Golden Moment: cerita mancing

Ini sebenarnya cerita agak lama, tapi sayang kalau tidak ditulis. Minimal sebagai pengingat. Ini tentang hobi memancing ikan. Ya, saya suk...

Ini sebenarnya cerita agak lama, tapi sayang kalau tidak ditulis. Minimal sebagai pengingat. Ini tentang hobi memancing ikan. Ya, saya suka mancing. Tapi bukan yang sampai addict. Kalau pengen ya mancing, dan jarang pengen juga sih. Mancing di alam liar lebih menjadi preferensi ketimbang mancing di kolam. Sensasinya beda. Kalau mancing kerusuhan? Nggak lah.

Pengalaman mancing ikan yang paling berkesan barangkali saat di Siberut, Kep Mentawai. Tepatnya mancing ikan laut. Waktu itu kalau gak salah bertujuh orang, naik perahu kecil. Perahu yang saya sebenarnya kurang yakin dengan tampilannya. Sekecil itu untuk bertujuh. Tapi okelah, kata bapak yang bawa kapal, ini aman.


Petualangan pertama menyusur Sungai Sabirut. Masih bisa ketawa-ketawa. Pemandangan kanan kiri sungai menakjubkan. Karena ada hutan, ladang, dan perkampungan orang Mentawai. Kadang papasan juga dengan perahu lain yang dinaiki sikerei (shamannya Suku Mentawai). Paling seru saat lewat kanal sempit yang kanan kirinya dipenuhi pohon nipah, pohon khas lahan basah. Rasanya seperti masuk terowongan.

Tantangan mulai kerasa saat perahu mulai masuk muara sungai. Tepat di pertemuan air sungai dengan air laut itulah gelombangnya tinggi. Perahu seperti dihempas-hempaskan. Nyali mulai ciut, perut mulai mual. Hampir muntah di titik ini, untung masih bisa menahan. Ada sekitar limabelas menitan menembus gelombang ganas ini. Hanya bisa pasrah dan tak lupa berdzikir.


Lepas dari muara, kita nyusur ke kanan sejajar daratan, mencari karang-karang dimana banyak ikan. Sampailah di spot mancing. Alat disiapkan, umpan dipasang. Mancing di sini tidak butuh joran. Cukup senar panjang, dan kail yang cukup besar. Umpannya bervariasi dari ikan kecil yang dipotong-potong, atau ulat sagu (orang sana nyebutnya tamra). Benar kata kawan-kawan di sana, tidak akan sulit mendapat ikan. Baru saja lempar kail, langsung saja disambar ikan. Begitu ditarik, ikan sebesar telapat tangan pun terangkat. Strike!

Dari spot ke spot rata-rata sama. Mancing di Siberut masih relatif mudah dapat ikan. Mungkin karena musimnya juga pas. Atau mantranya yang sakti. Setiap lempar kail orang-orang teriak "Tabaak tabaak..gaba..gabaa..gabaa!", setidaknya seperti itu yang saya dengar. Kurang lebih artinya "Silakan makan ikan, jangan malu-malu!". Elu gak makan, guwe yang malu haha.


Puas mancing dan mendapat hampir sekontainer penuh ikan, kita merapat ke sebuah pantai terpencil. Pantai ini dipenuhi pohon kelapa dan gadis-gadis muda. Ada sebuah gubug di sana, dan ternyata penghuninya orang kampung di mana kami tinggal. Akhirnya kita mampir dan makan siang di sana. Sebagian ikan hasil tangkapan kita masak, dan jadilah kita makan siang ikan bakar. Tanpa bumbu tentunya. Greged dong. Sebentar, nasinya dari mana? Tenang, kita bawa dari kampung kok.

Singkat cerita, menjelang petang baru kita balik ke kampung. Suasana saat perahu masuk ke muara di kala senja adalah golden moment. Rasanya pengen nyeduh kopi dan menikmatinya sambil pegang tangan kamu. Halah ngimpi. Ini masih di perahu kecil, di tengah laut, bareng bapak-bapak pula. Akhirnya petualangan berakhir sore itu, dan mancing di Siberut menjadi pengalaman seru.


You Might Also Like

0 comments