Skip to main content

Sekilas tentang lebah tak bersengat




Sebagai negara tropis, Indonesia menjadi habitat bagi puluhan jenis lebah tak bersengat. Setidaknya ada 35 jenis telah tercatat dalam Katalog Rasmussen (2008). Lebah tak bersengat memiliki banyak sebutan, antara lain: klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), kelulut (Melayu), gala-gala (Sulawesi), dll. Lebah tak bersengat berkerabat dekat dengan lebah madu yang tergabung dalam suku Apidae. Kelompok dengan reduksi organ penyengat ini kemudian dikelompokkan dalam tribus Meliponini. Beberapa marga lebah ini di Indonesia antara lain: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, dan Tetragonula. Lebah kelompok ini mempertahankan diri dengan cara menggigit dan menyerang musuhnya dengan cara melumuri musuh dengan resin tanaman yang sangat lengket.

Sama seperti lebah madu, jenis-jenis lebah tak bersengat juga menghasilkan madu, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit. Meskipun demikian, harga madunya biasanya dihargai lebih mahal karena faktor kelangkaan dan dipercaya memiliki khasiat yang lebih baik dari madu lebah biasa. Hal ini mendorong orang untuk berburu madu lebah tak bersengat. Lebah kelompok ini bersarang pada lubang-lubang pohon, bebeatuan, tanah, bambu, dan struktur bangunan. Praktek perburuan ini cenderung dilakukan secara tidak berkelanjutan, sehingga menjadi ancaman bagi kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia.

Di sisi lain, lebah berukuran kecil –tidak lebih besar dari lalat- ini juga menghadapi ancaman serius oleh semakin terdesaknya habitat mereka. Sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju kehilangan hutan yang tinggi di dunia. Hilangnya hutan sebagai habitat utama lebah tak bersengat menyebabkan hilangnya banyak populasi lebah dari kelompok ini di berbagai tempat. Beberapa jenis tertentu masih mampu bertahan di habitat yang kurang bersahabat, namun mereka juga menghadapi masalah dalam menemukan tempat untuk bersarang. Tak heran jika lebah-lebah mungil tersebut terkadang dijumpai bersarang di tempat yang kurang layak.

Selain menghasilkan produk madu yang bernilai ekonomi, lebah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman tropis. Besarnya keanekaragaman jenis lebah tak bersengat yang memiliki variasi dalam ukuran tubuh, perilaku, dan relung habitatnya menjadikan mereka memiliki peran dominan dalam penyerbukan. Penyerbukan bunga pada beberapa jenis tanaman diduga sangat tergantung dengan keberadaan lebah tak bersengat. Dengan manfaat yang sedemikian besar, kiranya diperlukan upaya serius guna menjaga kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia.

Comments

  1. komunitas kami mengkonservasi lebah stingless di perkotaan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. 3Bee IG@moslemkaya.food
      +62816109069

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…