Saturday, February 14, 2015

Menuju masyarakat sadar karst

Kabut pagi yang dingin menyambut para penyadap kelapa yang telah bersiap menuju tegalan. Sementara para ibuk sudah sibuk di dapur masing-masing, mempersiapkan sarapan pagi bagi putera-puterinya yang hendak bersekolah. Begitulah rutinitas pagi sebagian besar masyarakat di kawasan Pegunungan Menoreh. Sebuah kawasan karst yang luasannya kurang lebih 15 km persegi terselip di gugusan pegunungan andesit tua ini, menjadikannya sebuah harta karun bagi peradaban manusia.

Kawasan karst Menoreh, atau sering disebut Formasi Jonggrangan memiliki fungsi alamiah yang penting. Sebagai zona tangkapan sekaligus cadangan air, kawasan ini nampak seperti tower air yang vital bagi wilayah di bawahnya. Goa-goa di kawasan ini juga menjadi habitat bagi biota eksotis, salah satunya laba-laba buta Amauropema matakecil.

Masyarakat Menoreh memiliki daya kreasi yang tinggi dan budaya yang adiluhung, terutama dalam menjaga harmoni alam. Ada berbagai jenis ritual adat yang pada intinya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, sekaligus sebagai perwujudan ungkapan kedekatan masyarakat terhadap alam yang melingkupinya.

Generasi mudanya juga sangat peka terhadap kemajuan jaman. Ini dapat diihat dari keterbukaan mereka terhadap ilmu pengetahuan modern. Salah satu upaya para pemuda di Menoreh untuk peduli lingkungan adalah dengan munculnya Komunitas Peduli Menoreh, yang bertujuan untuk mewadahi mereka-mereka yang haus akan ilmu pengetahuan dan wawasan baru yang bersifat konstruktif. Berbagai kegiatan telah mereka lakukan, mulai dari pemberdayaan masyarakat, pendidikan lingkungan, pengembangan pariwisata sadar lingkungan, hingga pengembangan minat dan hobi pemuda.  

Ritual doa bersama upacara adat Suranan dusun Banyunganti

Kirab jolen Upacara Saparan dusun Sokomoyo

Para penelusur goa lokal, bertekad mewujudkan masyarakat sadar karst dan goa.

Melalui komunitas green club Peduli Menoreh, mempersiapkan generasi muda peduli lingkungan.



No comments:

Post a Comment