Skip to main content

Karst Maros-Pangkep itu...



 Stone garden di Pangkep (Dok. Sidiq Harjanto)

Saya sengaja menulis judul tulisan ini dengan kalimat menggantung. Jujur saya tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan kawasan tower karst di Kabupaten Maros dan Pangkep di Provinsi Sulawesi Selatan ini. Tempat ini adalah secuil surga yang ada di bumi ini. Indah, penuh dengan keunikan dan potensi yang terkadung di dalamnya. Terlalu kaya untuk didefinisikan.

Karst di Maros-Pangkep terbentuk pada Formasi Tonasa, formasi gamping yang termasuk dalam kategori tua. Sejauh itu yang saya ketahui, dan saya tidak berani bercerita banyak karena keterbatasan pengetahuan saya. Sejak masa-masa kuliah, dulu sekali, saya sering mendengar cerita atau membaca informasi mengenai kawasan yang diklaim sebagai salah satu kawasan karst terindah di Indonesia ini, atau bahkan sejajar dengan kawasan-kawasan karst indah di dunia. Sejak saat itu pula saya bemimpi untuk mengunjunginya.

Akhir tahun ini mimpi itu terwujud. Saya telah menginjakkan kaki di kawasan karst yang menjadi salah satu kebanggaan Indonesia, menikmati keindahan karst di Maros-Pangkep dari dekat. Kawasan dengan luas lebih dari 40.000 ha ini sebagian merupakan kawasan konservasi di bawah pengelolaan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Tower-tower yang terbentuk dari pelarutan batuan gamping itu nampak kokoh, tinggi menjulang, dan di bawahnya mengalir sungai-sungai besar yang keluar melalui gua-gua. Di tepiannya cukup mudah menemukan batu-batu yang bermunculan dari dalam bumi, yang membentuk panorama mengagumkan. Orang-orang menyebutnya stone garden.


Laba-laba buta dari Pangkep (Dok. Sidiq Harjanto)


Kawasan karst Maros-Pangkep kaya akan potensi keanekaragaman hayati. Gua-guanya dihuni oleh jenis-jenis biota khas gua (troglobion). Salah satu yang menarik buat saya pribadi adalah laba-laba butanya. Di tempat inilah laba-laba yang sudah berevolusi menjadi biota asli gua bisa dengan mudah dijumpai. Salah satu jenis yang telah dikenal dalam ilmu pengetahuan adalah Speocera caeca. Jenis laba-laba ini memiliki tubuh berwarna pucat karena adanya depigmentasi dan benar-benar telah kehilangan organ mata alias buta.

Selain kekayaan biotanya, kawasan ini juga terkenal dengan gua-gua situs prasejarah. Jejak-jejak manusia purba ditandai dengan banyaknya temuan gambar cadas pada dinding-dinding gua, bekas dapur, dan perkakas-perkakas yang digunakan pada jaman dahulu. Salah satu temuan gambar cadas dari kawasan ini bahkan konon teridentifikasi sebagai yang tertua di dunia.

Kawasan karst memiliki peran penting bagi kehidupan manusia, misalnya dalam hal penyediaan air. Karst menyimpan air dan mengalirkannya melalui sistem sungai bawah tanah yang keluar menjadi mata air. Gua-gua di karst juga menjadi rumah bagi jutaan kelelawar yang menjadi pengontrol serangga, menjadi pengganti pestisida yang tidak perlu membeli, dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Di Maros, jutaan kelelawar yang keluar dari gua saat menjelang malam di Ramang-Ramang menjadi destinasi wisata yang potensial untuk dikembangkan.

Dengan potensi dan nilai penting yang dimilikinya, maka sudah selayaknya kawasan ini dilindungi dan dikelola dengan sebaik-baiknya.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat