Musamus, fenomena unik di ujung timur negeri

Merauke, kabupaten di ujung timur Indonesia, bagi saya sangat istimewa. Saya berkesempatan mengunjunginya beberapa tahun yang lalu. Seti...



Merauke, kabupaten di ujung timur Indonesia, bagi saya sangat istimewa. Saya berkesempatan mengunjunginya beberapa tahun yang lalu. Setiap sudutnya adalah hal baru bagi saya yang lahir dan besar di tanah Jawa. Wilayahnya berupa dataran yang sangat luas, sejauh mata memandang tidak nampak gunung atau bahkan bukit kecil sekalipun. Binatang-binatangnya khas, seperti kasuari, kangguru tanah, dan hewan-hewan berkantong. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Papua New Guinea. Lintas Batas Sota adalah perlintasan antar negara di Merauke, dan menjadi destinasi wajib dikunjungi saat ke Merauke. Di dekat perbatasan ini juga ada sebuah tugu yang merupakan kembaran dari tugu yang terdapat di Sabang, disebut ‘Tugu Sabang-Merauke’. Tugu kembar di ujung-ujung negeri sebagai simbol persatuan-kesatuan.

Salah satu ikon menarik bagi Merauke adalah ‘musamus’. Apa itu musamus? Secara fisik, musamus nampak sebagai gundukan-gundukan tanah yang menjulang tinggi di antara rumput dan pepohonan. Gundukan-gundukan itu tak jarang lebih tinggi dari manusia, bahkan bisa mencapai 4 meter tingginya. Banyak orang menyebut musamus sebagai rumah semut, meskipun sejatinya gundukan-gundukan tersebut adalah rumah bagi koloni rayap. Konon dari Marga Macrotermes. Bangunan tersebut terbuat dari tanah merah, rumput-rumputan, dan liur para rayap yang membangunnya. Tak ada yang bisa menjelaskan secara pasti bagaimana rayap-rayap itu bekerja membangun musamus, karena seolah-olah tumbuh tanpa kita sadari.

Ribuan rayap, yang hidup bersama dalam koloni, membangun musamus sedemikian rupa dan menjadikannya sangat kuat dan keras. Tak ubah kerasnya hatimu batu. Orang Marind, masyarakat asli di Merauke, pada zaman dahulu memanfaatkannya untuk memasak. Musamus ini dipecah, kemudian dibakar, digunakan sebagai pengganti batu dalam metode memasak bakar batu. Maklum saja karena di Merauke sangat susah menemukan batu. Bahkan untuk menemukan batu sebesar kepalan tangan saja, ibarat mencari jarum dalam sekam. Keberadaan musamus menjadi berkah tersendiri.


Musamus atau rumah rayap merupakan fenomena yang cukup langka. Di dunia hanya ada beberapa tempat yang memiliki fenomena ini. Rumah rayap yang serupa bisa dijumpai di Australia dan Afrika. Sedangkan di Indonesia, kita hanya bisa menjumpai fenomena ini di Kabupaten Merauke. Jika ingin melihat musamus dalam jumlah yang fantastis, maka Taman Nasional Wasur menjadi destinasi yang harus dikunjungi. Di taman nasional yang didominasi savana inilah, kita bisa menjumpai ribuan musamus. Jumlah yang fantastis, dan diklaim merupakan yang terbanyak di dunia. Layak kita nobatkan Wasur ini sebagai kerajaan rayap dunia. Tentunya bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita, Bangsa Indonesia.

Musamus menjelma menjadi identitas untuk tanah Merauke. Bagi orang Merauke, musamus lebih dari sekedar fenomena unik, namun telah menjadi filosofi hidup. ‘Jang ko tanya kerjanya, ko lihat saja karyanya’. Jangan kamu tanyakan cara kerjanya, lihat saja hasil karyanya; kira-kira seperti itu orang Merauke mengambil inspirasi dari pekerjaan para rayap membangun musamus. Keunikan konstruksi musamus menjadikannya dipilih sebagai salah satu bagian dari lambang Kabupaten Merauke, melambangkan kerja sama dan harmoni, seperti para rayap bekerja sama membangun rumahnya. Musamus juga dijadikan nama universitas kebanggaan masyarakat di kabupaten dengan slogan 'ikazod bekai ikazod hai' ini, Universitas Musamus.

Salatiga, Juli 2020

You Might Also Like

0 comments