Skip to main content

Cerita dari Tanah Gayo




Pagi yang cerah, bus ‘Harapan Indah’ yang berbadan besar memasuki terminal Paya Ilang di Takengon, Aceh Tengah. Bus yang membawa rombongan kami, para petualang kopi (kami menyebutnya seperti itu). Suasana dingin seolah menyambut kami dengan sapaan ‘selamat datang di Tanah Gayo!’. Yes, inilah kerajaan kopi arabica terbesar di Asia, dan saya telah menginjakkan kaki di tanah subur ini. Setelah perjalanan berjam-jam dari Medan, rasa lelah dan kantuk seakan lenyap sudah dengan pesona keindahan kota kecil bernama Takengon ini.

Kami sudah dijemput seorang teman, Bang Hendra Maulizar, seorang pengusaha kopi muda yang sepak terjangnya tak perlu diragukan lagi. Kalau pembaca pernah mencicipi kopi gayo ‘Pantan Musara’, maka bisa dipastikan kopi tersebut keluar dari gudang milik perusahaan Bang Hendra yang dirintis bersama ayahnya. Beberapa hari kami di Gayo, untuk belajar segala sesuatu tentang kopi, ditemani langsung oleh Bang Hendra yang orangnya sangat ramah. Tujuan utama kami adalah belajar mengenal cita rasa kopi (cupping) di kota Bener Meriah, dan mengunjungi Desa Pantan Musara.

Masyarakat Gayo tidak bisa dipisahkan dari kopi. Ada ungkapan di kalangan masyarakat Gayo, ‘Orang Gayo hidup dari kopi dan mati untuk kopi’. Tak muluk-muluk memang, karena Tanah Gayo merupakan salah satu lumbung kopi arabica dunia. Mayoritas masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, menggantungkan penghidupan pada bisnis kopi. Mulai dari petani kopi, industri pengolahan pascapanen, roastery, kedai kopi, hingga pemain besar seperti pengeksport. 


Penikmat dan pecinta kopi pasti familiar dengan kopi gayo. Tidak hanya level nasional, tetapi juga dikenal di tingkat internasional. Bang Mahdi, seorang putra Gayo yang merupakan Q-Grader*, menceritakan bagaimana dunia tergantung pada kopi gayo sehingga membuat harganya selalu di atas rata-rata harga kopi dunia. Mengapa kopi gayo begitu diperhitungkan di pasar kopi dunia? Pertama, varietas kopi gayo yang sangat beragam. Setidaknya ada 136 varietas dan beberapa di antaranya adalah ‘varietas tua’, seperti typica, abyssinia, dan bergendal. Kedua, karakter kopi gayo yang kuat di body dan acidity; sehingga kopi-kopi dari berbagai negara membutuhkannya sebagai basic blend.

Dataran tinggi Gayo, diciptakan dengan segenap karakteristiknya yang dibutuhkan bagi kopi arabica. Faktor ketinggian tempat yang rata-rata lebih dari 1.000 mdpl, formasi batuan, dan curah hujan menjadi faktor penentu utama. Dan tentu saja, kecintaan masyarakat Gayo akan kopi, membuat mereka menghasilkan biji-biji kopi terbaik.

BTW, saya bukan pakar kopi. Apa yang saya sampaikan di atas semata-mata berdasarkan apa yang saya pelajari dari para ahli dan pecinta kopi yang saya temui selama di Gayo beberapa bulan yang lalu. Hanya beberapa hari memang, sebelum kami bergeser ke tempat-tempat lain selama perjalanan di Sumatera. Namun beberapa hari itu begitu kental dengan pengalaman dan pembelajaran berharga. Saya ucapkan terima kasih kepada: Bang Hendra sekeluarga, Kang Meiardy dan Mas Imam (teman petualangan selama di Gayo), Gayo Cupper Team dan teman-teman Gayo Cupping Class angkatan ke-3, dan segenap masyarakat Gayo yang ramah. Banyak pelajaran dipetik dari masyarakat Gayo, namun saya tak mampu menceritakan setiap detail perjalanan itu. Juga kepada Huda dan Bang Gigi yang menampung kami selama di Kota Medan.

Mari ngopi..mari belajar..mari berkarya!

*) Q-Grader adalah seorang pencicip cita rasa kopi arabica profesional yang tersertifikasi.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat