Skip to main content

Subterranean Maratua

Beberapa hari yang lalu saya diajak ke Pulau Maratua, salah satu pulau terluar di Kalimantan Timur. Misi kami adalah melakukan studi terhadap potensi air beberapa goa di pulau itu. Untuk mendapatkan data salah satunya dilakukan tes pemompaan terhadap kolam-kolam bawah tanah yang berada di dasar goa. Potensi bawah tanah di pulau ini bukan berupa sungai bawah tanah, melainkan kolam-kolam yang mengatuskan air perkolasi, dan membentuk lensa air tawar mengapung di atas air asin. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji.

Ada beberapa goa yang dikaji, namun yang paling berkesan adalah Goa Siabik karena goa ini memiliki tingkat kesulitan tinggi. Saya bahkan menyebutnya sebagai misi yang tidak masuk akal. Menurunkan pompa dan peralatan penelitian lainnya menuju dasar goa yang super sempit dan berbatu tajam menjadi tantangan yang harus bisa kami jawab.

Perlu empat hari untuk menyelesaikan misi di goa ini. Sehari untuk survei permulaan dan pemetaan, sehari untuk mendesain dan memasang lintasan, sehari untuk menurunkan pompa dan dilanjutkan pemompaan, dan sehari untuk mengangkat mesin pompa dan cleaning lintasan. Entah berapa kali kami naik turun lorong super sempit itu dan memastikan semuanya sesuai rencana. Misi ini tidak mentolerir sedikitpun kesalahan. Keteledoran bisa berakibat gagalnya misi penelitian atau bahkan berakibat fatal bagi keselamatan tim.

Goa sedalam 30 meter ini berupa sistem crack / rekahan batu memanjang arah barat daya-tenggara. Goa ini terdiri dari beberapa pitch (sumuran vertikal) dan slop (lorong miring) untuk menuju dasar goa. Di dasar goa inilah terdapat kolam pasang surut yang mengisi celah batuan memanjang mengikuti struktur rekahan. Airnya cenderung payau mengingat sebelumnya pulau ini sempat dilanda kemarau cukup panjang.

Potensi air di Siabik dan goa-goa lainnya memang kurang layak untuk konsumsi. Namun masih dapat dimanfaatkan bagi masyarakat, setidaknya untuk keperluan MCK dan mencuci.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat