Skip to main content

Hutan misterius di dalam lembah terlarang

Pohon-pohon tinggi menjulang dengan gagah menyambut siapa saja yang memasuki kawasan hutan yang dianggap menyeramkan ini. Jenisnya nyaris seragam. Pepohonan khas lahan basah dengan akar-akar lutut itu tingginya mencapai 25 meter. Di bawahnya terbentang hamparan tumbuhan paku yang lebat. Sulit menembusnya. Apalagi harus menerobos lantai hutan yang terendam oleh air asin yang tingginya nyaris selutut. Beragam jenis lumut, paku, dan anggrek berhimpit-himpitan menghias pepohonan di atas muka air.

Sekarang kita berada di jantung Pulau Maratua. Ini adalah hamparan hutan rawa air asin yang berpagar tebing tinggi dan bukit2 di sekelilingnya. Tebing itu tingginya hampir seratusan meter, memanjang berkilo-kilo menjadi barier raksasa hutan di bawahnya. Di bawah tebing inilah terdapat danau-danau air asin, Danau Hajibuang dan Danau Tanabamban. Di antara dua danau ini terbentang hutan rawa yang ditakuti oleh masyarakat Maratua. Konon ada buaya di sini. Dan juga hantu. Orang-orang tak pernah datang ke tempat terlarang ini.


Hutan rawa ini mengalami pasang surut, mengikuti air laut. Ribuan udang berwarna putih kemerahan berenang mengikuti arus pasang surut. Mereka kecil, hanya seujung kuku - setelah dua tiga minggu tak dipotong-, dan kulitnya transparan. Udang-udang berenang menyelinap di antara lumut yang menyelimuti akar-akar lutut. Hanya udang dan beberapa siput di sana. Tak ada buaya.

Di dalam hutan, sebuah pertunjukan orkhestra terus bergulir. Suara desir angin berpadu nyanyian tonggoret, juga burung-burung kecil yang berkicau seakan tak pernah sekalipun terusik peradaban. Di kejauhan suara-suara burung besar bernada rendah terdengar jelas. Gelombang nada rendah yang menembus belantara, menerobos melalui sela-sela pepohonan raksasa. Inilah suara alam sejati, yang tanpa polusi. Di sinilah alam benar-benar menunjukkan jati dirinya. 


Pohon-pohon tinggi, paku-pakuan liar, udang putih kemerahan, dan orkes alam; sungguh sebuah suasana yang asing. Seperti menemukan dunia lain yang tersembunyi. Pohon-pohon yang meninggi itu mungkin berkejaran menjemput matahari. Dibatasi tebing dan bukit-bukit tinggi membuat mereka tak segera mendapat ultraviolet di pagi hari, pun segera kehilangan di sore hari. Selebihnya, hutan ini masih menyimpan sejuta misteri. Masihkah takut dengan hutan ini? Ahu, kata orang Bajau. Ya, biarkan saja hutan ini tetap menjadi rumah para hantu. Setidaknya akan membuatnya aman dari bengisnya peradaban.

*Di tulis di sebuah teluk kecil, sambil menunggu dijemput kapal.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat