Sunday, July 26, 2015

Dari ubur-ubur hingga monyet maratua: mereka yang terlalu cantik untuk tidak dicinta

Rahasia kehidupan liar di Pulau Maratua telah memanggil para peneliti berdatangan dari berbagai penjuru. Pulau kecil yang jauh dari daratan memang menjanjikan temuan-temuan menarik bagi mereka yang kehausan akan ilmu pengetahuan. Ubur-ubur tak menyengat (stingless jellyfish) bisa mewakili keunikan biota bawah air. Hewan ini memang tidak bisa dijumpai di sembarang tempat, di dunia kita hanya bisa melihatnya di danau air asin Kep. Derawan ini, tepatnya di Pulau Maratua dan Kakaban; dan di Palau. Mereka menjadi tidak mengembangkan organ penyengat karena hidup di lingkungan tanpa pemangsa. Ya, di danau-danau sunyi yang terlindung rerimbunan itu, mereka hidup tanpa ancaman berarti. Hingga terkadang jumlah mereka begitu banyaknya, menyerupai karpet berwarna putih atau merah jambu. Di Maratua, stingless jellyfish, berenang meliuk-liuk seolah menari di antara sponge dan bulu babi yang bisa jadi juga khas pulau ini. Sponge yang lazim hidup di lautan lepas, di sini hidup menyaring nutrisi di kanal-kanal berbentuk goa batuan kapur yang bercabang-cabang membentuk labirin.

 Burung-burung cikalang terbang di langit Maratua.

Memasuki hutan di Maratua akan memeras keringat. Begitu lembab dan panas. Saking lebatnya hutan itu. Segerombolan monyet ekor panjang menyambut kedatangan para penjelajah hutan. Inilah crab eating monkey khas Maratua, Macaca fascicularis (subspesies) tua. Secara umum monyet ini mirip dengan monyet ekor panjang pada umumnya, kecuali muka mereka yang cenderung hitam. Bagaimana mereka datang ke pulau ini? Masih misteri. Ahli primata memunculkan 'teori hanyutan', yaitu kedatangan para monyet melalui perairan dengan menumpang rakit alamiah seperti kayu yang hanyut bersama arus laut. Ini masih sebatas teori, dan masih perlu pembuktian panjang, begitu pengakuan para pakar.

Seekor monyet Macaca fascicularis tua

Gemerisik serasah hutan yang terinjak para penjelajah hutan berhasil mengusik beberapa kelelawar Megachiroptera. Mereka beterbangan menghasilkan suara bergemuruh. Menandakan makhluk-makhluk itu besar dan kuat. Kelelawar kalong itu biasanya beristirahat di antara rimbunan dedaunan, menunggu senja datang, waktu di mana hidup mereka akan dimulai.Di sisi hutan yang lain, suara kicauan seekor burung memecah kesunyian. Suaranya khas dan terdengar lebih menonjol di bandingkan suara kicau burung lainnya. Bingo! Dialah murai haji (kucica alis putih Copsychus stricklandii), burung dengan sebaran terbatas di pulau Kalimantan bagian timur-laut menyeberang ke timur hingga Maratua. Burung dengan warna dominan hitam dan oranye di dada. Warna putih menghias mahkota kepala mereka, menyerupai kopiah. Begitulah hingga akhirnya mereka bergelar haji, biarpun tak sekalipun pernah berangkat ke Mekkah.

Kini para penjelajah hutan sudah semakin masuk ke dalam hutan. Sepatu-sepatu mereka merintih tergores bebatuan karang yang keras dan sangat tajam. Bebatuan itu tak jarang membentuk lubang-lubang yang bisa saja memerosokkan para penjelajah. Sesekali mereka juga harus melompati retakan batu yang sangat dalam. Retakan yang lebih besar membentuk goa yang terisi air, membentuk danau bawah tanah. Airnya asin. Danau itu juga mengalami pasang surut, berkejaran dengan pasang surut air laut yang keluar masuk melalui celah dan pori-pori batuan. Udang-udang transparan bisa dijumpai di kegelapan lorong-lorong misterius itu.

Goa adalah lingkungan yang sangat misterius. Ia bisa disejajarkan dengan palung bawah laut yang dalam dan ruang di luar angkasa. Tak banyak yang bisa diketahui dari lingkungan-lingkungan ekstrim itu. Demikian pula dengan lingkungan bawah tanah Pulau Maratua. Sangat sedikit yang diketahui dari sana. Mungkin sesedikit kalacemeti dari Marga Charon yang sesekali nampak berdiam di antara celah bebatuan goa.

 Pintu masuk goa Sembat, goa dengan danau bawah tanah yang menakjubkan.

 Di bagian dalam pulau, di tepi laguna yang airnya biru, terbentang hamparan hutan bakau. Hutan ini tumbuh subur di area pasang surut pantai. Di hutan ini bisa dijumpai jenis-jenis khas tumbuhan bakau, seperti Rhizophora sp. dan Sonneratia sp. Sistem perakaran tumbuhan bakau membentuk pemandangan yang unik. Di sela2 akar-akar liar itu kepiting Uca sp yang berwarna merah menyala bermunculan dari rumah mereka yang berupa lubang pada substrat pasir dan lumpur. Jumlahnya ribuan. Jika didekati, serentak mereka menyelinap masuk rumah dengan cepat. Begitu cepat, bak ditelan bumi. Sunyi seketika menyeruak. Hanya beberapa ekor kelomang berjalan tenang, nampak seperti makhluk yang keberatan menggendong rumah di punggungnya.

Maratua yang unik. Maratua yang cantik. Maratua yang kaya akan kehidupan. Tak habis pujian untuknya. Lalu apa yang bisa dilakukan selanjutnya? Eksplorasi tidak akan ada habisnya, dan temuan-temuan baru akan terus memenuhi cacatan para penjelajah dan peneliti alam liar. Maratua harus lestari bersama makhluk-makhluk cantik yang hidup di dalamnya.

Tulisan dan foto oleh: Sidiq Harjanto

Wednesday, July 22, 2015

Maratua Expedition: sebuah perjalanan mengesankan



Matahari sudah tergelincir ke barat saat speedboat yang aku tumpangi bersandar di dermaga Kampung Bohe Silian, di laguna Pulau Maratua ini. Perjalanan menuju salah satu pulau terluar ini selalu menggoreskan cerita khas dan menampilkan sisi petualangan tersendiri. Apalagi kali ini kami sedang berpuasa. Aku beserta rombongan kali ini memilih jalur perjalanan dari Tanjung Redeb, ibukota Kab. Berau menuju pulau via Tanjung Batu. Itu artinya kami harus melakukan perjalanan darat menggunakan mobil, ini tidak lama, hanya dua setengah jam, namun selalu sukses mengocok perut. Begitulah, jalan menuju Tanjung Batu ini meskipun sudah relatif bagus namun berkelak-kelok dan naik turun. Mas Deni, driver kami, dengan lincah memacu Toyota Avanzanya. Aku memilih tidur, mengantisipasi agar tidak merasa mual di sepanjang perjalanan ini.


 Sebuah pulau kecil di Kep. Maratua

Dari Tanjung Batu, kami menyewa speed boat Pak Nelson. Dengan mesin ganda yang meraung-raung itu kami membelah lautan luas, dan akan menghabiskan dua jam kami berteman semilir angin dan hempasan ombak yang lumayan ganas. Ya, orang sini menyebut musim selatan, musim saat angin bertiup dari selatan dengan cukup kencang. Beruntung, Pak Nelson adalah motorist handal yang dengan sigap mengantisipasi ombak yang menghadang. Sempat aku memandangi Pulau Derawan yang tersohor sebagai destinasi wisata itu. Juga Pulau Kakaban, di mana ubur-ubur tidak menyengat (stingless jellyfish) hidup dalam kedamaian di danau air asinnya. Beberapa kali segerombolan ikan teri berakrobat, meloncat-loncat keluar air, menari-nari di udara, mengikuti speed boat yang terus melaju. Jumlahnya mungkin ribuan. Sesekali burung camar laut terbang rendah di atas kami. Hingga tak terasa Pulau Maratua sudah nampak dekat di depan.

Perjalanan menuju tempat-tempat yang jauh adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Saat-saat jauh dari orang-orang yang dikasihi membuatku merasakan betapa berharganya mereka. Senyum mereka terlukis di langit Maratua yang biru bersih. Tawa canda mereka seakan terselip di antara riak air laguna yang airnya crystal clear. Sebening cinta yang kurasakan, tulus dari mereka.

Didedikasikan untuk theartofaurora.wordpress.com, penulisnya adalah seseorang yang selalu kurindukan dalam perjalanan ini.