Friday, December 15, 2017

Siak Sri Indrapura

Inilah kunjungan ke istana Kesultanan Siak Sri Indrapura


Tulisan Siak Sri Indrapura

Megahnya istana Kesultanan Siak

Salah satu sudut taman

Jembatan Siak di sore hari

Wednesday, October 18, 2017

Mentawai dalam bingkai

Berikut ini beberapa foto yang sempat terambil dari perjalanan ke Pulau Siberut, Mentawai:


Sesaat setelah speed boat mendarat di Pelabuhan Maileppet, Siberut Selatan.

Menyusuri Sungai Sabirut.

Rumah tradisional Suku Mentawai.


Ornamen pada dinding rumah Suku Mentawai.

Berbincang dengan sikerei.

Salah satu pantai cantik di Siberut.

Suatu senja di Bumi Para Sikerei.


Wednesday, May 3, 2017

Pulaunya kelulut

 
Tetrigona

Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona

Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh ke arah ujung berwarna putih. Kelulut ini cukup besar, mungkin lebih besar dari si gagak. Sayangnya saya tidak menemukan sarang si kelulut. Jenis lainnya berasal dari marga Lepidotrigona. Bagi saya, marga Lepidotrigona ini adalah kelompok kelulut yang paling cantik. Favorit lah! Warna tubuhnya yang hitam bercak kuning sungguh kombinasi yang indah. Sisik-sisik di bagian punggungnya membentuk perisai melingkar berwarna kuning. Adanya sisik-sisik inilah yang menjadi asala nama Lepidotrigona. Saya menjumpai jenis ini  bersarang hanya beberapa meter dari bibir pantai. Corongnya berwarna putih, tipis dan lembek.

Salah satu pantai cantik di Kayong Utara

Pulau Kalimantan, barangkali adalah surganya kelulut di Indonesia. Banyak jenis kelulut, dengan populasi sarang yang juga tinggi. Saya pikir tidak hanya kelulut, tetapi juga lebah lain. Sebelumnya, saat di Kubu Raya, cukup mudah menjumpai lebah kerdil (Apis andreniformis). Posisi geografisnya yang persis dilewati garis khatulistiwa, barangkali merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan pulau ini kaya akan lebah. Entahlah, yang penting mari kita cintai lebah. hehe


Monday, January 23, 2017

Sekilas tentang lebah tak bersengat




Sebagai negara tropis, Indonesia menjadi habitat bagi puluhan jenis lebah tak bersengat. Setidaknya ada 35 jenis telah tercatat dalam Katalog Rasmussen (2008). Lebah tak bersengat memiliki banyak sebutan, antara lain: klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), kelulut (Melayu), gala-gala (Sulawesi), dll. Lebah tak bersengat berkerabat dekat dengan lebah madu yang tergabung dalam suku Apidae. Kelompok dengan reduksi organ penyengat ini kemudian dikelompokkan dalam tribus Meliponini. Beberapa marga lebah ini di Indonesia antara lain: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, dan Tetragonula. Lebah kelompok ini mempertahankan diri dengan cara menggigit dan menyerang musuhnya dengan cara melumuri musuh dengan resin tanaman yang sangat lengket.

Sama seperti lebah madu, jenis-jenis lebah tak bersengat juga menghasilkan madu, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit. Meskipun demikian, harga madunya biasanya dihargai lebih mahal karena faktor kelangkaan dan dipercaya memiliki khasiat yang lebih baik dari madu lebah biasa. Hal ini mendorong orang untuk berburu madu lebah tak bersengat. Lebah kelompok ini bersarang pada lubang-lubang pohon, bebeatuan, tanah, bambu, dan struktur bangunan. Praktek perburuan ini cenderung dilakukan secara tidak berkelanjutan, sehingga menjadi ancaman bagi kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia.

Di sisi lain, lebah berukuran kecil –tidak lebih besar dari lalat- ini juga menghadapi ancaman serius oleh semakin terdesaknya habitat mereka. Sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju kehilangan hutan yang tinggi di dunia. Hilangnya hutan sebagai habitat utama lebah tak bersengat menyebabkan hilangnya banyak populasi lebah dari kelompok ini di berbagai tempat. Beberapa jenis tertentu masih mampu bertahan di habitat yang kurang bersahabat, namun mereka juga menghadapi masalah dalam menemukan tempat untuk bersarang. Tak heran jika lebah-lebah mungil tersebut terkadang dijumpai bersarang di tempat yang kurang layak.

Selain menghasilkan produk madu yang bernilai ekonomi, lebah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman tropis. Besarnya keanekaragaman jenis lebah tak bersengat yang memiliki variasi dalam ukuran tubuh, perilaku, dan relung habitatnya menjadikan mereka memiliki peran dominan dalam penyerbukan. Penyerbukan bunga pada beberapa jenis tanaman diduga sangat tergantung dengan keberadaan lebah tak bersengat. Dengan manfaat yang sedemikian besar, kiranya diperlukan upaya serius guna menjaga kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia.