Skip to main content

Oleh-oleh dari Pulau Maratua (late post)

Entah mengapa akhir-akhir ini semangat posting jadi kendor, padahal ada banyak ide yang sudah memenuhi kepala. Awal Desember kemarin untuk kedua kalinya saya berangkat ke Pulau Maratua di Kalimantan Timur. Banyak hal yang ingin saya tulis, karena perjalanan ke pelosok-pelosok negeri itu selalu kaya akan pengalaman unik, lucu, konyol, namun pastinya sangat menyenangkan. Tapi nantilah, setelah mood mulai numbuh kembali. Yes, I'm extremely moody poor boy! hahaha.

Okelah sekarang saya cerita tentang sekilas perjalanan sajalah. Berikut ini sedikit oleh-oleh yang tercetak dalam gambar/ foto. Jangan coba-coba mengejek hasil jepretan saya. Kenapa? Foto-foto tersebut sangat berkesan buat saya, soalnya si kamera sekarang sudah wafat alias almarhum karena mandi di air. ( ToT)


 Kita mulai perjalanan menyusuri sungai dari Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau. Speed boatnya keren kan..mesinnya aja ada tiga biji. Tapi bukan itu yang kita tumpangi..eh.

Narsis boleh dong, bayangin aja hampir 5 jam di atas speed boat yang suaranya meraung-raung itu, siapapun juga lama-lama jenuh kalee..apalagi gak ada kamu, iya kamuu..eh.


Akhirnya merapat di dermaga Bohe Bukut. Bingung kan, kok bisa saya motret dari daratan, sementara speed boatnya belum merapat? Hahaha, ya memang aslinya kami sudah mendarat, dan itu speed boat sudah akan melanjutkan perjalanan ke kampung sebelah.

Selalu merasa pulang kampung. Jjiaahh lebay..baru dua kali ke sini kok bilang selalu.


Pagi hari yang cerah di Kampung Teluk Harapan (Bohe Bukut)
 

 Nah ini pemandangan di depan penginapan kami. Keren kan?


 Si kelomang kecil pun turut menikmati pagi di pantai Maratua.
 

Ini sebuah masjid di kampung Teluk Harapan, yang terus direnovasi hingga makin bagus. Lebaran tahun 2012 saya shalat Ied di masjid ini, dan mata saya berkaca-kaca karena teringat rumah.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat