Saturday, February 7, 2015

Mengapa troglobion penting?

Troglobion, mungkin istilah ini tidak begitu populer di kalangan masyarakat awam. Saya membuat artikel ini dalam rangka berbagi pengetahuan tentang makhluk-makhluk kecil yang menakjubkan yang hanya hidup jauh di kegelapan perut bumi, goa. Troglobion, atau dalam istilah lain troglobite, adalah biota yang menjalani seluruh siklus hidupnya di lingkungan goa. Istilah troglobion lebih sering digunakan pada jenis terestrial, mereka yang hidup di substrat lantai gua, selain di perairan. Sedangkan untuk jenis-jenis yang hidup di perairan biasanya digunakan istilah stygobion/stygobite. Ada pula istilah jenis troglomorf (troglomorphic species), biasanya istilah ini digunakan untuk menyebut jenis yang secara morfologis menunjukkan karakter biota khas goa. Tidak semua jenis troglomorf memenuhi syarat sebagai jenis troglobion.

 Reduksi mata pada Amauropelma matakecil, laba-laba troglobion dari Menoreh.

Lalu seperti apa karakteristik biota khas goa? Dilihat dari morfologinya, biota khas goa umumnya mengalami reduksi pada organ visual (mata). Hal ini terjadi karena mata tidak dibutuhkan dalam lingkungan goa yang gelap total. Konsekuensinya mereka mengembangkan organ sensoris lainnya, misalnya antena yang cenderung lebih panjang daripada biota di luar goa. Pada laba-laba dan beberapa arachnid lainnya, ditemukan adanya trichobotria yang lebih berkembang. Trichobotria adalah sejenis rambut halus pada tungkai yang digunakan sebagai sensor kimia dan sentuhan (kemotaktil). Pada beberapa hewan berbuku-buku alat gerak juga mengalami pemanjangan. Lalu dikenal pula istilah paedomorph, yaitu bentuk tubuh individu dewasa yang cenderung mempertahankan bentuk tubuh pradewasa.

Selain dilihat dari morfologi, biota khas goa juga dicirikan dengan kekhasan aspek fisiologis maupun perilaku. Hewan-hewan goa menjalani ritme sirkadian (irama harian) yang berbeda jika dibandingkan dengan hewan-hewan yang hidup di luar goa. Hal ini karena absennya cahaya matahari yang mempengaruhi ritme metabolisme makhluk hidup pada umumnya. Lingkungan gua yang serba terbatas, misalnya dilihat dari ketersediaan nutrien, ruang gerak, dan faktor lingkungan lainnya menyebabkan biota goa melakukan penghematan energi. Sebagian besar energi dialokasikan untuk reproduksi. Metabolisme diperlambat, sehingga usia hidup mereka cenderung lebih lama daripada kerabat di luar goa. Hewan troglobion juga cenderung tidak berburu aktif dan mengandalkan 'sit and wait strategy'.

 Stenasellus sp, udang goa dari karst tua Sepintiang, Kab. Lahat, Sumsel.

Troglobion umumnya memiliki sebaran terbatas atau bahkan sangat terbatas. Laba-laba matakecil (Amauropelma matakecil), misalnya hanya dijumpai di 4 goa saja, dan itupun terbatas di lorong-lorong zona stagnan dengan iklim mikro yang relatif stabil. Ada pula jenis laba-laba buta di benua Amerika yang bahkan hanya diketahui dari satu spesimen saja. Kelompok stygobion biasanya memiliki sebaran di habitat yang memiliki barier alami, misalnya genangan static pool, perkolasi, maupun sungai yang tertutup. Kondisi semacam ini sekaligus mengindikasikan bahwa mereka memiliki kisaran toleransi yang sempit terhadap perubahan kondisi lingkungan. Artinya, sedikit saja gangguan yang masuk ke habitat mereka, bisa menimbulkan dampak mengerikan bagi populasi troglobion, hingga bahkan bisa mengakibatkan kepunahan jenis tersebut.

Lalu apa pentingnya troglobion? Sulit mencari ungkapan untuk menyampaikan pesan betapa pentingnya jenis dengan karakteristik yang unik dan khas, memiliki sebaran yang terbatas, dan sangat 'rapuh'. Biota yang menjadi harta karun bagi para peneliti dan pemerhati biologi sekaligus jenis yang berharga untuk konservasi (sebagai flagship species). Maka tak berlebihan kiranya untuk mengajak Anda semua mendukung upaya konservasi kawasan karst demi mempertahankan keberadaan jenis-jenis cantik tersebut. Salam speleo!


No comments:

Post a Comment