Monday, August 3, 2015

Hutan misterius di dalam lembah terlarang

Pohon-pohon tinggi menjulang dengan gagah menyambut siapa saja yang memasuki kawasan hutan yang dianggap menyeramkan ini. Jenisnya nyaris seragam. Pepohonan khas lahan basah dengan akar-akar lutut itu tingginya mencapai 25 meter. Di bawahnya terbentang hamparan tumbuhan paku yang lebat. Sulit menembusnya. Apalagi harus menerobos lantai hutan yang terendam oleh air asin yang tingginya nyaris selutut. Beragam jenis lumut, paku, dan anggrek berhimpit-himpitan menghias pepohonan di atas muka air.

Sekarang kita berada di jantung Pulau Maratua. Ini adalah hamparan hutan rawa air asin yang berpagar tebing tinggi dan bukit2 di sekelilingnya. Tebing itu tingginya hampir seratusan meter, memanjang berkilo-kilo menjadi barier raksasa hutan di bawahnya. Di bawah tebing inilah terdapat danau-danau air asin, Danau Hajibuang dan Danau Tanabamban. Di antara dua danau ini terbentang hutan rawa yang ditakuti oleh masyarakat Maratua. Konon ada buaya di sini. Dan juga hantu. Orang-orang tak pernah datang ke tempat terlarang ini.


Hutan rawa ini mengalami pasang surut, mengikuti air laut. Ribuan udang berwarna putih kemerahan berenang mengikuti arus pasang surut. Mereka kecil, hanya seujung kuku - setelah dua tiga minggu tak dipotong-, dan kulitnya transparan. Udang-udang berenang menyelinap di antara lumut yang menyelimuti akar-akar lutut. Hanya udang dan beberapa siput di sana. Tak ada buaya.

Di dalam hutan, sebuah pertunjukan orkhestra terus bergulir. Suara desir angin berpadu nyanyian tonggoret, juga burung-burung kecil yang berkicau seakan tak pernah sekalipun terusik peradaban. Di kejauhan suara-suara burung besar bernada rendah terdengar jelas. Gelombang nada rendah yang menembus belantara, menerobos melalui sela-sela pepohonan raksasa. Inilah suara alam sejati, yang tanpa polusi. Di sinilah alam benar-benar menunjukkan jati dirinya. 


Pohon-pohon tinggi, paku-pakuan liar, udang putih kemerahan, dan orkes alam; sungguh sebuah suasana yang asing. Seperti menemukan dunia lain yang tersembunyi. Pohon-pohon yang meninggi itu mungkin berkejaran menjemput matahari. Dibatasi tebing dan bukit-bukit tinggi membuat mereka tak segera mendapat ultraviolet di pagi hari, pun segera kehilangan di sore hari. Selebihnya, hutan ini masih menyimpan sejuta misteri. Masihkah takut dengan hutan ini? Ahu, kata orang Bajau. Ya, biarkan saja hutan ini tetap menjadi rumah para hantu. Setidaknya akan membuatnya aman dari bengisnya peradaban.

*Di tulis di sebuah teluk kecil, sambil menunggu dijemput kapal.

No comments:

Post a Comment