Skip to main content

Desa di atas awan


Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa nasi jagung. Makanan ini barangkali menjadi menu yang langka di daerah lain, namun menjadi sesuatu yang lumrah di Tlogohendro. Masyarakat mengaku bahwa sebagai makanan pokok, nasi jagung ini sudah tidak tergantikan lagi. Ibaratnya, biarpun sudah makan nasi dari beras (padi), rasanya belum makan kalau belum ada menu nasi jagung ini. Mengkonsumsi nasi jagung juga sesuatu yang lebih praktis bagi masyarakat yang kesibukan sehari-harinya di ladang. Nasi jagung jauh lebih awet, konon bisa berhari-hari selama disimpan dengan cara yang benar. Hal ini tentu lebih memudahkan warga, karena tidak perlu menanak nasi setiap hari.
 

Tidak berhenti pada nasi jagung saja, sayur ranti dan sambel krangean menjadi khas dari desa ini. Ranti adalah sejenis tanaman kecil herbaceous, menyerupai bayam; dan rasanya pun mirip dengan bayam. Sedangkan krangean merupakan pohon berkayu, buahnya dimanfaatkan sebagai bahan untuk sambal khas tersebut. Kedua tanaman tersebut memang tanaman-tanaman khas dari dataran tinggi, terutama daerah di atas 1.000 mdpl. Bagaimana, tertarik mencicipi menu khas Tlogohendro?


Oh iya satu hal lagi yang menarik. Karena cuaca yang hampir selalu dingin, membuat warga di desa ini lebih suka berkumpul di depan tungku di dapur. Area ini menjadi tempat yang sangat hangat dan nyaman untuk bercengkerama sambil menikmati teh atau kopi.



Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Sekilas tentang lebah tak bersengat