Skip to main content

Mencintai sungai dengan canyoning




"Olah raga menyenangkan itu contohnya canyoning. Anda bisa loncat-loncat di antara bebatuan sungai. Lalu meluncur di jeram licin sambil teriak ‘wooo hooooo!!’. Byuurrr!! bisa juga melompat ke dalam pool yang dalam, kemudian berenang ke tepi. Dan yang paling seru tentunya abseiling di air terjun. Di canyoning Anda tidak perlu malu untuk kembali menjadi anak kecil. Wooo hooooo!!"


Indonesia sebagai negara tropis, kaya akan sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun. Di daerah pegunungan, sungai membentuk alur-alur yang dalam dan memiliki aliran yang deras. Dan tentu saja, banyak air terjun yang cantik. Keindahan itu lebih sempurna untuk dinikmati, dengan satu aktivitas yang disebut canyoning.

Canyoning merupakan perpaduan antara berjalan, memanjat, melompat, berenang, dan abseiling / rapeling. Aktivitas ini menjadi sangat menyenangkan jika didukung kemampuan teknik dan kondisi fisik dan mental yang prima. Dan yang paling penting harus diperhatikan, canyoning adalah aktivitas yang mengandung resiko tinggi. Maka standar keamanan meliputi penguasaan teknik dan peralatan yang memadai wajib menjadi perhatian utama.

Peralatan yang dibutuhkan dalam canyoning antara lain: wetsuit, harness (harness khusus canyoning memiliki pelindung pantat), tali kernmantel, descender (biasanya menggunakan pirana), carabiner, dll. Penguasaan teknik juga wajib dimiliki seorang canyoneer, mulai dari teknik melompat, berenang, dan tentunya abseiling. 

Dengan ber-canyoning, kita akan lebih mengenal sungai-sungai yang kita miliki, dan kemudian mencintai dan menjaganya. Go canyon!

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat