Tuesday, June 23, 2015

Surat dari Matara (2)



Sebelumnya: Surat dari Matara (1)

Masyarakat kampung Matara ini mayoritas adalah orang suku Marind. Kebanyakan bermarga Mahuze, Gebze, dan beberapa marga lainnya. Dibandingkan dengan kebanyakan suku di Papua lainnya, orang Marind cenderung bertubuh lebih tinggi dan besar. Ada pula pendatang yang berasal dari Jawa, Maluku, dan wilayah lainnya. Mereka hidup bersama dengan damai dan saling menghormati. Satu kesan yang ayah rasakan di sini adalah orang-orangnya yang ramah. Mereka selalu mengucapkan selamat pagi, siang, sore, atau malam saat berpapasan di jalan atau saat lewat di depan pondok yang kami tempati. Rumah-rumah mereka dilengkapi dengan ‘para-para’, sebuah panggung yang biasanya dibuat di bawah pohon perindang, di samping rumah. Di para-para inilah mereka bercengkerama dan berbagi cerita, menunjukkan bahwa relasi sosial masyarakat Marind cukup kuat.

Anak-anak di Kampung Matara juga suka bermain, seperti kalian. Tetapi mereka belum mengenal gadget seperti tablet yang biasa kalian mainkan. Di sini juga belum ada internet, bahkan sinyal komunikasi pun belum menjangkau. Dengan kondisi seperti itu bukan berarti anak-anak itu tidak bahagia lho.Mereka yang seusia kalian biasa bermain lempar karet, atau bermain bola di pantai. Mereka tumbuh sehat dan kuat karena selalu aktif di luar rumah. Kalian sebaiknya tidak berlama-lama dengan tablet dan internet. Bermainlah seperti mereka. Bersosialisasilah dengan teman-teman kalian, agar kalian tahu bagaimana cara bergaul dan berinteraksi dengan banyak orang. Tadi sore, ayah bermain bersama Berto dan Moses, yang seumuran kalian, membuat ayah rindu sangat dengan kalian. Dan bunda juga tentunya.


Kalian perlu tahu, anak-anak di sini tidak seberuntung kalian. Pagi-pagi sekali mereka harus berjalan kaki jauh untuk bersekolah. Mereka juga tidak punya sepatu yang bagus. Beberapa bahkan bertelanjang kaki. Pulang sekolah, mereka masih belum bisa beristirahat karena harus membantu orang tua mereka bekerja. Jadi, kalian yang bisa menikmati hidup yang lebih enak harus lebih bisa mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah. Jangan marah-marah saat bunda membangunkan kalian di pagi hari. Jangan mengeluh dengan mobil ayah yang sudah butut dan AC-nya kurang dingin. Setidaknya kalian tidak kehujanan saat berangkat dan pulang sekolah. Jangan ngambek jika bunda atau ayah pamit untuk pergi ke luar kota beberapa hari. Itu semua karena kami sangat sayang dengan kalian. Ayah dan bunda hendak memastikan bahwa masa depan kalian benar-benar terjamin. Sekarang pun ayah pergi untuk kalian berdua. Nanti kalian pasti bisa memahaminya jika telah menjadi orang dewasa. Meskipun begitu, ayah dan bunda mohon maaf jika kami masih kurang punya waktu untuk bermain dan belajar bersama kalian. Ayah berjanji, setelah Ayah pulang nanti, kita ajak bunda untuk jalan-jalan ke sawah. Kita akan berdiskusi dan berdebat tentang bagaimana laba-laba membangun sarangnya di antara tanaman padi. Juga menyapa para petani yang berjasa besar untuk kelangsungan hidup kita. Dan kita akan ucapkan terima kasih kepada mereka.

Tahukah kalian, Indonesia adalah negeri yang sangat luas. Mungkin kita tidak sanggup menjelajahi seluruh wilayahnya. Bagaimanapun caranya, kita perlu mengenal negeri ini lebih dekat. Kunjungilah banyak tempat, hingga pelosok-pelosok negeri. Ayah tidak akan mengajari kalian bagaimana cara menjadi seorang petualang.  Kita semua, termasuk ayah, sedang sama-sama belajar. Bahkan ayah juga tidak akan memaksa kalian mengikuti jejak ayah. Karena semua orang punya pilihan hidup masing-masing. Tapi jika saat dewasa nanti kalian hendak menjadi seperti elang yang bebas terbang kemanapun, ayah tak akan melarang, sejauh kalian mampu bertanggung jawab.Mereka yang gemar mengeksplorasi tempat-tempat ekstrim dan terpencil akan memperoleh banyak ilmu dan pengalaman dari setiap perjalanan itu. Maka jelajahilah negeri ini. Jejakkan kakimu di pulau-pulau indah milik kita. Dan kalian akan menemukan jati diri kalian sebagai orang Indonesia.

Baiklah, sudah pagi di sini, Nak. Beristirahatlah, tidurlah yang nyenyak. Jangan nakal, jaga bunda dengan baik. Semoga Allah selalu melindungi kita sekeluarga.
Peluk dan kecup,
Ayah


*Cerita ini dibuat atas paksaan theartofaurora.wordpress.com dan dia juga yang mengobrak-abrik tulisan versi asli, menjadi tulisan yang dimuat ini :D, thanks yaa..
** Cerita ini adalah fiksi ilmiah.

No comments:

Post a Comment