Tuesday, June 23, 2015

Surat dari Matara (1)



Hai kalian..
Jagoan-jagoan kecil ayah, Nakula-Sadewa, semoga kalian bersama bunda dalam keadaan sehat. Malam ini ayah sedikit lelah setelah seharian bekerja, tapi rasa rindu yang tak lagi dapat tertahankan ini membuat ayah merasa harus menuangkannya dalam sebuah surat saat jaringan komunikasi tak dapat menjangkau Kampung Matara, sebuah kampung kecil di distrik Semangga, berjarak dua jam dari kota Kabupaten Merauke. Kalian tahu merauke bukan? Sebuah kabupaten di pulau tertimur Indonesia, Papua. Juga merupakan kabupaten tertimur Indonesia seperti disebutkan R.Soeharjo di lagu 'Dari Sabang sampai Merauke' yang sering kita nyanyikan bersama setelah kita bercerita tentang Indonesia di ruang keluarga setelah kalian selesai belajar. Apa yang sedang kalian lakukan di rumah nak? Sudah hampir jam 03.00 disini, dua jam lebih cepat dari tempat kalian berada. Sebentar lagi matahari akan muncul dari peraduannya dan kalian pasti masih terlelap di kasur hangat dan pelukan bunda.

Sepertinya hari ini cuaca cerah, Nak. Ayah selalu ingat,  kalian suka sekali melihat Gunung Merapi, Merbabu dan  juga Pegunungan Menoreh di belakang rumah setiap pagi setelah sarapan. Di Merauke kondisinya sangat berbeda. Ayah sama sekali tidak melihat gunung di sini. Bahkan bukit kecilpun tidak ada. Di sini hanya ada dataran yang sangat luas. Ada banyak kolam rawa, padang rumput (savana), areal persawahan, dan tentunya pemukiman seperti kampung kita. Orang-orang di sini, terutama di kampung-kampung, membuat rumah dari papan kayu, beratapkan seng. Jarang sekali menjumpai rumah beratap genteng dari tanah. Meskipun di beberapa kampung transmigran seperti yang ayah lihat di kampung Semangga Jaya, ada pula para pembuat genteng dan batu bata dari tanah liat. Di sana mayoritas penduduknya adalah transmigran dari Jawa dan mereka membuat bahan bangunan dari tanah liat. Anak-anak pintar seperti kalian pasti tahu apa itu transmigran bukan?


 Oya, Ayah lupa apakah sudah menceritakan hal ini kepada kalian lewat telepon? Sebuah cerita unik saat ayah mengunjungi Taman Nasional Wasur sebelum singgah ke kampung ini. Taman Nasional ini adalah salah satu tempat yang paling ingin ayah kunjungi sejak muda dulu. Kalian pasti pandai menjelaskan tentang kehidupan hewan liar di Serengeti, Wasur dijuluki 'Serengeti of Papua', disini banyak savana di mana rusa hidup bebas di dalamnya, mirip seperti dalam film dokumenter yang sering kalian tonton di NatGeo Wild. Tetapi di Wasur tidak ada singa, jerapah, hyena, dan beberapa hewan khas Serengeti. Fauna di sini lebih mirip dengan fauna di Benua Australia. Beberapa hewannya adalah marsupial atau hewan yang punya kantong di perutnya untuk memelihara anak-anak mereka, dan yang paling terkenal dari Wasur adalah kanguru tanah. Sayangnya,Ayah tak menjumpai satupun dari mereka. Beruntung masih bisa menyaksikan tikus berkantong, atau penduduk asli menyebutnya 'tuban'.

Di Wasur dan beberapa tempat lain di Merauke juga terkenal dengan rumah semutnya. Hmm..sebenarnya itu bukan semut, tapi rayap. Kalian pasti bisa membedakan antara rayap dan semut. Ya, mereka berbeda bangsa, dalam istilah biologi Ayah menyebutnya ordo, Rayap termasuk ordo Blattodea, satu bangsa dengan kecoa. Sementara semut adalah anggota Hymenoptera, satu bangsa dengan lebah dan tawon. Rayap biasa membangun rumahnya di bawah tanah atau membuat gundukan. Di Wasur mereka membangun sarang dari tanah dan bentuknya seperti menara-menara. Tingginya bisa sampai 2 meter dan bahkan lebih,mungkin karena tipe tanahnya yang berupa tanah liat, menjadikan kawasan ini banyak ditumbuhi rumah rayap. Di hutan juga banyak semut rangrang. Ya, betul sekali, Oecophylla smaragdina, seperti semut yang membangun sarang di pohon mangga depan rumah kita. Namun ayah lihat semut rangrang di sini agak berbeda, terutama pada perutnya yang berwarna kehijauan. Kita harus cari tahu bersama-sama mengapa bisa seperti itu. Di Wasur juga banyak flora-fauna unik lainnya, seperti burung nuri, kakatua raja, pohon acasia, pohon kayu putih, tanaman kantong semar, dan masih banyak lagi.


Tentang dataran luas Merauke, konon dia dibentuk oleh endapan alluvial yang halus, sehingga sulit sekali menemukan batu yang lebih besar dari kepalan tangan kalian di sini. Apa itu alluvial? Besok kita diskusikan setelah ayah pulang.

Dan saat ini, Ayah sedang berada di Matara. Kampung ini berada di pesisir, dekat dengan pantai. Cukup berjalan kaki 200 meter maka akan sampai ke pantai yang lumayan cantik. Pasirnya lembut,berwarna kecoklatan. Jika ada angin datang, pasir lembut itu beterbangan membentuk lapisan kabut debu tipis di atas permukaannya. Pantai ini bukan untuk berenang, karena ombaknya cukup besar. Airnya juga agak keruh, mungkin karena berada di antara dua sungai besar. Orang sini menyebutnya Kali Maro dan Kali Kumbe. Saat ayah datang ke sini, mobil kami melewati jembatan Kali Maro yang panjang sekali. Mungkin sekitar 500 meter.

Di pinggiran pantai ada pohon-pohon sagu yang  berjajar mengikuti garis pantai. Sagu adalah tanaman yang mirip dengan kelapa atau aren. Batang pohonnya diolah oleh masyarakat Papua untuk bahan pangan. Kemarin ayah melihat sekumpulan warga kampung yang sedang mengolah sagu, orang menyebutnya 'pangkur sagu'. Para warga, baik laki-laki maupun perempuan, bergotong royong memotong batang pohon sagu, kemudian batang itu dihaluskan menjadi bubur dan diperas, diambil patinya. Pati sagu itulah yang diolah jadi aneka makanan. Seru sekali! Andaikan kalian berada disini, Ayah bisa membayangkan bagaimana ekspresi kalian.

Oya, ada makanan khas dari sagu, namanya 'papeda'. Bentuknya seperti lem kanji yang biasa kalian pakai untuk membuat karya seni di sekolah. Jangan tertawa dulu, meskipun mirip lem kanji, tapi rasanya enak kalau dimakan bersama kuah ikan. Kalian sangat menyukai bubur mutiara buatan bunda bukan? Bubur mutiara itu juga dibuat dari tepung sagu.


Selain bertani dan merawat kebun sagu, orang-orang kampung Matara berprofesi sebagai nelayan. Mereka membuat jaring dan pergi ke pantai untuk mencari ikan dan kepiting rajungan. Kemarin ayah sempat mencicipi kepiting-kepiting lezat itu. Para nelayan punya dua rumah, satu rumah untuk tinggal bersama keluarga di kampung, sementara satu lagi adalah pondok kecil yang dibangun di dekat pantai, digunakan untuk singgah sementara saat mencari ikan dan kepiting. Mereka tidak punya kapal, karena mereka cukup bekerja di dataran pasang surut. Di saat surut, garis pantai di Matara menjadi sangat jauh di tengah. Jadi saat itulah mereka bekerja memasang jaring atau memanen hasil tangkapan.

Bersambung ke Surat dari Matara (2)

*Cerita ini dibuat atas paksaan theartofaurora.wordpress.com dan dia juga yang mengobrak-abrik tulisan versi asli, menjadi tulisan yang dimuat ini :D, thanks yaa...
** Cerita ini adalah fiksi ilmiah

No comments:

Post a Comment