Skip to main content

Aroma Kopi Menoreh


Musim panen kopi di suatu waktu di sekitar tahun 1960, masyarakat Menoreh disibukkan dengan kopi-kopi merah yang menunggu untuk dipetik. Tahun-tahun itu, kopi menjadi penggerak perekonomian. Pegunungan Menoreh adalah penghasil kopi yang cukup besar. Dikenal sejak jaman penjajahan Belanda. 

Masyarakat sendiri telah memiliki keahlian menyangrai kopi, menggunakan gerabah di atas api dari pembakaran jenis-jenis kayu keras atau batok kelapa. Roasted bean kemudian ditumbuk hingga menjadi bubuk lembut. Bubuk kopi diseduh dengan air panas dan ditambah gula kelapa. Pada saat itu gula tebu masih jarang. Kalaupun ada di pasar, tak semua orang mampu membeli. 

Aroma kopi yang harum menyeruak di antara rumah-rumah kampung berdinding anyaman bambu, beratapkan alang-alang. 'Slllrrrpp.., kopi nikmat pun diseruput di antara dinginnya udara Menoreh. Menemani para petani kopi bercerita tentang hasil panen kebun mereka', demikian Mbah Hadi mengisahkan keindahan masa lalu kopi Menoreh. Bisahkah kopi kembali mengaliri nadi ekonomi masa kini?

Sidiq Harjanto
co-founder Kopi Sulingan

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat