Skip to main content

Amazing Lombok: sebuah catatan perjalanan

 Pantai Pink.

Ini adalah kali pertama saya mengunjungi Pulau Lombok. Menginjakkan kaki di Bandara Internasional Lombok (LOP), saya langsung merasa nyaman dengan pulau ini. Orang-orangnya ramah dan nampak bersahabat. Saat saya mencicipi nasi balap di depan bandara, saya suka dengan cita rasanya. Cocok dengan lidah saya, meskipun saya orang Jogja tulen. Semakin mengenal pulau ini, saya semakin nyaman dengan suasananya yang khas. Antara relijius dan berbudaya, begitu kesan yang saya tangkap. Banyak masjid, mushola, dan pesantren mewarnai setiap sudut kota, mencerminkan kesan islamis yang kental.


Natural bridge Pantai Pink

Pantai Pink di Kab. Lombok Timur menjadi favorit buat saya. Pantai ini memiliki panorama yang cantik dan memanjakan mata. Pasir pantai yang berwarna merah jambu menjadi atraksi yang sangat memikat. Di sebelah kiri, ada tebing yang bersinggungan langsung dengan laut, ada sebuah natural bridge di ujung sana, dengan pulau-pulau kecil di depannya.

 Pulau kecil Pantai Pink

Gugusan pulau-pulau kecil itu mengingatkan saya pada Rajaampat (meskipun saya belum pernah ke sana). Dengan kombinasi air lautnya yang crystal clear, menampilkan panorama yang benar-benar menyejukkan mata.


 Gembala Kerbau

Di sebelah kanan Pantai Pink ini ada hamparan padang rumput, di mana para penggembala memanjakan kerbau-kerbaunya dengan rumput yang segar. Kerbau-kerbau itu jinak, dan tidak merasa terganggu dengan kehadiran saya di tengah-tengah mereka.

 Human interest (pemancing di Sebuwok)

Aktivitas nelayan menjadi pemandangan yang familiar di sepanjang garis pantai.  Di sekitar Teluk Ekas terdapat kampung nelayan yang orang-orangnya sangat ramah.


 Mampir ke Kuta Lombok

Saya dan rombongan juga menyempatkan diri mengunjungi pantai cantik yang sudah sedemikian terkenal, Kuta Lombok. Pantai ini menjadi destinasi wisata andalan bagi Kab. Lombok Tengah. Banyak wisatawan asing datang ke sini dan menikmati sunset sambil bercengkerama di tepi pantai yang romantis. Tentu saja setelah seharian mereka berselancar. Lombok memang surganya para peselancar.

Puncak Pegasingan

Tidak hanya pantai, panorama pegunungan Lombok juga sangat memikat. Saya sempat mengabadikan panorama puncak Pegasingan di gugusan Gunung Rinjani. Konon puncak ini merupakan tempat berkemah favorit bagi wisatawan dan pendaki pemula.

 Cafe Sembalun

Saya yang penggemar kopi tentu tak mau ketinggalan mencicipi kopi khas Lombok. Orang Lombok memang suka ngopi. Kopinya juga unik karena dicampur dengan rempah-rempah yang menghasilkan rasa yang khas. Mampirlah saya di sebuah warung kopi di Sembalun. Pak Wathan, pemilik warung ini juga menjual pernak-pernik khas Lombok, seperti kain tenun, topi pandan, dan aneka kerajinan lainnya. Pak Wathan bukan semata-mata berbisnis di tempat ini, namun beliau sekaligus memberdayakan masyarakat di sekitarnya untuk menjalankan roda ekonomi berbasis masyarakat.


Dan akhirnya saya harus bilang I love U, Lombok dan seluruh kenangan manismu

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat