Skip to main content

Pendataan Karst Partisipatif

Kemarau tahun ini dirasakan cukup berat bagi warga Dusun Jonggrangan, Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Hal ini karena beberapa mata air yang menjadi tumpuan dalam mencukupi kebutuhan air mulai mengering. Menurut informasi dari masyarakat setempat, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir terjadi penurunan debit air secara signifikan. Melihat fenomena ini, beberapa pemuda berinisiatif untuk melakukan gerakan pelestarian sumber air agar sumber-sumber air tersebut bisa memenuhi kebutuhan air di masa-masa yang akan datang.

Mata air Simaling yang debitnya dilaporkan menyusut.

Dusun Jonggrangan berada di kawasan Karst Menoreh, sehingga memiliki karakteristik hidrologi yang khas. Sehingga untuk melakukan kegiatan konservasi mata air ini perlu mempertimbangkan karakteristik khas karst tersebut. Sumber air umumnya berasal dari lorong-lorong bawah tanah yang mengalirkan air dari bukit-bukit karst di atasnya. Seperti mata air Simaling yang berupa lorong goa sempit pada batuan gamping. Mata air ini adalah salah satu penyuplai air yang penting bagi masyarakat di sekitarnya. Konon debit air yang keluar dari goa ini sebelumnya jauh lebih besar dibandingkan kondisi saat ini.
 
 Menandai titik koordinat Jumbleng Sepelet menggunakan alat GPS.

Selain mata air Simaling, masih ada banyak mata air lainnya yang juga dimanfaatkan oleh warga. Untuk itu hal pertama yang perlu dilakukan adalah memetakan sebaran mata air dan menilik kondisi zona tangkapan air di atasnya. Seperti diketahui, air di karst terkumpul dari cekungan-cekungan di atasnya dan masuk melalui ponor-ponor dan goa-goa. Para pemuda di Jonggrangan ini secara partisipatif melakukan sendiri identifikasi dan inventarisasi beberapa mata air dan ponor-ponor yang ada di wilayah dusunnya. Data ini nantinya penting untuk menentukan langkah berikutnya dalam upaya pelestarian sumber-sumber air.

Sebaran mata air, goa, dan ponor di Jonggrangan. (thanks to Google)

Dari pendataan yang pertama ini setidaknya diperoleh 6 mata air dan goa berair, 1 goa vertikal, dan 2 ponor. Data ini masih sangat sedikit dan masih ada banyak mata air dan goa yang belum didata. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi para pemuda di Jonggrangan sampai diperoleh data yang menyeluruh.

Kelik 'Golenk' yang lelah saat menelusuri Goa Sitawing yang sempit dan pengap.

Banyak diskusi yang terjadi selama kegiatan pendataan ini. Salah satu yang perlu jadi perhatian ke depannya adalah penyadartahuan masyarakat tentang karst. Ketidaktahuan masyarakat mengenai karakteristik karst menjadi permasalahan sendiri, misalnya pengelolaan ponor dan goa yang keliru. Beberapa ponor dan goa justru dijadikan tempat pembuangan sampah, yang dampaknya adalah pencemaran pada mata air di bawahnya. Satu lagi pekerjaan rumah kita semua, memasyarakatkan pengetahuan karst dan mengajak masyarakat mengelola kawasan karst dengan baik.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat