium. Tentunya produk semacam itu dihasilkan melalui proses yang tidak mudah, mulai dari penanaman hingga pemetikan buah, pengolahan buah kopi menjadi biji berkualitas, hingga proses roasting. Semuanya membutuhkan proses yang benar, ketelitian dan pengawasan yang ketat. Sementara di sisi lain, petani kopi belum mampu melakukan proses seperti itu. Di sinilah kita harus bermain, menjembatani antara konsumen dan petani.

Kami hanya bermodal hobi dan komitmen. Ya hobi mengolah kopi, karena di dalamnya kental akan seni, sekental 10 gram bubuk kopi yang diseduh dalam secangkir air panas. Kami juga ingin menjaga komitmen, karena pada saat memulai semua ini, mungkin saja para petani kopi menaruh sedikit harap. Dan tentu saja para penikmat kopi telah menagih janji untuk kopi terbaik. Salam kopi hangat!

Monday, August 3, 2015

Hutan misterius di dalam lembah terlarang

Pohon-pohon tinggi menjulang dengan gagah menyambut siapa saja yang memasuki kawasan hutan yang dianggap menyeramkan ini. Jenisnya nyaris seragam. Pepohonan khas lahan basah dengan akar-akar lutut itu tingginya mencapai 25 meter. Di bawahnya terbentang hamparan tumbuhan paku yang lebat. Sulit menembusnya. Apalagi harus menerobos lantai hutan yang terendam oleh air asin yang tingginya nyaris selutut. Beragam jenis lumut, paku, dan anggrek berhimpit-himpitan menghias pepohonan di atas muka air.

Sekarang kita berada di jantung Pulau Maratua. Ini adalah hamparan hutan rawa air asin yang berpagar tebing tinggi dan bukit2 di sekelilingnya. Tebing itu tingginya hampir seratusan meter, memanjang berkilo-kilo menjadi barier raksasa hutan di bawahnya. Di bawah tebing inilah terdapat danau-danau air asin, Danau Hajibuang dan Danau Tanabamban. Di antara dua danau ini terbentang hutan rawa yang ditakuti oleh masyarakat Maratua. Konon ada buaya di sini. Dan juga hantu. Orang-orang tak pernah datang ke tempat terlarang ini.


Hutan rawa ini mengalami pasang surut, mengikuti air laut. Ribuan udang berwarna putih kemerahan berenang mengikuti arus pasang surut. Mereka kecil, hanya seujung kuku - setelah dua tiga minggu tak dipotong-, dan kulitnya transparan. Udang-udang berenang menyelinap di antara lumut yang menyelimuti akar-akar lutut. Hanya udang dan beberapa siput di sana. Tak ada buaya.

Di dalam hutan, sebuah pertunjukan orkhestra terus bergulir. Suara desir angin berpadu nyanyian tonggoret, juga burung-burung kecil yang berkicau seakan tak pernah sekalipun terusik peradaban. Di kejauhan suara-suara burung besar bernada rendah terdengar jelas. Gelombang nada rendah yang menembus belantara, menerobos melalui sela-sela pepohonan raksasa. Inilah suara alam sejati, yang tanpa polusi. Di sinilah alam benar-benar menunjukkan jati dirinya. 


Pohon-pohon tinggi, paku-pakuan liar, udang putih kemerahan, dan orkes alam; sungguh sebuah suasana yang asing. Seperti menemukan dunia lain yang tersembunyi. Pohon-pohon yang meninggi itu mungkin berkejaran menjemput matahari. Dibatasi tebing dan bukit-bukit tinggi membuat mereka tak segera mendapat ultraviolet di pagi hari, pun segera kehilangan di sore hari. Selebihnya, hutan ini masih menyimpan sejuta misteri. Masihkah takut dengan hutan ini? Ahu, kata orang Bajau. Ya, biarkan saja hutan ini tetap menjadi rumah para hantu. Setidaknya akan membuatnya aman dari bengisnya peradaban.

*Di tulis di sebuah teluk kecil, sambil menunggu dijemput kapal.

Sunday, July 26, 2015

Dari ubur-ubur hingga monyet maratua: mereka yang terlalu cantik untuk tidak dicinta

Rahasia kehidupan liar di Pulau Maratua telah memanggil para peneliti berdatangan dari berbagai penjuru. Pulau kecil yang jauh dari daratan memang menjanjikan temuan-temuan menarik bagi mereka yang kehausan akan ilmu pengetahuan. Ubur-ubur tak menyengat (stingless jellyfish) bisa mewakili keunikan biota bawah air. Hewan ini memang tidak bisa dijumpai di sembarang tempat, di dunia kita hanya bisa melihatnya di danau air asin Kep. Derawan ini, tepatnya di Pulau Maratua dan Kakaban; dan di Palau. Mereka menjadi tidak mengembangkan organ penyengat karena hidup di lingkungan tanpa pemangsa. Ya, di danau-danau sunyi yang terlindung rerimbunan itu, mereka hidup tanpa ancaman berarti. Hingga terkadang jumlah mereka begitu banyaknya, menyerupai karpet berwarna putih atau merah jambu. Di Maratua, stingless jellyfish, berenang meliuk-liuk seolah menari di antara sponge dan bulu babi yang bisa jadi juga khas pulau ini. Sponge yang lazim hidup di lautan lepas, di sini hidup menyaring nutrisi di kanal-kanal berbentuk goa batuan kapur yang bercabang-cabang membentuk labirin.

 Burung-burung cikalang terbang di langit Maratua.

Memasuki hutan di Maratua akan memeras keringat. Begitu lembab dan panas. Saking lebatnya hutan itu. Segerombolan monyet ekor panjang menyambut kedatangan para penjelajah hutan. Inilah crab eating monkey khas Maratua, Macaca fascicularis (subspesies) tua. Secara umum monyet ini mirip dengan monyet ekor panjang pada umumnya, kecuali muka mereka yang cenderung hitam. Bagaimana mereka datang ke pulau ini? Masih misteri. Ahli primata memunculkan 'teori hanyutan', yaitu kedatangan para monyet melalui perairan dengan menumpang rakit alamiah seperti kayu yang hanyut bersama arus laut. Ini masih sebatas teori, dan masih perlu pembuktian panjang, begitu pengakuan para pakar.

Seekor monyet Macaca fascicularis tua

Gemerisik serasah hutan yang terinjak para penjelajah hutan berhasil mengusik beberapa kelelawar Megachiroptera. Mereka beterbangan menghasilkan suara bergemuruh. Menandakan makhluk-makhluk itu besar dan kuat. Kelelawar kalong itu biasanya beristirahat di antara rimbunan dedaunan, menunggu senja datang, waktu di mana hidup mereka akan dimulai.Di sisi hutan yang lain, suara kicauan seekor burung memecah kesunyian. Suaranya khas dan terdengar lebih menonjol di bandingkan suara kicau burung lainnya. Bingo! Dialah murai haji (kucica alis putih Copsychus stricklandii), burung dengan sebaran terbatas di pulau Kalimantan bagian timur-laut menyeberang ke timur hingga Maratua. Burung dengan warna dominan hitam dan oranye di dada. Warna putih menghias mahkota kepala mereka, menyerupai kopiah. Begitulah hingga akhirnya mereka bergelar haji, biarpun tak sekalipun pernah berangkat ke Mekkah.

Kini para penjelajah hutan sudah semakin masuk ke dalam hutan. Sepatu-sepatu mereka merintih tergores bebatuan karang yang keras dan sangat tajam. Bebatuan itu tak jarang membentuk lubang-lubang yang bisa saja memerosokkan para penjelajah. Sesekali mereka juga harus melompati retakan batu yang sangat dalam. Retakan yang lebih besar membentuk goa yang terisi air, membentuk danau bawah tanah. Airnya asin. Danau itu juga mengalami pasang surut, berkejaran dengan pasang surut air laut yang keluar masuk melalui celah dan pori-pori batuan. Udang-udang transparan bisa dijumpai di kegelapan lorong-lorong misterius itu.

Goa adalah lingkungan yang sangat misterius. Ia bisa disejajarkan dengan palung bawah laut yang dalam dan ruang di luar angkasa. Tak banyak yang bisa diketahui dari lingkungan-lingkungan ekstrim itu. Demikian pula dengan lingkungan bawah tanah Pulau Maratua. Sangat sedikit yang diketahui dari sana. Mungkin sesedikit kalacemeti dari Marga Charon yang sesekali nampak berdiam di antara celah bebatuan goa.

 Pintu masuk goa Sembat, goa dengan danau bawah tanah yang menakjubkan.

 Di bagian dalam pulau, di tepi laguna yang airnya biru, terbentang hamparan hutan bakau. Hutan ini tumbuh subur di area pasang surut pantai. Di hutan ini bisa dijumpai jenis-jenis khas tumbuhan bakau, seperti Rhizophora sp. dan Sonneratia sp. Sistem perakaran tumbuhan bakau membentuk pemandangan yang unik. Di sela2 akar-akar liar itu kepiting Uca sp yang berwarna merah menyala bermunculan dari rumah mereka yang berupa lubang pada substrat pasir dan lumpur. Jumlahnya ribuan. Jika didekati, serentak mereka menyelinap masuk rumah dengan cepat. Begitu cepat, bak ditelan bumi. Sunyi seketika menyeruak. Hanya beberapa ekor kelomang berjalan tenang, nampak seperti makhluk yang keberatan menggendong rumah di punggungnya.

Maratua yang unik. Maratua yang cantik. Maratua yang kaya akan kehidupan. Tak habis pujian untuknya. Lalu apa yang bisa dilakukan selanjutnya? Eksplorasi tidak akan ada habisnya, dan temuan-temuan baru akan terus memenuhi cacatan para penjelajah dan peneliti alam liar. Maratua harus lestari bersama makhluk-makhluk cantik yang hidup di dalamnya.

Tulisan dan foto oleh: Sidiq Harjanto

Wednesday, July 22, 2015

Maratua Expedition: sebuah perjalanan mengesankan



Matahari sudah tergelincir ke barat saat speedboat yang aku tumpangi bersandar di dermaga Kampung Bohe Silian, di laguna Pulau Maratua ini. Perjalanan menuju salah satu pulau terluar ini selalu menggoreskan cerita khas dan menampilkan sisi petualangan tersendiri. Apalagi kali ini kami sedang berpuasa. Aku beserta rombongan kali ini memilih jalur perjalanan dari Tanjung Redeb, ibukota Kab. Berau menuju pulau via Tanjung Batu. Itu artinya kami harus melakukan perjalanan darat menggunakan mobil, ini tidak lama, hanya dua setengah jam, namun selalu sukses mengocok perut. Begitulah, jalan menuju Tanjung Batu ini meskipun sudah relatif bagus namun berkelak-kelok dan naik turun. Mas Deni, driver kami, dengan lincah memacu Toyota Avanzanya. Aku memilih tidur, mengantisipasi agar tidak merasa mual di sepanjang perjalanan ini.


 Sebuah pulau kecil di Kep. Maratua

Dari Tanjung Batu, kami menyewa speed boat Pak Nelson. Dengan mesin ganda yang meraung-raung itu kami membelah lautan luas, dan akan menghabiskan dua jam kami berteman semilir angin dan hempasan ombak yang lumayan ganas. Ya, orang sini menyebut musim selatan, musim saat angin bertiup dari selatan dengan cukup kencang. Beruntung, Pak Nelson adalah motorist handal yang dengan sigap mengantisipasi ombak yang menghadang. Sempat aku memandangi Pulau Derawan yang tersohor sebagai destinasi wisata itu. Juga Pulau Kakaban, di mana ubur-ubur tidak menyengat (stingless jellyfish) hidup dalam kedamaian di danau air asinnya. Beberapa kali segerombolan ikan teri berakrobat, meloncat-loncat keluar air, menari-nari di udara, mengikuti speed boat yang terus melaju. Jumlahnya mungkin ribuan. Sesekali burung camar laut terbang rendah di atas kami. Hingga tak terasa Pulau Maratua sudah nampak dekat di depan.

Perjalanan menuju tempat-tempat yang jauh adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Saat-saat jauh dari orang-orang yang dikasihi membuatku merasakan betapa berharganya mereka. Senyum mereka terlukis di langit Maratua yang biru bersih. Tawa canda mereka seakan terselip di antara riak air laguna yang airnya crystal clear. Sebening cinta yang kurasakan, tulus dari mereka.

Didedikasikan untuk theartofaurora.wordpress.com, penulisnya adalah seseorang yang selalu kurindukan dalam perjalanan ini.