Thursday, August 7, 2014

Total caving ecstasy: a journey through an endless cave tunnel


Eksplorasi Silodo: sebuah perjalanan lanjutan
Ini adalah cerita perjalanan beberapa bulan yang lalu. Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 21.00 saat kami melakukan perjalanan menuju mulut Gua Silodo di Desa Jatimulyo, sebuah desa asri di Pegunungan Menoreh. Kami berenam akan melakukan eksplorasi lanjutan di gua yang bagi saya pribadi memiliki nilai historis tersendiri. Pada eksplorasi sebelumnya kami mendampingi para perangkat desa untuk mensurvei kelayakan  potensi debit air di gua ini untuk dimanfaatkan masyarakat. Dan alhamdulillah, sekarang air dari Silodo sudah berhasil diangkat dan mengairi rumah-rumah di sekitar lokasi gua.

Target eksplorasi kami yang kedua ini adalah untuk melanjutkan penelusuran mencapai lorong yang lebih dalam. Tentu saja disertai harapan akan adanya temuan baru yang nantinya akan bermanfaat bagi pemanfaatan sumber daya alam di gua tersebut. Lebih spesifik lagi adalah untuk memperkirakan arah sungai utama yang sampai sekarang masih menjadi misteri.

Gua Silodo memiliki beberapa pintu masuk, yang semuanya berupa sumuran (gua vertikal). Kami memilih pintu yang paling mudah diakses dan merupakan pintu yang sama dengan yang kami masuki pada eksplorasi pertama. Mulut gua ini berada di dasar sebuah cekungan tertutup (doline). Penelusuran dimulai dengan descending SRT (turun menggunakan teknik tali tunggal) pada lorong vertikal sedalam kurang lebih 10 meter. Dilanjutkan lorong horizontal dengan kombinasi climbdown (pemanjatan turun) pada beberapa titik untuk menjangkau sungai utama. Jaraknya hanya sekitar 50 meter. Sampai di sinilah penelusuran tim pertama pada tahun 2012 lalu.

Sedikit mengungkap misteri Silodo
Lorong berikutnya bisa diakses dengan pemanjatan turun menggunakan life line sebagai pengaman tambahan. Lima puluh meter berikutnya kami menjumpai sungai yang debitnya lebih besar. Ini membuat kami optimis bahwa pengelolaan air oleh masyarakat masih bisa di kembangkan dengan menambah jangkauan pompa semakin ke dalam. Tentunya diperlukan studi kelayakan terkait kualitas airnya, maupun perilaku tahunan sungai ini. Kami menelusuri lorong downstream (searah aliran) ini. Lorong berair ini cukup panjang dan kami mengkonfirmasi bahwa lorong ini tembus ke sistem Gua Kiskendo. Lorong yang tembus ke Kiskendo tersebut berada 2 meter dari lantai gua dan sangat sulit dipanjat karena dinding gua yang sangat licin. Kami pernah mencapai titik tersebut dari Kiskendo.

Dari percabangan lorong tembusan ini sungai masih terus mengalir ke depan hingga beberapa meter dan kemudian menghilang membentuk sink. Di titik hilangnya air ini juga ada aliran dari lorong lain berasal dari arah timur, yang debitnya lebih kecil. Lorong tersebut cukup sempit dan kami tidak berhasil menjangkau sampai ke ujung lorong. Kami memutuskan untuk menghentikan penelusuran karena memperhatikan keterbatasan kemampuan fisik yang sudah mulai terforsir. Jika memperhatikan arah sungai utama yang mengalir ke utara, saya memperkirakan bahwa sungai ini terhubung dengan sungai bawah tanah Kiskendo-Sumitro, salah satu sistem besar di Menoreh.

Sebuah renungan di ujung penelusuran
Dengan potensi air yang melimpah, Gua Silodo berikut kawasan di sekitarnya perlu dijaga dan dikelola dengan baik. Pengelolaan lingkungan di zona tangkapan dan imbuhan air perlu ditekankan untuk memastikan kelestarian sungai bawah tanahnya. Adanya sedimen tanah yang tebal di dasar sungai dan sampah yang terbawa aliran kiranya sudah cukup menjadi peringatan dini bagi masyarakat agar menjaga tutupan vegetasi dan mengelola sampah dengan baik.

Tak terasa lima jam lebih eksplorasi ini dilakukan, hingga saat kami kembali mencapai mulut gua, guratan cahaya matahari sudah menyambut. Eksplorasi gua memang seperti candu. Saya jadi teringat ucapan seorang penelusur gua senior asal Perancis, Serge Caillault, dalam sebuah dokumenter berjudul 'Immersion', bahwa eksplorasi gua tidak akan ada habisnya. Setiap tahun lorong-lorong baru terus dieksplorasi dan dipetakan. Menelusuri lorong-lorong baru yang belum ditelusuri penelusur lain adalah puncak kenikmatan bagi caver. Sebut saja total caving ecstasy. Saya juga biasa menyebutnya 'orgasme yang sempurna' bagi para caver :D. Kenikmatan ini akan semakin sempurna kala dihasilkan sesuatu yang bermanfaat seperti peta, data-data speleologis, dan informasi penting lainnya. Gua Silodo masih menyisakan misteri yang perlu terus diungkap, sedikit demi sedikit. Pelan namun pasti.


No comments:

Post a Comment