Skip to main content

Menuju masyarakat sadar karst

Kabut pagi yang dingin menyambut para penyadap kelapa yang telah bersiap menuju tegalan. Sementara para ibuk sudah sibuk di dapur masing-masing, mempersiapkan sarapan pagi bagi putera-puterinya yang hendak bersekolah. Begitulah rutinitas pagi sebagian besar masyarakat di kawasan Pegunungan Menoreh. Sebuah kawasan karst yang luasannya kurang lebih 15 km persegi terselip di gugusan pegunungan andesit tua ini, menjadikannya sebuah harta karun bagi peradaban manusia.

Kawasan karst Menoreh, atau sering disebut Formasi Jonggrangan memiliki fungsi alamiah yang penting. Sebagai zona tangkapan sekaligus cadangan air, kawasan ini nampak seperti tower air yang vital bagi wilayah di bawahnya. Goa-goa di kawasan ini juga menjadi habitat bagi biota eksotis, salah satunya laba-laba buta Amauropema matakecil.

Masyarakat Menoreh memiliki daya kreasi yang tinggi dan budaya yang adiluhung, terutama dalam menjaga harmoni alam. Ada berbagai jenis ritual adat yang pada intinya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, sekaligus sebagai perwujudan ungkapan kedekatan masyarakat terhadap alam yang melingkupinya.

Generasi mudanya juga sangat peka terhadap kemajuan jaman. Ini dapat diihat dari keterbukaan mereka terhadap ilmu pengetahuan modern. Salah satu upaya para pemuda di Menoreh untuk peduli lingkungan adalah dengan munculnya Komunitas Peduli Menoreh, yang bertujuan untuk mewadahi mereka-mereka yang haus akan ilmu pengetahuan dan wawasan baru yang bersifat konstruktif. Berbagai kegiatan telah mereka lakukan, mulai dari pemberdayaan masyarakat, pendidikan lingkungan, pengembangan pariwisata sadar lingkungan, hingga pengembangan minat dan hobi pemuda.  

Ritual doa bersama upacara adat Suranan dusun Banyunganti

Kirab jolen Upacara Saparan dusun Sokomoyo

Para penelusur goa lokal, bertekad mewujudkan masyarakat sadar karst dan goa.

Melalui komunitas green club Peduli Menoreh, mempersiapkan generasi muda peduli lingkungan.



Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat