Wednesday, December 10, 2014

Subterranean Maratua

Beberapa hari yang lalu saya diajak ke Pulau Maratua, salah satu pulau terluar di Kalimantan Timur. Misi kami adalah melakukan studi terhadap potensi air beberapa goa di pulau itu. Untuk mendapatkan data salah satunya dilakukan tes pemompaan terhadap kolam-kolam bawah tanah yang berada di dasar goa. Potensi bawah tanah di pulau ini bukan berupa sungai bawah tanah, melainkan kolam-kolam yang mengatuskan air perkolasi, dan membentuk lensa air tawar mengapung di atas air asin. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji.

Ada beberapa goa yang dikaji, namun yang paling berkesan adalah Goa Siabik karena goa ini memiliki tingkat kesulitan tinggi. Saya bahkan menyebutnya sebagai misi yang tidak masuk akal. Menurunkan pompa dan peralatan penelitian lainnya menuju dasar goa yang super sempit dan berbatu tajam menjadi tantangan yang harus bisa kami jawab.

Perlu empat hari untuk menyelesaikan misi di goa ini. Sehari untuk survei permulaan dan pemetaan, sehari untuk mendesain dan memasang lintasan, sehari untuk menurunkan pompa dan dilanjutkan pemompaan, dan sehari untuk mengangkat mesin pompa dan cleaning lintasan. Entah berapa kali kami naik turun lorong super sempit itu dan memastikan semuanya sesuai rencana. Misi ini tidak mentolerir sedikitpun kesalahan. Keteledoran bisa berakibat gagalnya misi penelitian atau bahkan berakibat fatal bagi keselamatan tim.

Goa sedalam 30 meter ini berupa sistem crack / rekahan batu memanjang arah barat daya-tenggara. Goa ini terdiri dari beberapa pitch (sumuran vertikal) dan slop (lorong miring) untuk menuju dasar goa. Di dasar goa inilah terdapat kolam pasang surut yang mengisi celah batuan memanjang mengikuti struktur rekahan. Airnya cenderung payau mengingat sebelumnya pulau ini sempat dilanda kemarau cukup panjang.

Potensi air di Siabik dan goa-goa lainnya memang kurang layak untuk konsumsi. Namun masih dapat dimanfaatkan bagi masyarakat, setidaknya untuk keperluan MCK dan mencuci.

Wednesday, November 5, 2014

Mengapa karst perlu dilindungi?

Karst adalah fenomena geologis yang unik. Sebuah kawasan karst terbentuk pada lapisan batuan yang mudah terlarutkan, terutama pada batuan kapur/ karbonat. Ciri umum kawasan karst ditandai dengan fenomena eksokarstik, yaitu ciri-ciri yang teramati di permukaan, meliputi bukit atau kerucut karst, cekungan tertutup (dolina), polje, uvala, dan kenampakan mikrokarst (karren, lapies, dll). Di sisi lain, karst juga dicirikan dengan fenomena endokarstik berupa terbentuknya lorong-lorong gua dan sungai-sungai bawah tanah.

Kawasan karst menjadi sebuah ekosistem yang memiliki nilai penting tinggi, dan mutlak untuk dilindungi dan dilestarikan. Hal itu harus kita sepakati bersama. Pemerintah RI pun telah menerbitkan dasar hukum yang kuat untuk perlindungan karst, melalui PP nomor 26 tahun 2008. Selanjutnya, kawasan-kawasan karst yang ada sebagian telah dikaji dan ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM, beberapa dalam proses pengusulan, dan yang lainnya belum menjalani proses penetapan. Ketika suatu kawasan telah ditetapkan, maka praktis tidak diperbolehkan adanya kegiatan eksploitasi seperti tambang di kawasan itu, seperti diatur dalam PP yang disebutkan di atas.

Nilai penting karst, sehingga harus dilindungi terletak pada beberapa aspek. Karst merupakan reservoir air, di mana fungsinya adalah sebagai tangkapan, imbuhan (recharge), dan tampungan air. Air bawah permukaan yang dialirkan pada sungai-sungai bawah tanah merupakan hasil dari proses peresapan air hujan melalui pori-pori dan celah batuan. Mengubah zona epikarst (zona bagian atas) akan serta merta merusak sistem hidrologi ini. Padahal air bawah tanah ini sangat vital bagi masyarakat yang tinggal di dalam maupun di sekitar kawasan karst.

Selain sumber daya air, karst juga kaya akan biota unik dan langka. Evolusi makhluk hidup terjadi sejalan dengan perkembangan kawasan karst. Banyak biota gua evolusioner yang buta, mengalami reduksi pigmen, dan memiliki locallity yang sangat terbatas, tercatat dari kawasan-kawasan karst di Indonesia. Bagi orang-orang yang peduli dengan ilmu pengetahuan, biota-biota semacam itu laksana harta karun yang nilainya tak terhingga. Kelelawar sebagai penghuni atap-atap gua juga dengan mudah menjelaskan nilai penting sebuah kawasan karst. Jutaan kelelawar yang hidup dan berkembangbiak di dalam gua merupakan agensia pengendali serangga. Ingat bahwa negeri kita memiliki jutaan hektar sawah dan lahan pertanian lainnya yang bisa porak poranda oleh ledakan populasi serangga hama. Karst telah menyediakan agen pengontrol populasi serangga yang gratis untuk kita!

Manusia yang tinggal di Nusantara telah memiliki hubungan yang erat dengan karst semenjak zaman prasejarah. Ini dibuktikan dengan temuan-temuan arkeologis seperti gambar cadas dan situs gua tempat tinggal manusia purba. Lagi-lagi, bagi ilmu pengetahuan, temuan-temuan seperti itu adalah harta karun yang akan membantu mengungkap asal usul manusia modern, termasuk menjadi sumber informasi untuk menguak jati diri bangsa kita.

Di luar nilai-nilai penting karst yang telah disebutkan, tentunya masih banyak manfaat lain karst untuk menunjang kehiduan manusia. Fakta bahwa negeri kita memiliki kawasan karst yang tersebar di semua pulau besar dan banyak pulau-pulau kecil, dengan variasi umur dan jenis batuan, variasi altitude dan variasi lainnya; akan menambah alasan logis bagi kita untuk melindungi dan melestarikan karst.

Friday, October 31, 2014

That's called canyoning!


Abseiling Kembangsoka waterfall

Jump into the pool

Jump..jump..jump!
Having fun with canyon

Amazing experience, canyoning in Kembangsoka, Menoreh




Monday, October 27, 2014

Mencintai sungai dengan canyoning




"Olah raga menyenangkan itu contohnya canyoning. Anda bisa loncat-loncat di antara bebatuan sungai. Lalu meluncur di jeram licin sambil teriak ‘wooo hooooo!!’. Byuurrr!! bisa juga melompat ke dalam pool yang dalam, kemudian berenang ke tepi. Dan yang paling seru tentunya abseiling di air terjun. Di canyoning Anda tidak perlu malu untuk kembali menjadi anak kecil. Wooo hooooo!!"


Indonesia sebagai negara tropis, kaya akan sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun. Di daerah pegunungan, sungai membentuk alur-alur yang dalam dan memiliki aliran yang deras. Dan tentu saja, banyak air terjun yang cantik. Keindahan itu lebih sempurna untuk dinikmati, dengan satu aktivitas yang disebut canyoning.

Canyoning merupakan perpaduan antara berjalan, memanjat, melompat, berenang, dan abseiling / rapeling. Aktivitas ini menjadi sangat menyenangkan jika didukung kemampuan teknik dan kondisi fisik dan mental yang prima. Dan yang paling penting harus diperhatikan, canyoning adalah aktivitas yang mengandung resiko tinggi. Maka standar keamanan meliputi penguasaan teknik dan peralatan yang memadai wajib menjadi perhatian utama.

Peralatan yang dibutuhkan dalam canyoning antara lain: wetsuit, harness (harness khusus canyoning memiliki pelindung pantat), tali kernmantel, descender (biasanya menggunakan pirana), carabiner, dll. Penguasaan teknik juga wajib dimiliki seorang canyoneer, mulai dari teknik melompat, berenang, dan tentunya abseiling. 

Dengan ber-canyoning, kita akan lebih mengenal sungai-sungai yang kita miliki, dan kemudian mencintai dan menjaganya. Go canyon!

Saturday, October 11, 2014

Air terjun Kembang Soka






Menyusuri sungai Bangki, kami bergerak turun dengan cepat. Kami tidak sabar untuk mencapai pertemuan dengan sungai lainnya, Mudal. Alur-alur sungai ini berada di dusun Gunungkelir, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Sebelum titik pertemuan kedua sungai (tempuran), ada air terjun yang konon menyuguhkan panorama yang eksotis.

Tak lama kami berjalan, sebuah air terjun sudah menanti. Tingginya kurang lebih 10 meter, dengan kemiringan hampir 90 derajat. Curug Kemiri, begitulah orang-orang menyebutnya. Kami memutuskan untuk turun menggunakan teknik tali tunggal (SRT). Ada sensasi tersendiri saat air terjun mengguyur tubuh yang menggantung pada seutas tali. Sayangnya di puncak musim kenarau seperti saat ini, debit air di sungai ini hanya kecil.

Di sepanjang jalur turun vertikal ini tumbuh lumut dan tanaman kecil yang membentuk panorama yang sangat indah. Saya benar-benar dimanjakan dengan formasi tumbuhan yang membentuk laksana karpet alam.

Dan benar saja, di samping air terjun yang kami turuni ini ada air terjun lain yang berasal dari sungai Mudal. Namanya curug Kembangsoka. Kami tak bisa menyembunyikan perasaan exited. Bak anak kecil, kami berlari-lari sambil teriak-teriak kegirangan. Wow ini surga dunia bung! Air terjun setinggi sekitar 5 meter yang airnya jernih dengan kemilau kehijauan yang dihasilkan dari warna tanaman air yang tumbuh sehat di bawahnya.

Nanti saat musim hujan telah tiba dan sungai-sungai itu kembali mengalir deras, kami pasti akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk mengunjunginya.

Terima kasih: Pak Ju, Kang Mur, Ary, Hery, Jubleg

Tuesday, October 7, 2014

Amazing Menoreh

Saya dan Nicko 

Kali ini dalam keadaan santai sambil menikmati secangkir teh, saya coba berbagi pengalaman saya bersahabat dengan dunia bawah tanah. Pastinya Anda sering mendengar istilah karst. Jika kita mendengar istilah karst, maka umumnya yang terbayang adalah sebuah kawasan berbatu yang kering dan tandus. Tetapi pemandangan yang berbeda akan Anda saksikan di kawasan karst sempit di Pegunungan Menoreh. Kawasan karst ini biasa disebut Karst Jonggrangan, terbentuk pada formasi batuan karbonat yang berumur Miosen. Vegetasi yang masih lebat menutupi permukaan kawasan ini karena didukung lapisan tanah yang tebal dan subur. Terletak pada ketinggian 650-800 mdpl, wilayah ini berhawa sejuk.

Puluhan gua berada di wilayah ini, baik gua vertikal maupun horizontal. Sebagian besar gua horizontal merupakan sistem sungai bawah tanah. Salah satu yang terkenal adalah sistem Kiskendo-Sumitro. Gua Kiskendo ini merupakan gua yang paling panjang dan paling rumit di Menoreh. Gua ini memiliki banyak pintu masuk (multiple entrance), bercabang, dan bertingkat-tingkat. Sebagian lorong di gua ini telah dibuka untuk keperluan wisata, dan merupakan salah satu objek wisata andalan di kabupaten Kulon Progo. Gua-gua lainnya memiliki potensinya masing-masing, seperti sebagai penyuplai air, habitat spesifik biota gua, dll.

Menyusuri gua-gua di Menoreh memberikan pengalaman tersendiri. Saya datang ke sini mencicipi dunia bawah tanahnya untuk pertama kali sekitar 8 tahun yang lalu, dan langsung jatuh cinta dengan gua-gua kawasan ini. Tipikal gua di sini cenderung sulit ditelusuri, misalnya karena lorong-lorongnya yang sempit, tambatan (anchor) yang terbatas, dan potensi banjir yang relatif tinggi. Saya pernah menemui lorong sempit yang lumayan panjang hingga hampir frustasi menghadapinya. Terkadang masih diperparah dengan kondisi batuannya yang tajam. Lorong semacam itu menuntut kondisi fisik yang prima dan perlengkapan yang memenuhi standar, baik helm, pakaian, sepatu, maupun logistik lainnya. Pelindung siku dan lutut akan sangat bermanfaat mengahadapi lorong seperti itu.

Gua-gua vertikal di Menoreh terkenal miskin tambatan (anchor), kalaupun ada batu tembus, seringkali kekuatannya tidak layak. Mungkin karena banyaknya lumut di sekitar pintu masuk, membuat batuan menjadi rapuh. Saya pernah mengalami anchor jebol, untungnya saya membuat banyak back up tambatan. Rigging di Menoreh memerlukan perhatian ekstra. Sebaiknya menggunakan pohon untuk tambatan utamanya, itu lebih aman ketimbang memaksakan menggunakan batu yang kurang layak. Kondisi mulut gua umumnya licin karena tumbuhnya lumut. Ini juga perlu diperhatikan para penelusur gua.

Seperti saya sampaikan di atas, sebagian besar gua-gua di sini merupakan sungai bawah tanah. Berdasarkan pengalaman, sistem sungai bawah tanah di Menoreh masih memiki drainase yang baik. Waktu tunda (time lag) air hujan relatif lama. Meskipun demikian, sangat beresiko melakukan penelusuran pada musim penghujan. Muka air akan naik, dan pada beberapa tempat bahkan akan memenuhi lorong. Saya pernah menjumpai jejak banjir di atap lorong gua Kiskendo yang tingginya sekitar 3 meter. Naiknya muka air ini umumnya disebabkan profil lorong yang menyempit, sehingga tidak cukup mengalirkan volume air yang datang.

Apa yang saya sampaikan di atas adalah bahaya penelusuran gua dari sudut pandang anthroposentris (resiko bagi penelusur). Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah ancaman dari sudut pandang speleosentris (resiko terhadap gua). Misalnya ancaman terhadap ekosistem gua. Meskipun kawasan karst ini relatif sempit, namun memiliki nilai penting bagi jenis-jenis unik yang khas hipogean (bawah permukaan tanah). Yang paling spesial dari kawasan ini adalah Amauropelma matakecil, jenis laba-laba buta yang sampai saat ini hanya tercatat di 4 gua saja. Penelusuran gua yang serampangan bisa menjadi bencana bagi laba-laba matakecil dan jenis-jenis unik lainnya.

 Nicko yang kelelahan

Sebagai penutup tulisan ini, saya coba memberikan beberapa tips yang semoga akan membantu para penelusur:
1. Pastikan bahwa kegiatan penelusuran yang Anda rencanakan memang memiliki tujuan yang jelas dan mendapat ijin dari otoritas setempat.
2. Hindari musim penghujan, cuaca bisa berubah dengan cepat di kawasan ini.
3. Pelajari profil lorong, jika petanya sudah tersedia.
4. Gunakan pakaian yang mudah kering dan bisa menjaga kehangatan.
5. Ektra berhati-hati dalam merencanakan rigging.




Friday, October 3, 2014

Jogja Bird Walk: edisi Jagongan Menoreh

Peserta JBW berpose di depan base camp.

Jogja Bird Walk (JBW) bulan September 2014 ini digelar di Dusun Sokomoyo, Jatimulyo, Girimulyo, Kab. Kulonprogo; tepatnya tanggal 27-28 September 2014. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Peduli Menoreh dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ). Puluhan peserta yang berasal dari komunitas pengamat burung dari kota Yogyakarta telah tiba di lokasi pada Sabtu sore, kemudian dilanjutkan acara keakraban pada malam harinya. Suasana hangat terasa saat paserta dan panitia membaur menghadap api unggun sambil membakar jagung. Beberapa yang lain asyik memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu yang sedang hits. Cerita demi cerita pengalaman mengalir diselingi gelak tawa, memupuk rasa persaudaraan di antara mereka yang memiliki kesamaan hobi.

Pagi buta peserta sudah segar kembali dan siap menyusuri jalan-jalan setapak kampung untuk 'memburu' burung-burung yang hidup bebas di kampung Sokomoyo ini. Kali ini ada yang spesial, karena akan ada puluhan peserta tambahan dari anak-anak yang tergabung dalam Green Club 'Peduli Menoreh'. Mereka terdiri dari anak-anak Sokomoyo usia SD-SMP. Para peserta dari Yogya diharapkan bisa berbaur dan sekaligus menjadi tutor bagi adik-adik green club tersebut. Tidak mudah mengajari anak-anak, karena mereka sangat aktif dan acapkali memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Tetapi kesabaran para kakak pengamat burung membuat acara pengamatan di pagi itu sukses. Menjelang siang, acara dilanjutkan di base camp berupa sharing hasil pengamatan dan diselingi games.

 Pengamatan burung bersama green club.

Inti dari acara JBW kali ini sebenarnya baru dimulai pada pukul 13.30. Setelah agak molor dari jadwal, acara yang ditunggu-tunggu pun akhirnya dimulai. Kali ini para peserta akan diajak berdiskusi tentang kelestarian burung di kawasan Menoreh, khususnya di lingkup Desa Jatimulyo. Acara sarasehan ini dipandu oleh Sidiq Harjanto, dan menghadirkan beberapa narasumber yaitu Bapak Anom Sucondro selaku lurah Jatimulyo, Imam Taufiqurrahman (peneliti & pengamat burung senior), Asman Adi Purwanto (peneliti burung raptor), dan Nurina Indriyani (mahasiswa peminat penelitian burung). Hadir pula Bapak Atok Rahmadi selaku penyuluh konservasi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Daerah Istimewa Yogyakarta, serta tokoh pemuda di Desa Jatimulyo. Sarasehan ini ditujukan sebagai ajang berbagi informasi, menggali potensi, dan mengumpulkan masukan bagi para pihak terkait dalam upaya pelestarian burung di Menoreh.


 Suasana sharing

Dalam sarasehan ini terungkap beberapa hal yang menarik, seperti yang disampaikan Mas Imam yang telah membuat kompilasi data kekayaan jenis burung di Sokomoyo dan sekitarnya. Dalam paparannya, diketahui ada sekitar 68 jenis burung di kawasan ini, dengan 13 jenis di antaranya endemik Jawa, dan 11 jenis dilindungi Undang-undang. Beberapa jenis yang sulit dijumpai di wilayah lain di DIY, masih mudah dijumpai di kawasan ini. Sementara narasumber lain, Mas Asman menyampaikan bahwa kawasan Menoreh ini merupakan jalur migrasi bagi burung raptor migran, sehingga layak untuk dikaji lebih jauh. Nurina, mahasiswa Fak. Biologi UGM, yang meneliti struktur sarang burung sikatan cacing (Cyornis banyumas), mengungkapkan bahwa pohon aren memiliki nilai penting bagi kelestarian sikatan cacing mengingat burung ini menggunakan bagian ijuk tanaman yang kini banyak ditebang ini, sebagai material pokok sarang.

Bapak Anom Sucondro menyampaikan bahwa untuk melestarikan lingkungan hidup di wilayah Desa Jatimulyo, telah diterbitkan aturan lokal berupa Peraturan Desa (Perdes) Nomor 8 tahun 2014. Dalam perdes tersebut telah tertulis larangan kegiatan perburuan di wilayah Jatimulyo, berikut ancaman sanksi bagi para pelanggarnya. Telah terbitnya perdes ini disambut baik oleh para pengamat burung, dan diharapkan nantinya akan ada komunikasi lebih lanjut antara komunitas pengamat burung dengan pemerintah desa dalam menyukseskan pelaksanaan aturan tersebut. Akhirnya diskusi yang sangat menarik itu harus diakhiri, dan para peserta pulang ke rumah masing-masing dengan membawa PR untuk memikirkan bersama kelestarian Desa Jatimulyo sebagai habitat penting untuk burung, tempat bermain para pehobi pengamatan burung.

*) Foto koleksi panitia JBW


Sunday, September 21, 2014

Jogja Memang Istimewa: pentas seni tradisional di taman Gua Kiskendo

Persiapan para penari jathilan sebelum pentas

Dengan tajuk Jogja Memang Istimewa, pentas seni tradisional ini digelar di taman Gua Kiskendo, 20-21 September 2014. Seni yang ditampilkan meliputi kesenian angguk putri, jathilan gedrug wanara, dan campur sari. Acara ini juga dimeriahkan dengan lomba mancing dan lomba senam sehat joget oplosan. Acara ini sukses menyedot animo masyarakat, baik masyarakat lokal maupun pengunjung objek wisata Gua Kiskendo.

Dalam sambutannya, Bapak Suharno selaku perwakilan panitia menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk mendukung keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus memberi sarana bagi masyarakat untuk berkreasi khususnya dalam bidang seni budaya. Bapak Anom Sucondro selaku lurah Jatimulyo mengapresiasi kerja keras Pokdarwis Gua Kiskendo beserta masyarakat yang menentukan kesukseskan acara ini. Beliau juga menghimbau masyarakat Jatimulyo untuk terus bersemangat bahu-membahu membangun kepariwisataan di Jatimulyo.

Bupati Kulon Progo,  dr. Hasto Wardoyo yang berkenan menghadiri acara pentas seni ini menyampaikan bahwa pemerintak kabupaten akan terus mendukung upaya masyarakat untuk mengembangkan potensi yang ada di Kulon Progo. Beliau juga menekankan agar masyarakat mendukung program unggulan pemkab, 'beli bela Kulonprogo', sebuah kampanye untuk mendahulukan membeli produk lokal yang dihasilkan Kulon Progo.

Acara ini semakin meriah dengan hadirnya para bintang tamu yang terkenal seperti Dalijo 'angkring' dan para penyanyi dari wilayah DIY.

Dedikasi tiada henti: sosok teladan


Nama beliau Hadi Suwito, atau biasa dipanggil Mbah Hadi Slamet (Slamet adalah nama kecil beliau). Kakek berusia kurang lebih 80 tahun ini adalah juru kunci Gua Kiskendo, salah satu gua wisata yang cukup populer di Kab. Kulon Progo. Mbah Hadi sudah terlibat dalam pengembangan wisata di Kiskendo sejak mulai dibuka pada era 80-an. Beliau kemudian diberi amanat untuk menjadi juru kunci gua ini sampai sekarang.

Tugas seorang juru kunci tidaklah mudah. Beliau inilah yang bertanggung jawab menjaga Gua Kiskendo (terutama dalam hal spiritual). Maklum saja, gua adalah salah satu tempat yang bagi masyarakat lokal kental dengan aroma mistis. Hampir setiap hari Mbah Hadi berjaga di depan pintu gua, siap mengantar para pengunjung untuk menyaksikan fenomena menakjubkan yang ada di dalam Gua Kiskendo. Dengan sabar beliau juga akan menjelaskan sejarah dan mitos yang ada di gua yang berada di ketinggian sekitar 700 mdpl ini.

Mbah Hadi yang puluhan tahun menjadi juru kunci Gua Kiskendo sangat hafal seluk beluk lorong-lorong di dalamnya. Beliau seringkali memberikan petuah agar kita semua bisa bersahabat dengan alam, dengan cara menghargai dan melestarikannya. Di usianya yang tak lagi muda, Mbah Hadi memberikan contoh pengabdian yang luar biasa bagi masyarakat. Keikhlasan dan dedikasi tanpa mengharap imbalan menjadi pelajaran berharga dari kakek yang satu ini.

Sunday, September 7, 2014

Laba-laba, ada di mana-mana namun sering terlupakan













Laba-laba dari Suku Sparassidae ini mungkin saja bersembunyi di balik bantal Anda.

Judul di atas terkesan provokatif, tetapi memang sepertinya itu adalah kondisi faktual saat ini. Kita bisa menemukan laba-laba, si hewan bertungkai delapan, hampir di setiap tempat di bumi ini. Tentunya selain perairan dan es di kutub. Tengoklah di kolong ranjang, atau meja. Bisa jadi ada laba-laba bertungkai panjang yang bersarang di sana. Di taman, laba-laba peloncat seringkali nampak menggemaskan menunjukkan sikapnya yang curious. Sampai di habitat ekstrim seperti gua, laba-laba masih bisa dijumpai. Seperti laba-laba Amauropelma matakecil yang hidup di gua-gua dengan ekosistem tertutup di kawasan Menoreh.

Selain mudah dijumpai, laba-laba juga mempunyai peranan yang besar dalam ekosistem. Misalnya laba-laba pemburu dari suku Lycosidae yang merupakan sahabat bagi para petani. Laba-laba ini hidup di areal persawahan dan aktif memburu serangga yang berpotensi menjadi hama, seperti wereng. Perilaku hidup sebagai predator menjadikan laba-laba menjadi agen pengontrol populasi. Melalui konsep pengelolaan hama terpadu (PHT), laba-laba sengaja dijaga keberadaannya untuk menjadi agensia pengendali populasi serangga hama.

Laba-laba, sebagai fauna yang sangat dengan kehidupan kita, dan menyumbangkan peranan yang besar dalam ekosistem sudah selayaknya kita perhatikan keberadaannya. Sedikitnya minat untuk mengkaji laba-laba menjadi tantangan untuk dijawab para calon-calon peneliti di masa depan. Negeri kita sangat kaya akan hewan anggota Kelas Arachnida itu, dan sangat besar peluang untuk mengembangkan ilmu perlaba-labaan di Indonesia. Peran para peneliti sangat diharapkan untuk mengungkapnya.

Sebagian orang masih menganggap laba-laba sebagai hewan berbahaya, atau terkesan menakutkan. Pandangan ini yang harus disingkirkan jauh-jauh, karena faktanya sedikit sekali jenis laba-laba yang berbahaya bagi manusia. Yang perlu kita lakukan adalah mengetahui jenis-jenis apa yang berbahaya, dan memahami bagaimana cara memperlakukan mereka dengan baik. Tidak ada alasan untuk menjadi arachnophobia!

Jagongan Menoreh













Pegunungan Menoreh merupakan deretan bukit nan hijau yang menjadi batas alami dua wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Kulonprogo di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Purworejo di Provinsi Jawa Tengah. Kawasan ini menyimpan kekayaan alam yang perlu dilestarikan bersama-sama. Banyak individu maupun kelompok pegiat keanekaragaman hayati yang telah melakukan kajian mengenai kekayaan alam Menoreh, namun belum ada kompilasi data yang mampu memberikan informasi yang lengkap. Adanya informasi yang lengkap dirasa perlu untuk menjadi dasar dalam memberikan masukan kepada para pihak terkait dalam mengelola kawasan ini secara berkelanjutan.

Berangkat dari realita tersebut, tercetuslah ide sederhana untuk mengumpulkan para pegiat keanekaragaman hayati untuk duduk bersama, saling berinteraksi dan berbagi informasi. Dengan ada kegiatan bersama tersebut diharapkan akan menjadi momentum awal bagi para pegiat dan masyarakat lokal untuk bekerja sama, bahu membahu untuk terus menggali kekayaan alam Menoreh, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi konservasi kawasan.

Kekayaan burung (avifauna) menjadi tema utama dalam kegiatan yang bertajuk ‘ngEPISENTRUM, Jagongan Menoreh’ ini. Burung dipilih karena kelompok satwa ini merupakan salah satu yang paling familiar di kalangan masyarakat dan para pegiat keanekaragaman hayati. Banyak pengamat burung yang telah berkontribusi nyata dalam pendataan avifauna kawasan Menoreh. Di dalam kegiatan inilah kami bermaksud mengundang mereka untuk berbagi informasi dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, demi kelestarian avifauna Menoreh.

Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 27-28 September 2014 di Dusun Sokomoyo, Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogo. Kami mengundang segenap komunitas pegiat keanekaragaman hayati (pengamat burung, mapala, LSM), maupun perorangan, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

Informasi tentang kegiatan ini akan terus diperbaharui.

Sunday, August 24, 2014

Kabar gembira untuk kita semua!
















Laba-laba yang diduga Amauropelma matakecil yang ditemukan di loccality baru (Foto: Sidiq Harjanto)
 
Kabar menyenangkan sore ini untuk kita semua. Laba-laba buta yang diduga jenis Amauropelma matakecil, ditemukan di satu gua di wilayah Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika jenis laba-laba yang ditemukan ini terkonfirmasi sebagai A. matakecil, maka akan menjadi catatan baru bagi sebaran jenis endemik Menoreh tersebut. Sebelumnya laba-laba matakecil ditemukan di 3 gua di wilayah Kec. Kaligesing, Kab. Purworejo, Jawa Tengah.

Laba-laba buta tersebut ditemukan di sebuah gua dengan sistem yang relatif tertutup, tipikal habitat alaminya. Gua tersebut panjangnya diperkirakan mencapai 1 km, dan merupakan sistem sungai kecil. Dengan temuan baru ini, maka semakin membuktikan kekayaan alam karst di Menoreh terutama yang berada di wilayah Desa Jatimulyo. Di dalam gua tersebut juga dijumpai hewan-hewan khas gua lainnya, seperti isopod dan nocticolid.

Menjadi tantangan bagi kita semua untuk menjaga kelestarian biota khas gua di Menoreh. Hal utama yang perlu menjadi perhatian kita semua adalah dengan memelihara habitat laba-laba tersebut, misalnya dengan tidak membuang sampah ke dalam gua, dan memelihara keaslian vegetasi di atas sistem-sistem gua. Bagaimanapun, biota khas gua adalah 'harta karun' yang sangat berharga.

Terima kasih untuk anggota tim eksplorasi gua: Kang Mur, Andri, Ari.

Dia yang hidup di kegelapan abadi














Amauropelma matakecil, betina dewasa (Foto oleh Sidiq Harjanto)

Troglobit, sebutan bagi biota yang seluruh siklus hidupnya dihabiskan di dalam lingkungan hipogean (habitat bawah tanah, khususnya gua). Mereka teradaptasi hidup di habitat gelap, dengan kelembaban yang sangat tinggi, dan cenderung stabil. Kelompok biota ini merupakan jenis-jenis evolusioner yang sukses, meskipun di sisi lain mereka adalah makhluk yang rapuh. Sedikit perubahan mikroklimat, misalnya, bisa memberi dampak kepunahan bagi jenis-jenis tersebut.

Laba-laba Amauropelma matakecil hidup tanpa fungsi mata, karena telah mengalami reduksi ekstrim hingga nyaris hilang sama sekali. Hanya bintik-bintik kecil yang tersisa menandakan terjadinya proses evolusi regresif pada jenis itu. Seekor laba-laba buta menjalani kehidupan dengan mengandalkan organ sensor kemo-taktil pada tubuhnya. Sensor tersebut merasakan partikel-partikel di udara dan sentuhan, sehingga laba-laba tersebut mampu mengenali kondisi lingkungan di sekitarnya. Untuk mendapatkan mangsa, jenis seperti itu mengandalkan strategi 'diam dan menunggu', ketika ada mangsa mendekat, sensor kemo-taktil berupa trikobotria memberikan sinyal. Dan, dengan cepat mangsa disergap.

Si matakecil hidup di beberapa gua di kawasan Menoreh. Mereka sering terlihat berdiam di lantai gua, atau kadang bersembunyi di celah-celah batuan; hidup berdampingan dengan hewan-hewan khas gua lainnya, seperti nocticolid, kaki seribu, dan isopod terestrial. Matakecil, bersama biota khas gua lainnya, cenderung hidup di lingkungan yang relatif stabil. Habitat tempat mereka hidup adalah lorong-lorong yang jauh dari lingkungan luar, dan cenderung terisolasi. Hal itu menjadikan sebaran jenis endemik Menoreh ini, sangat terbatas.

Jenis troglobit seperti laba-laba matakecil memiliki nilai penting, baik bagi ilmu pengetahuan maupun dalam perlindungan kawasan. Bagi ilmu pengetahuan, troglobit adalah 'harta karun' bagi peneliti dalam mengungkap teka-teki evolusi. Untuk kepentingan konservasi, tak jarang jenis troglobit dijadikan flagship species, sebutan suatu jenis ikon konservasi suatu kawasan. Hal itu bukan suatu hal yang dilebih-lebihkan, mengingat keunikan dan kekhasan-nya. Dan lebih penting lagi, kerapuhannya. Menjaga kestabilan ekosistem merupakan cara yang harus ditempuh untuk mempertahankan keberadaan jenis troglobit.




Saturday, August 23, 2014

Birding Menoreh















Pengamatan burung (birding) semakin populer di kalangan masyarakat. Mengamati burung di alam liar merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap kekayaan alam, khususnya avifauna. Dengan membudayakan menikmati keindahan burung di habitat aslinya, kita juga sekaligus meredam eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam.

Di Pegunungan Menoreh hidup puluhan jenis burung, sehingga menarik para pegiat pengamatan burung datang ke sana. Salah satu lokasi pengamatan burung favorit di Menoreh adalah di Dusun Sokomoyo, Desa Jatimulyo. Uniknya, di dusun yang asri ini, kegiatan mengamati burung dilakukan di sekitar pemukiman warga, sehingga suasana pedesaan terasa sangat kental. Burung-burung di tempat ini seolah telah terbiasa hidup berdampingan dengan peradaban manusia.

Tak kurang 50 jenis burung tercatat di dusun ini, menghuni perkebunan dan ladang-ladang milik warga masyarakat. Beberapa jenis adalah burung migran yang melintas pada bulan-bulan tertentu, sedangkan sebagian besar adalah jenis-jenis penetap. Jenis-jenis burung yang cantik bisa dengan mudah diamati di sekitar jalur-jalur pengamatan yang telah di sediakan oleh pengelola desa wisata. Masyarakat bersama pemerintah desa memang berkomitmen untuk mengembangkan kepariwisataan sebagai salah satu upaya melestarikan kekayaan alam di desa ini.

Waktu terbaik mengamati burung adalah pagi hari dan sore hari, saat burung-burung aktif mencari makan di pepohonan. Wisatawan yang ingin melakukan pengamatan burung di Sokomoyo akan dibantu para pemandu yang sangat paham titik-titik terbaik di mana banyak burung dapat diamati.

Mari mengamati burung! Mari melestarikan alam!

Caving Kiskendo
















Gua Kiskendo berada di Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogo; sekitar 40 km sebelah barat kota Yogyakarta. Gua alam ini terbentuk pada batuan karbonat Formasi Jonggrangan, sebuah kawasan karst kecil di puncak Pegunungan Menoreh yang mulai terbentuk pada kala miosen. Ratusan gua alami terbentuk pada batuan karbonat yang berada di ketinggian 600-800 mdpl ini.

Salah satu sistem perguaan yang panjang dan rumit adalah Gua Kiskendo. Setidaknya ada 9 pintu masuk gua, baik vertikal maupun horizontal. Sungai-sungai bawah tanah mengalir di dalamnya, kemudian menyatu menjadi Sungai Sumitro. Sungai-sungai utama mengalir sepanjang tahun, sebagian berhulu di wilayah Kab. Purworejo.

Gua Kiskendo sendiri mulai dikenal sebagai objek wisata sejak tahun 80-an, ditandai dengan pembangunan infrastruktur pendukung seperti taman, bumi perkemahan, parkir, dan aula. Awalnya pintu masuk gua wisata ini berupa lorong vertikal yang sulit diakses, sehingga kemudian dibuat tangga beton. Perkembangan selanjutnya, jalan beton dan beberapa jembatan juga dibuat untuk memudahkan akses ke dalam lorong-lorongnya. Hingga saat ini total panjang lorong yang dibuka untuk wisata umum adalah sekitar 700 meter, hanya sebagian kecil dari panjang total Gua Kiskendo.

Gua Kiskendo terkenal dengan legenda pewayangan Mahabarata, di mana gua ini konon dilatarbelakangi kisah Sugriwa-Subali. Gua ini juga tersohor sebagai kompleks pertapaan bagi para pelaku spiritual. Di dalamnya terdapat 9 pertapaan dengan peruntukkannya masing-masing. Para pengunjung juga seringkali mengambil air di Sendang Panguripan untuk maksud-maksud tertentu. Mbah Hadi Suwito selaku juru kunci gua ini dengan ramah menjelaskan seluk beluk tiap sudut gua kepada para pengunjung.

Selain legenda Sugriwa-Subali dan tempat-tempat pertapaan di dalamnya, Gua Kiskendo memiliki ornamen yang beragam seperti stalaktit, stalagmit, helektit, gourdams, drapperi, soda straw, dll. Ornamen-ornamen tersebut terbentuk dari proses alam yang kompleks selama ribuan tahun sehingga patut kita jaga bersama-sama.

Hewan-hewan gua yang unik hidup di Gua Kiskendo, seperti kalacemeti, jangkerik gua, kaki seribu, dan kelelawar. Hewan-hewan itu telah beradaptasi dengan lingkungan gua yang gelap, misalnya dengan pengembangan organ peraba. Misalnya jangkerik yang hidup di dalam gua memiliki antena yang jauh lebih panjang daripada tubuhnya sendiri.

Itulah sedikit cerita tentang Gua Kiskendo sebagai salah satu kekayaan alam Pegunungan Menoreh, mari kita nikmati dan  lestarikan bersama-sama.


Wednesday, August 13, 2014

Mengoptimalkan peran caver


Perangkat desa Jatimulyo yang turun langsung mensurvei ketersediaan air di gua.

Di Indonesia ini mungkin ada ribuan caver (penelusur gua), baik profesional maupun amatir. Ini adalah potensi yang sangat besar. Para caver adalah mereka yang sangat mengenal gua, bahkan kadang melebihi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Di sisi itulah para caver bisa berangkat untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Kawasan karst seringkali dihadapkan pada permasalahan ketersediaan air bersih bagi masyarakatnya. Ini adalah sesuatu yang wajar bila menilik karakteristik hidrologi kawasan karst itu sendiri yang  biasanya sedikit memiliki sumber air permukaan. Ada banyak air di karst, tetapi letaknya di bawah tanah, di sistem-sistem sungai yang sulit diakses oleh orang yang tidak memiliki keahlian khusus.

Caver dengan keahliannya dalam mengakses tempat-tempat ekstrim secara strategis bisa berkontribusi dalam memberikan informasi mengenai keberadaan sumber air, bahkan sekaligus membantu dalam proses pengangkatan air hingga menjangkau permukaan. Kontribusi semacam itulah yang sekarang sangat dinantikan masyarakat yang tinggal di tempat-tempat yang sangat dekat dengan aktivitas para caver. Di sini kepekaan sosial kita sebagai caver, diuji.