Skip to main content

Sedekah bumi Desa Manggihan

Desa mawa cara, negara mawa tata.

Ungkapan di atas tentu tak asing lagi bagi orang Jawa. Kurang lebih makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa setiap komunitas manusia punya aturan sendiri-sendiri, yang diekspresikan dalam adat istiadat, budaya lokal hingga hukum dan perundang-undangan. Perbedaan aturan itu hendaknya kita hargai dan hormati, bukan menjadi penghalang dalam bersilaturahim.

Hari Senin kemarin, saya diundang oleh salah seorang sahabat untuk meramaikan sebuah tradisi unik yang dikenal sebagai 'sedekah bumi'. Tradisi ini berkembang di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Hampir senada dengan upacara merti desa di banyak tempat, namun sedekah bumi di Manggihan ini unik karena banyak orang luar wilayah yang turut berbondong-bondong datang ke desa ini untuk ikut menyemarakkan tradisi ini.

Rangkaian sedekah bumi di Manggihan dimulai sejak pagi dengan kenduri oleh para warga, kemudian mereka membuka rumah masing-masing untuk siapa saja agar bersilaturahim dan mencicipi hidangan spesial yang telah mereka siapkan. Sampai malam kampung ini terus ramai oleh para tamu yang sebagian besar merupakan sanak saudara, kerabat, handai taulan, maupun teman yang sengaja diundang oleh warga desa. Puncak keramaian pada malam harinya, saat digelar pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk.

Menurut saya, sedekah bumi di Manggihan ini bukan semata-mata pesta rakyat biasa, namun di dalamnya terkandung sebuah filosofi yang mendalam. Tradisi ini merupakan letupan rasa syukur para warga atas limpahan karunia dari Tuhan, sehingga lazimnya digelar usai panen raya. Sedekah bumi sekaligus menjadi ajang bagi komunitas masyarakat untuk memperkuat relasi, baik internal maupun eksternal.

Salut untuk masyarakat Manggihan! Semoga Tuhan melimpahkan rahmat dan karunia untuk kita semua. Salam.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat