Skip to main content

Matakecil, si flagship species

Si matakecil, laba-laba kebanggaan Menoreh.

Flagship species adalah jenis biota yang dijadikan simbol konservasi suatu kawasan. Jenis semacam ini umumnya memiliki keistimewaan tertentu, misalnya karena langka, endemik, atau memiliki peran vital bagi ekosistem. Sebagai contohnya adalah komodo, karena hewan ini endemik dan bernilai ilmiah tinggi.

Konservasi memadukan pengawetan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya alam. Dengan prinsip tersebut, maka perlu penyeimbangan antara eksploitasi sumber daya alam dengan perlindungannya. Pengelolaan yang baik diharapkan akan menjamin terjaganya sumber daya alam yang ada. Pengelolaan yang baik adalah yang bisa menjamin keberlanjutan.

Laba-laba Amauropelma matakecil adalah jenis laba-laba endemik kawasan karst di Menoreh yang hanya dijumpai di 4 goa alam. Laba-laba kecil ini adalah jenis troglobion, yaitu biota yang hanya hidup di lorong-lorong bawah tanah. Hewan ini sangat tergantung pada kestabilan lingkungan dan ekosistem goa yang gelap, lembab dan memiliki komposisi udara tertentu. 

Karena hidup dalam kondisi lingkungan yang sangat stabil, maka laba-laba matakecil menjadi sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Yang dimaksud dengan perubahan kondisi lingkungan di goa misalnya penurunan kadar kelembaban, atau masuknya bahan-bahan pencemar ke dalam ekosistem. Inilah ancaman nyata bagi spesies langka dan unik di Menoreh. Perubahan lingkungan mikro bisa terjadi jika ada perubahan di atas permukaan tanah, misalnya pengurangan atau perubahan tutupan vegetasi.

Untuk melindungi A. matakecil sebagai spesies troglobion kebanggaan Menoreh, maka satu-satunya cara adalah mempertahankan kondisi lingkungan yang ada, menghindari pembukaan lahan secara berlebihan, dan mengelola sistem hidrologi karst agar tidak tercemar oleh bahan berbahaya. Salah satu kesulitan dalam mengkaji kehidupan biota troglobion adalah mustahil untuk memperoleh gambaran populasi dan distribusi yang sebenarnya. Hal ini karena banyak lorong-lorong bawah tanah yang tidak bisa diakses oleh manusia. Untuk itu harus diasumsikan bahwa kita perlu melindungi seluruh kesatuan ekosistem di suatu kawasan.

Lalu bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat matakecil dan menggantungkan hidup dari perkebunan? Melindungi satu jenis biota unik tidak berarti mematikan kehidupan masyarakat. Yang perlu dilakukan hanyalah mengedukasi masyarakat untuk tetap mengelola lahan dengan bijak, dengan terus menjaga tutupan vegetasi, dan mengelola limbah secara baik. Kita perlu menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap matakecil sebagai kebanggaan Menoreh. Ayo kita jaga si matakecil!

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat