Skip to main content

Birding Menoreh















Pengamatan burung (birding) semakin populer di kalangan masyarakat. Mengamati burung di alam liar merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap kekayaan alam, khususnya avifauna. Dengan membudayakan menikmati keindahan burung di habitat aslinya, kita juga sekaligus meredam eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam.

Di Pegunungan Menoreh hidup puluhan jenis burung, sehingga menarik para pegiat pengamatan burung datang ke sana. Salah satu lokasi pengamatan burung favorit di Menoreh adalah di Dusun Sokomoyo, Desa Jatimulyo. Uniknya, di dusun yang asri ini, kegiatan mengamati burung dilakukan di sekitar pemukiman warga, sehingga suasana pedesaan terasa sangat kental. Burung-burung di tempat ini seolah telah terbiasa hidup berdampingan dengan peradaban manusia.

Tak kurang 50 jenis burung tercatat di dusun ini, menghuni perkebunan dan ladang-ladang milik warga masyarakat. Beberapa jenis adalah burung migran yang melintas pada bulan-bulan tertentu, sedangkan sebagian besar adalah jenis-jenis penetap. Jenis-jenis burung yang cantik bisa dengan mudah diamati di sekitar jalur-jalur pengamatan yang telah di sediakan oleh pengelola desa wisata. Masyarakat bersama pemerintah desa memang berkomitmen untuk mengembangkan kepariwisataan sebagai salah satu upaya melestarikan kekayaan alam di desa ini.

Waktu terbaik mengamati burung adalah pagi hari dan sore hari, saat burung-burung aktif mencari makan di pepohonan. Wisatawan yang ingin melakukan pengamatan burung di Sokomoyo akan dibantu para pemandu yang sangat paham titik-titik terbaik di mana banyak burung dapat diamati.

Mari mengamati burung! Mari melestarikan alam!

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat