Skip to main content

Matakecil Project




Matakecil Project adalah sebuah upaya mengumpulkan informasi mengenai spesies laba-laba endemik Pegunungan Menoreh, Amauropelma matakecil. Seperti diketahui jenis laba-laba ini hanya dijumpai di 4 goa di kawasan karst Menoreh. Selain sebaran yang terbatas, data-data ilmiah mengenai jenis troglobion ini masih sangat sedikit. Di sisi lain, habitat alaminya terancam oleh penggunaan goa untuk kepentingan wisata.

Proyek ini dilakukan di Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulonprogo dengan melibatkan unsur pemerintah desa, beberapa orang pemuda lokal, dan masyarakat umum. Capaian yang ingin diperoleh antara lain:
       1. Diperoleh gambaran habitat alami laba-laba goa, meliputi peta goa dan deskripsi lingkungan mikro di dalamnya.
  2. Adanya dokumentasi tentang sisi biologi A. matakecil.
       3. Kegiatan kampanye konservasi, dengan menjadikan jenis ini sebagai flagship species di Kawasan Karst Menoreh.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat