Skip to main content

Dia yang hidup di kegelapan abadi














Amauropelma matakecil, betina dewasa (Foto oleh Sidiq Harjanto)

Troglobit, sebutan bagi biota yang seluruh siklus hidupnya dihabiskan di dalam lingkungan hipogean (habitat bawah tanah, khususnya gua). Mereka teradaptasi hidup di habitat gelap, dengan kelembaban yang sangat tinggi, dan cenderung stabil. Kelompok biota ini merupakan jenis-jenis evolusioner yang sukses, meskipun di sisi lain mereka adalah makhluk yang rapuh. Sedikit perubahan mikroklimat, misalnya, bisa memberi dampak kepunahan bagi jenis-jenis tersebut.

Laba-laba Amauropelma matakecil hidup tanpa fungsi mata, karena telah mengalami reduksi ekstrim hingga nyaris hilang sama sekali. Hanya bintik-bintik kecil yang tersisa menandakan terjadinya proses evolusi regresif pada jenis itu. Seekor laba-laba buta menjalani kehidupan dengan mengandalkan organ sensor kemo-taktil pada tubuhnya. Sensor tersebut merasakan partikel-partikel di udara dan sentuhan, sehingga laba-laba tersebut mampu mengenali kondisi lingkungan di sekitarnya. Untuk mendapatkan mangsa, jenis seperti itu mengandalkan strategi 'diam dan menunggu', ketika ada mangsa mendekat, sensor kemo-taktil berupa trikobotria memberikan sinyal. Dan, dengan cepat mangsa disergap.

Si matakecil hidup di beberapa gua di kawasan Menoreh. Mereka sering terlihat berdiam di lantai gua, atau kadang bersembunyi di celah-celah batuan; hidup berdampingan dengan hewan-hewan khas gua lainnya, seperti nocticolid, kaki seribu, dan isopod terestrial. Matakecil, bersama biota khas gua lainnya, cenderung hidup di lingkungan yang relatif stabil. Habitat tempat mereka hidup adalah lorong-lorong yang jauh dari lingkungan luar, dan cenderung terisolasi. Hal itu menjadikan sebaran jenis endemik Menoreh ini, sangat terbatas.

Jenis troglobit seperti laba-laba matakecil memiliki nilai penting, baik bagi ilmu pengetahuan maupun dalam perlindungan kawasan. Bagi ilmu pengetahuan, troglobit adalah 'harta karun' bagi peneliti dalam mengungkap teka-teki evolusi. Untuk kepentingan konservasi, tak jarang jenis troglobit dijadikan flagship species, sebutan suatu jenis ikon konservasi suatu kawasan. Hal itu bukan suatu hal yang dilebih-lebihkan, mengingat keunikan dan kekhasan-nya. Dan lebih penting lagi, kerapuhannya. Menjaga kestabilan ekosistem merupakan cara yang harus ditempuh untuk mempertahankan keberadaan jenis troglobit.




Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat