Wednesday, February 4, 2015

Sedekah bumi Desa Manggihan

Desa mawa cara, negara mawa tata.

Ungkapan di atas tentu tak asing lagi bagi orang Jawa. Kurang lebih makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa setiap komunitas manusia punya aturan sendiri-sendiri, yang diekspresikan dalam adat istiadat, budaya lokal hingga hukum dan perundang-undangan. Perbedaan aturan itu hendaknya kita hargai dan hormati, bukan menjadi penghalang dalam bersilaturahim.

Hari Senin kemarin, saya diundang oleh salah seorang sahabat untuk meramaikan sebuah tradisi unik yang dikenal sebagai 'sedekah bumi'. Tradisi ini berkembang di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Hampir senada dengan upacara merti desa di banyak tempat, namun sedekah bumi di Manggihan ini unik karena banyak orang luar wilayah yang turut berbondong-bondong datang ke desa ini untuk ikut menyemarakkan tradisi ini.

Rangkaian sedekah bumi di Manggihan dimulai sejak pagi dengan kenduri oleh para warga, kemudian mereka membuka rumah masing-masing untuk siapa saja agar bersilaturahim dan mencicipi hidangan spesial yang telah mereka siapkan. Sampai malam kampung ini terus ramai oleh para tamu yang sebagian besar merupakan sanak saudara, kerabat, handai taulan, maupun teman yang sengaja diundang oleh warga desa. Puncak keramaian pada malam harinya, saat digelar pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk.

Menurut saya, sedekah bumi di Manggihan ini bukan semata-mata pesta rakyat biasa, namun di dalamnya terkandung sebuah filosofi yang mendalam. Tradisi ini merupakan letupan rasa syukur para warga atas limpahan karunia dari Tuhan, sehingga lazimnya digelar usai panen raya. Sedekah bumi sekaligus menjadi ajang bagi komunitas masyarakat untuk memperkuat relasi, baik internal maupun eksternal.

Salut untuk masyarakat Manggihan! Semoga Tuhan melimpahkan rahmat dan karunia untuk kita semua. Salam.

No comments:

Post a Comment