Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Subterranean Maratua

Beberapa hari yang lalu saya diajak ke Pulau Maratua, salah satu pulau terluar di Kalimantan Timur. Misi kami adalah melakukan studi terhadap potensi air beberapa goa di pulau itu. Untuk mendapatkan data salah satunya dilakukan tes pemompaan terhadap kolam-kolam bawah tanah yang berada di dasar goa. Potensi bawah tanah di pulau ini bukan berupa sungai bawah tanah, melainkan kolam-kolam yang mengatuskan air perkolasi, dan membentuk lensa air tawar mengapung di atas air asin. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji.Ada beberapa goa yang dikaji, namun yang paling berkesan adalah Goa Siabik karena goa ini memiliki tingkat kesulitan tinggi. Saya bahkan menyebutnya sebagai misi yang tidak masuk akal. Menurunkan pompa dan peralatan penelitian lainnya menuju dasar goa yang super sempit dan berbatu tajam menjadi tantangan yang harus bisa kami jawab. Perlu empat hari untuk menyelesaikan misi di goa ini. Sehari untuk survei permulaan dan pemetaan, sehari untuk mendesain dan me…

Mengapa karst perlu dilindungi?

Karst adalah fenomena geologis yang unik. Sebuah kawasan karst terbentuk pada lapisan batuan yang mudah terlarutkan, terutama pada batuan kapur/ karbonat. Ciri umum kawasan karst ditandai dengan fenomena eksokarstik, yaitu ciri-ciri yang teramati di permukaan, meliputi bukit atau kerucut karst, cekungan tertutup (dolina), polje, uvala, dan kenampakan mikrokarst (karren, lapies, dll). Di sisi lain, karst juga dicirikan dengan fenomena endokarstik berupa terbentuknya lorong-lorong gua dan sungai-sungai bawah tanah.

Kawasan karst menjadi sebuah ekosistem yang memiliki nilai penting tinggi, dan mutlak untuk dilindungi dan dilestarikan. Hal itu harus kita sepakati bersama. Pemerintah RI pun telah menerbitkan dasar hukum yang kuat untuk perlindungan karst, melalui PP nomor 26 tahun 2008. Selanjutnya, kawasan-kawasan karst yang ada sebagian telah dikaji dan ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM, beberapa dalam proses pengusulan, dan yang lainnya belum menjalani proses penetapan. Ketika …

That's called canyoning!

Abseiling Kembangsoka waterfall
Jump into the pool

Jump..jump..jump! Having fun with canyon
Amazing experience, canyoning in Kembangsoka, Menoreh



Mencintai sungai dengan canyoning

"Olah raga menyenangkan itu contohnya canyoning. Anda bisa loncat-loncat di antara bebatuan sungai. Lalu meluncur di jeram licin sambil teriak ‘wooo hooooo!!’. Byuurrr!! bisa juga melompat ke dalam pool yang dalam, kemudian berenang ke tepi. Dan yang paling seru tentunya abseiling di air terjun. Di canyoning Anda tidak perlu malu untuk kembali menjadi anak kecil. Wooo hooooo!!"


Indonesia sebagai negara tropis, kaya akan sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun. Di daerah pegunungan, sungai membentuk alur-alur yang dalam dan memiliki aliran yang deras. Dan tentu saja, banyak air terjun yang cantik. Keindahan itu lebih sempurna untuk dinikmati, dengan satu aktivitas yang disebut canyoning.

Canyoning merupakan perpaduan antara berjalan, memanjat, melompat, berenang, dan abseiling / rapeling. Aktivitas ini menjadi sangat menyenangkan jika didukung kemampuan teknik dan kondisi fisik dan mental yang prima. Dan yang paling penting harus diperhatikan, canyoning adalah aktivitas …

Air terjun Kembang Soka

Menyusuri sungai Bangki, kami bergerak turun dengan cepat. Kami tidak sabar untuk mencapai pertemuan dengan sungai lainnya, Mudal. Alur-alur sungai ini berada di dusun Gunungkelir, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Sebelum titik pertemuan kedua sungai (tempuran), ada air terjun yang konon menyuguhkan panorama yang eksotis.

Tak lama kami berjalan, sebuah air terjun sudah menanti. Tingginya kurang lebih 10 meter, dengan kemiringan hampir 90 derajat. Curug Kemiri, begitulah orang-orang menyebutnya. Kami memutuskan untuk turun menggunakan teknik tali tunggal (SRT). Ada sensasi tersendiri saat air terjun mengguyur tubuh yang menggantung pada seutas tali. Sayangnya di puncak musim kenarau seperti saat ini, debit air di sungai ini hanya kecil.

Di sepanjang jalur turun vertikal ini tumbuh lumut dan tanaman kecil yang membentuk panorama yang sangat indah. Saya benar-benar dimanjakan dengan formasi tumbuhan yang membentuk laksana karpet alam.

Dan benar saja, di samping air terjun yang k…

Jogja Bird Walk: edisi Jagongan Menoreh

Peserta JBW berpose di depan base camp.
Jogja Bird Walk (JBW) bulan September 2014 ini digelar di Dusun Sokomoyo, Jatimulyo, Girimulyo, Kab. Kulonprogo; tepatnya tanggal 27-28 September 2014. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Peduli Menoreh dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ). Puluhan peserta yang berasal dari komunitas pengamat burung dari kota Yogyakarta telah tiba di lokasi pada Sabtu sore, kemudian dilanjutkan acara keakraban pada malam harinya. Suasana hangat terasa saat paserta dan panitia membaur menghadap api unggun sambil membakar jagung. Beberapa yang lain asyik memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu yang sedang hits. Cerita demi cerita pengalaman mengalir diselingi gelak tawa, memupuk rasa persaudaraan di antara mereka yang memiliki kesamaan hobi.

Pagi buta peserta sudah segar kembali dan siap menyusuri jalan-jalan setapak kampung untuk 'memburu' burung-burung yang hidup bebas di kampung Sokomoyo ini. Kali ini ada yang spesia…

Jogja Memang Istimewa: pentas seni tradisional di taman Gua Kiskendo

Persiapan para penari jathilan sebelum pentas
Dengan tajuk Jogja Memang Istimewa, pentas seni tradisional ini digelar di taman Gua Kiskendo, 20-21 September 2014. Seni yang ditampilkan meliputi kesenian angguk putri, jathilan gedrug wanara, dan campur sari. Acara ini juga dimeriahkan dengan lomba mancing dan lomba senam sehat joget oplosan. Acara ini sukses menyedot animo masyarakat, baik masyarakat lokal maupun pengunjung objek wisata Gua Kiskendo.

Dalam sambutannya, Bapak Suharno selaku perwakilan panitia menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk mendukung keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus memberi sarana bagi masyarakat untuk berkreasi khususnya dalam bidang seni budaya. Bapak Anom Sucondro selaku lurah Jatimulyo mengapresiasi kerja keras Pokdarwis Gua Kiskendo beserta masyarakat yang menentukan kesukseskan acara ini. Beliau juga menghimbau masyarakat Jatimulyo untuk terus bersemangat bahu-membahu membangun kepariwisataan di Jatimulyo.

Bupati Kulon Progo,  dr. …

Dedikasi tiada henti: sosok teladan

Nama beliau Hadi Suwito, atau biasa dipanggil Mbah Hadi Slamet (Slamet adalah nama kecil beliau). Kakek berusia kurang lebih 80 tahun ini adalah juru kunci Gua Kiskendo, salah satu gua wisata yang cukup populer di Kab. Kulon Progo. Mbah Hadi sudah terlibat dalam pengembangan wisata di Kiskendo sejak mulai dibuka pada era 80-an. Beliau kemudian diberi amanat untuk menjadi juru kunci gua ini sampai sekarang.

Tugas seorang juru kunci tidaklah mudah. Beliau inilah yang bertanggung jawab menjaga Gua Kiskendo (terutama dalam hal spiritual). Maklum saja, gua adalah salah satu tempat yang bagi masyarakat lokal kental dengan aroma mistis. Hampir setiap hari Mbah Hadi berjaga di depan pintu gua, siap mengantar para pengunjung untuk menyaksikan fenomena menakjubkan yang ada di dalam Gua Kiskendo. Dengan sabar beliau juga akan menjelaskan sejarah dan mitos yang ada di gua yang berada di ketinggian sekitar 700 mdpl ini.

Mbah Hadi yang puluhan tahun menjadi juru kunci Gua Kiskendo sangat hafal sel…

Laba-laba, ada di mana-mana namun sering terlupakan

Jagongan Menoreh

Kabar gembira untuk kita semua!

Laba-laba yang diduga Amauropelma matakecil yang ditemukan di loccality baru (Foto: Sidiq Harjanto)

Kabar menyenangkan sore ini untuk kita semua. Laba-laba buta yang diduga jenis Amauropelma matakecil, ditemukan di satu gua di wilayah Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika jenis laba-laba yang ditemukan ini terkonfirmasi sebagai A. matakecil, maka akan menjadi catatan baru bagi sebaran jenis endemik Menoreh tersebut. Sebelumnya laba-laba matakecil ditemukan di 3 gua di wilayah Kec. Kaligesing, Kab. Purworejo, Jawa Tengah.

Laba-laba buta tersebut ditemukan di sebuah gua dengan sistem yang relatif tertutup, tipikal habitat alaminya. Gua tersebut panjangnya diperkirakan mencapai 1 km, dan merupakan sistem sungai kecil. Dengan temuan baru ini, maka semakin membuktikan kekayaan alam karst di Menoreh terutama yang berada di wilayah Desa Jatimulyo. Di dalam gua tersebut juga dijumpai hewan-hewan khas gua lainnya, seperti isopod dan nocticolid.

Men…

Dia yang hidup di kegelapan abadi

Amauropelma matakecil, betina dewasa (Foto oleh Sidiq Harjanto)

Troglobit, sebutan bagi biota yang seluruh siklus hidupnya dihabiskan di dalam lingkungan hipogean (habitat bawah tanah, khususnya gua). Mereka teradaptasi hidup di habitat gelap, dengan kelembaban yang sangat tinggi, dan cenderung stabil. Kelompok biota ini merupakan jenis-jenis evolusioner yang sukses, meskipun di sisi lain mereka adalah makhluk yang rapuh. Sedikit perubahan mikroklimat, misalnya, bisa memberi dampak kepunahan bagi jenis-jenis tersebut.

Laba-laba Amauropelma matakecil hidup tanpa fungsi mata, karena telah mengalami reduksi ekstrim hingga nyaris hilang sama sekali. Hanya bintik-bintik kecil yang tersisa menandakan terjadinya proses evolusi regresif pada jenis itu. Seekor laba-laba buta menjalani kehidupan dengan mengandalkan organ sensor kemo-taktil pada tubuhnya. Sensor tersebut merasakan partikel-partikel di udara dan sentuhan, sehingga laba-laba tersebut mampu mengenali kondisi lingkungan di sekitarnya…

Birding Menoreh

Pengamatan burung (birding) semakin populer di kalangan masyarakat. Mengamati burung di alam liar merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap kekayaan alam, khususnya avifauna. Dengan membudayakan menikmati keindahan burung di habitat aslinya, kita juga sekaligus meredam eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam.

Di Pegunungan Menoreh hidup puluhan jenis burung, sehingga menarik para pegiat pengamatan burung datang ke sana. Salah satu lokasi pengamatan burung favorit di Menoreh adalah di Dusun Sokomoyo, Desa Jatimulyo. Uniknya, di dusun yang asri ini, kegiatan mengamati burung dilakukan di sekitar pemukiman warga, sehingga suasana pedesaan terasa sangat kental. Burung-burung di tempat ini seolah telah terbiasa hidup berdampingan dengan peradaban manusia.

Tak kurang 50 jenis burung tercatat di dusun ini, menghuni perkebunan dan ladang-ladang milik warga masyarakat. Beberapa jenis adalah burung migran yang melintas pada bulan-bulan tertentu, sedangkan sebagian besar adalah jenis-…

Caving Kiskendo

Gua Kiskendo berada di Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogo; sekitar 40 km sebelah barat kota Yogyakarta. Gua alam ini terbentuk pada batuan karbonat Formasi Jonggrangan, sebuah kawasan karst kecil di puncak Pegunungan Menoreh yang mulai terbentuk pada kala miosen. Ratusan gua alami terbentuk pada batuan karbonat yang berada di ketinggian 600-800 mdpl ini.

Salah satu sistem perguaan yang panjang dan rumit adalah Gua Kiskendo. Setidaknya ada 9 pintu masuk gua, baik vertikal maupun horizontal. Sungai-sungai bawah tanah mengalir di dalamnya, kemudian menyatu menjadi Sungai Sumitro. Sungai-sungai utama mengalir sepanjang tahun, sebagian berhulu di wilayah Kab. Purworejo.

Gua Kiskendo sendiri mulai dikenal sebagai objek wisata sejak tahun 80-an, ditandai dengan pembangunan infrastruktur pendukung seperti taman, bumi perkemahan, parkir, dan aula. Awalnya pintu masuk gua wisata ini berupa lorong vertikal yang sulit diakses, sehingga kemudian dibuat tangga beton. Perkembangan sel…