Wednesday, December 10, 2014

Subterranean Maratua

Beberapa hari yang lalu saya diajak ke Pulau Maratua, salah satu pulau terluar di Kalimantan Timur. Misi kami adalah melakukan studi terhadap potensi air beberapa goa di pulau itu. Untuk mendapatkan data salah satunya dilakukan tes pemompaan terhadap kolam-kolam bawah tanah yang berada di dasar goa. Potensi bawah tanah di pulau ini bukan berupa sungai bawah tanah, melainkan kolam-kolam yang mengatuskan air perkolasi, dan membentuk lensa air tawar mengapung di atas air asin. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji.

Ada beberapa goa yang dikaji, namun yang paling berkesan adalah Goa Siabik karena goa ini memiliki tingkat kesulitan tinggi. Saya bahkan menyebutnya sebagai misi yang tidak masuk akal. Menurunkan pompa dan peralatan penelitian lainnya menuju dasar goa yang super sempit dan berbatu tajam menjadi tantangan yang harus bisa kami jawab.

Perlu empat hari untuk menyelesaikan misi di goa ini. Sehari untuk survei permulaan dan pemetaan, sehari untuk mendesain dan memasang lintasan, sehari untuk menurunkan pompa dan dilanjutkan pemompaan, dan sehari untuk mengangkat mesin pompa dan cleaning lintasan. Entah berapa kali kami naik turun lorong super sempit itu dan memastikan semuanya sesuai rencana. Misi ini tidak mentolerir sedikitpun kesalahan. Keteledoran bisa berakibat gagalnya misi penelitian atau bahkan berakibat fatal bagi keselamatan tim.

Goa sedalam 30 meter ini berupa sistem crack / rekahan batu memanjang arah barat daya-tenggara. Goa ini terdiri dari beberapa pitch (sumuran vertikal) dan slop (lorong miring) untuk menuju dasar goa. Di dasar goa inilah terdapat kolam pasang surut yang mengisi celah batuan memanjang mengikuti struktur rekahan. Airnya cenderung payau mengingat sebelumnya pulau ini sempat dilanda kemarau cukup panjang.

Potensi air di Siabik dan goa-goa lainnya memang kurang layak untuk konsumsi. Namun masih dapat dimanfaatkan bagi masyarakat, setidaknya untuk keperluan MCK dan mencuci.