Skip to main content

Laba-laba, ada di mana-mana namun sering terlupakan













Laba-laba dari Suku Sparassidae ini mungkin saja bersembunyi di balik bantal Anda.

Judul di atas terkesan provokatif, tetapi memang sepertinya itu adalah kondisi faktual saat ini. Kita bisa menemukan laba-laba, si hewan bertungkai delapan, hampir di setiap tempat di bumi ini. Tentunya selain perairan dan es di kutub. Tengoklah di kolong ranjang, atau meja. Bisa jadi ada laba-laba bertungkai panjang yang bersarang di sana. Di taman, laba-laba peloncat seringkali nampak menggemaskan menunjukkan sikapnya yang curious. Sampai di habitat ekstrim seperti gua, laba-laba masih bisa dijumpai. Seperti laba-laba Amauropelma matakecil yang hidup di gua-gua dengan ekosistem tertutup di kawasan Menoreh.

Selain mudah dijumpai, laba-laba juga mempunyai peranan yang besar dalam ekosistem. Misalnya laba-laba pemburu dari suku Lycosidae yang merupakan sahabat bagi para petani. Laba-laba ini hidup di areal persawahan dan aktif memburu serangga yang berpotensi menjadi hama, seperti wereng. Perilaku hidup sebagai predator menjadikan laba-laba menjadi agen pengontrol populasi. Melalui konsep pengelolaan hama terpadu (PHT), laba-laba sengaja dijaga keberadaannya untuk menjadi agensia pengendali populasi serangga hama.

Laba-laba, sebagai fauna yang sangat dengan kehidupan kita, dan menyumbangkan peranan yang besar dalam ekosistem sudah selayaknya kita perhatikan keberadaannya. Sedikitnya minat untuk mengkaji laba-laba menjadi tantangan untuk dijawab para calon-calon peneliti di masa depan. Negeri kita sangat kaya akan hewan anggota Kelas Arachnida itu, dan sangat besar peluang untuk mengembangkan ilmu perlaba-labaan di Indonesia. Peran para peneliti sangat diharapkan untuk mengungkapnya.

Sebagian orang masih menganggap laba-laba sebagai hewan berbahaya, atau terkesan menakutkan. Pandangan ini yang harus disingkirkan jauh-jauh, karena faktanya sedikit sekali jenis laba-laba yang berbahaya bagi manusia. Yang perlu kita lakukan adalah mengetahui jenis-jenis apa yang berbahaya, dan memahami bagaimana cara memperlakukan mereka dengan baik. Tidak ada alasan untuk menjadi arachnophobia!

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat