Friday, October 31, 2014

That's called canyoning!


Abseiling Kembangsoka waterfall

Jump into the pool

Jump..jump..jump!
Having fun with canyon

Amazing experience, canyoning in Kembangsoka, Menoreh




Monday, October 27, 2014

Mencintai sungai dengan canyoning




"Olah raga menyenangkan itu contohnya canyoning. Anda bisa loncat-loncat di antara bebatuan sungai. Lalu meluncur di jeram licin sambil teriak ‘wooo hooooo!!’. Byuurrr!! bisa juga melompat ke dalam pool yang dalam, kemudian berenang ke tepi. Dan yang paling seru tentunya abseiling di air terjun. Di canyoning Anda tidak perlu malu untuk kembali menjadi anak kecil. Wooo hooooo!!"


Indonesia sebagai negara tropis, kaya akan sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun. Di daerah pegunungan, sungai membentuk alur-alur yang dalam dan memiliki aliran yang deras. Dan tentu saja, banyak air terjun yang cantik. Keindahan itu lebih sempurna untuk dinikmati, dengan satu aktivitas yang disebut canyoning.

Canyoning merupakan perpaduan antara berjalan, memanjat, melompat, berenang, dan abseiling / rapeling. Aktivitas ini menjadi sangat menyenangkan jika didukung kemampuan teknik dan kondisi fisik dan mental yang prima. Dan yang paling penting harus diperhatikan, canyoning adalah aktivitas yang mengandung resiko tinggi. Maka standar keamanan meliputi penguasaan teknik dan peralatan yang memadai wajib menjadi perhatian utama.

Peralatan yang dibutuhkan dalam canyoning antara lain: wetsuit, harness (harness khusus canyoning memiliki pelindung pantat), tali kernmantel, descender (biasanya menggunakan pirana), carabiner, dll. Penguasaan teknik juga wajib dimiliki seorang canyoneer, mulai dari teknik melompat, berenang, dan tentunya abseiling. 

Dengan ber-canyoning, kita akan lebih mengenal sungai-sungai yang kita miliki, dan kemudian mencintai dan menjaganya. Go canyon!

Saturday, October 11, 2014

Air terjun Kembang Soka






Menyusuri sungai Bangki, kami bergerak turun dengan cepat. Kami tidak sabar untuk mencapai pertemuan dengan sungai lainnya, Mudal. Alur-alur sungai ini berada di dusun Gunungkelir, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Sebelum titik pertemuan kedua sungai (tempuran), ada air terjun yang konon menyuguhkan panorama yang eksotis.

Tak lama kami berjalan, sebuah air terjun sudah menanti. Tingginya kurang lebih 10 meter, dengan kemiringan hampir 90 derajat. Curug Kemiri, begitulah orang-orang menyebutnya. Kami memutuskan untuk turun menggunakan teknik tali tunggal (SRT). Ada sensasi tersendiri saat air terjun mengguyur tubuh yang menggantung pada seutas tali. Sayangnya di puncak musim kenarau seperti saat ini, debit air di sungai ini hanya kecil.

Di sepanjang jalur turun vertikal ini tumbuh lumut dan tanaman kecil yang membentuk panorama yang sangat indah. Saya benar-benar dimanjakan dengan formasi tumbuhan yang membentuk laksana karpet alam.

Dan benar saja, di samping air terjun yang kami turuni ini ada air terjun lain yang berasal dari sungai Mudal. Namanya curug Kembangsoka. Kami tak bisa menyembunyikan perasaan exited. Bak anak kecil, kami berlari-lari sambil teriak-teriak kegirangan. Wow ini surga dunia bung! Air terjun setinggi sekitar 5 meter yang airnya jernih dengan kemilau kehijauan yang dihasilkan dari warna tanaman air yang tumbuh sehat di bawahnya.

Nanti saat musim hujan telah tiba dan sungai-sungai itu kembali mengalir deras, kami pasti akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk mengunjunginya.

Terima kasih: Pak Ju, Kang Mur, Ary, Hery, Jubleg

Tuesday, October 7, 2014

Amazing Menoreh

Saya dan Nicko 

Kali ini dalam keadaan santai sambil menikmati secangkir teh, saya coba berbagi pengalaman saya bersahabat dengan dunia bawah tanah. Pastinya Anda sering mendengar istilah karst. Jika kita mendengar istilah karst, maka umumnya yang terbayang adalah sebuah kawasan berbatu yang kering dan tandus. Tetapi pemandangan yang berbeda akan Anda saksikan di kawasan karst sempit di Pegunungan Menoreh. Kawasan karst ini biasa disebut Karst Jonggrangan, terbentuk pada formasi batuan karbonat yang berumur Miosen. Vegetasi yang masih lebat menutupi permukaan kawasan ini karena didukung lapisan tanah yang tebal dan subur. Terletak pada ketinggian 650-800 mdpl, wilayah ini berhawa sejuk.

Puluhan gua berada di wilayah ini, baik gua vertikal maupun horizontal. Sebagian besar gua horizontal merupakan sistem sungai bawah tanah. Salah satu yang terkenal adalah sistem Kiskendo-Sumitro. Gua Kiskendo ini merupakan gua yang paling panjang dan paling rumit di Menoreh. Gua ini memiliki banyak pintu masuk (multiple entrance), bercabang, dan bertingkat-tingkat. Sebagian lorong di gua ini telah dibuka untuk keperluan wisata, dan merupakan salah satu objek wisata andalan di kabupaten Kulon Progo. Gua-gua lainnya memiliki potensinya masing-masing, seperti sebagai penyuplai air, habitat spesifik biota gua, dll.

Menyusuri gua-gua di Menoreh memberikan pengalaman tersendiri. Saya datang ke sini mencicipi dunia bawah tanahnya untuk pertama kali sekitar 8 tahun yang lalu, dan langsung jatuh cinta dengan gua-gua kawasan ini. Tipikal gua di sini cenderung sulit ditelusuri, misalnya karena lorong-lorongnya yang sempit, tambatan (anchor) yang terbatas, dan potensi banjir yang relatif tinggi. Saya pernah menemui lorong sempit yang lumayan panjang hingga hampir frustasi menghadapinya. Terkadang masih diperparah dengan kondisi batuannya yang tajam. Lorong semacam itu menuntut kondisi fisik yang prima dan perlengkapan yang memenuhi standar, baik helm, pakaian, sepatu, maupun logistik lainnya. Pelindung siku dan lutut akan sangat bermanfaat mengahadapi lorong seperti itu.

Gua-gua vertikal di Menoreh terkenal miskin tambatan (anchor), kalaupun ada batu tembus, seringkali kekuatannya tidak layak. Mungkin karena banyaknya lumut di sekitar pintu masuk, membuat batuan menjadi rapuh. Saya pernah mengalami anchor jebol, untungnya saya membuat banyak back up tambatan. Rigging di Menoreh memerlukan perhatian ekstra. Sebaiknya menggunakan pohon untuk tambatan utamanya, itu lebih aman ketimbang memaksakan menggunakan batu yang kurang layak. Kondisi mulut gua umumnya licin karena tumbuhnya lumut. Ini juga perlu diperhatikan para penelusur gua.

Seperti saya sampaikan di atas, sebagian besar gua-gua di sini merupakan sungai bawah tanah. Berdasarkan pengalaman, sistem sungai bawah tanah di Menoreh masih memiki drainase yang baik. Waktu tunda (time lag) air hujan relatif lama. Meskipun demikian, sangat beresiko melakukan penelusuran pada musim penghujan. Muka air akan naik, dan pada beberapa tempat bahkan akan memenuhi lorong. Saya pernah menjumpai jejak banjir di atap lorong gua Kiskendo yang tingginya sekitar 3 meter. Naiknya muka air ini umumnya disebabkan profil lorong yang menyempit, sehingga tidak cukup mengalirkan volume air yang datang.

Apa yang saya sampaikan di atas adalah bahaya penelusuran gua dari sudut pandang anthroposentris (resiko bagi penelusur). Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah ancaman dari sudut pandang speleosentris (resiko terhadap gua). Misalnya ancaman terhadap ekosistem gua. Meskipun kawasan karst ini relatif sempit, namun memiliki nilai penting bagi jenis-jenis unik yang khas hipogean (bawah permukaan tanah). Yang paling spesial dari kawasan ini adalah Amauropelma matakecil, jenis laba-laba buta yang sampai saat ini hanya tercatat di 4 gua saja. Penelusuran gua yang serampangan bisa menjadi bencana bagi laba-laba matakecil dan jenis-jenis unik lainnya.

 Nicko yang kelelahan

Sebagai penutup tulisan ini, saya coba memberikan beberapa tips yang semoga akan membantu para penelusur:
1. Pastikan bahwa kegiatan penelusuran yang Anda rencanakan memang memiliki tujuan yang jelas dan mendapat ijin dari otoritas setempat.
2. Hindari musim penghujan, cuaca bisa berubah dengan cepat di kawasan ini.
3. Pelajari profil lorong, jika petanya sudah tersedia.
4. Gunakan pakaian yang mudah kering dan bisa menjaga kehangatan.
5. Ektra berhati-hati dalam merencanakan rigging.




Friday, October 3, 2014

Jogja Bird Walk: edisi Jagongan Menoreh

Peserta JBW berpose di depan base camp.

Jogja Bird Walk (JBW) bulan September 2014 ini digelar di Dusun Sokomoyo, Jatimulyo, Girimulyo, Kab. Kulonprogo; tepatnya tanggal 27-28 September 2014. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Komunitas Peduli Menoreh dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ). Puluhan peserta yang berasal dari komunitas pengamat burung dari kota Yogyakarta telah tiba di lokasi pada Sabtu sore, kemudian dilanjutkan acara keakraban pada malam harinya. Suasana hangat terasa saat paserta dan panitia membaur menghadap api unggun sambil membakar jagung. Beberapa yang lain asyik memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu yang sedang hits. Cerita demi cerita pengalaman mengalir diselingi gelak tawa, memupuk rasa persaudaraan di antara mereka yang memiliki kesamaan hobi.

Pagi buta peserta sudah segar kembali dan siap menyusuri jalan-jalan setapak kampung untuk 'memburu' burung-burung yang hidup bebas di kampung Sokomoyo ini. Kali ini ada yang spesial, karena akan ada puluhan peserta tambahan dari anak-anak yang tergabung dalam Green Club 'Peduli Menoreh'. Mereka terdiri dari anak-anak Sokomoyo usia SD-SMP. Para peserta dari Yogya diharapkan bisa berbaur dan sekaligus menjadi tutor bagi adik-adik green club tersebut. Tidak mudah mengajari anak-anak, karena mereka sangat aktif dan acapkali memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Tetapi kesabaran para kakak pengamat burung membuat acara pengamatan di pagi itu sukses. Menjelang siang, acara dilanjutkan di base camp berupa sharing hasil pengamatan dan diselingi games.

 Pengamatan burung bersama green club.

Inti dari acara JBW kali ini sebenarnya baru dimulai pada pukul 13.30. Setelah agak molor dari jadwal, acara yang ditunggu-tunggu pun akhirnya dimulai. Kali ini para peserta akan diajak berdiskusi tentang kelestarian burung di kawasan Menoreh, khususnya di lingkup Desa Jatimulyo. Acara sarasehan ini dipandu oleh Sidiq Harjanto, dan menghadirkan beberapa narasumber yaitu Bapak Anom Sucondro selaku lurah Jatimulyo, Imam Taufiqurrahman (peneliti & pengamat burung senior), Asman Adi Purwanto (peneliti burung raptor), dan Nurina Indriyani (mahasiswa peminat penelitian burung). Hadir pula Bapak Atok Rahmadi selaku penyuluh konservasi Badan Lingkungan Hidup (BLH) Daerah Istimewa Yogyakarta, serta tokoh pemuda di Desa Jatimulyo. Sarasehan ini ditujukan sebagai ajang berbagi informasi, menggali potensi, dan mengumpulkan masukan bagi para pihak terkait dalam upaya pelestarian burung di Menoreh.


 Suasana sharing

Dalam sarasehan ini terungkap beberapa hal yang menarik, seperti yang disampaikan Mas Imam yang telah membuat kompilasi data kekayaan jenis burung di Sokomoyo dan sekitarnya. Dalam paparannya, diketahui ada sekitar 68 jenis burung di kawasan ini, dengan 13 jenis di antaranya endemik Jawa, dan 11 jenis dilindungi Undang-undang. Beberapa jenis yang sulit dijumpai di wilayah lain di DIY, masih mudah dijumpai di kawasan ini. Sementara narasumber lain, Mas Asman menyampaikan bahwa kawasan Menoreh ini merupakan jalur migrasi bagi burung raptor migran, sehingga layak untuk dikaji lebih jauh. Nurina, mahasiswa Fak. Biologi UGM, yang meneliti struktur sarang burung sikatan cacing (Cyornis banyumas), mengungkapkan bahwa pohon aren memiliki nilai penting bagi kelestarian sikatan cacing mengingat burung ini menggunakan bagian ijuk tanaman yang kini banyak ditebang ini, sebagai material pokok sarang.

Bapak Anom Sucondro menyampaikan bahwa untuk melestarikan lingkungan hidup di wilayah Desa Jatimulyo, telah diterbitkan aturan lokal berupa Peraturan Desa (Perdes) Nomor 8 tahun 2014. Dalam perdes tersebut telah tertulis larangan kegiatan perburuan di wilayah Jatimulyo, berikut ancaman sanksi bagi para pelanggarnya. Telah terbitnya perdes ini disambut baik oleh para pengamat burung, dan diharapkan nantinya akan ada komunikasi lebih lanjut antara komunitas pengamat burung dengan pemerintah desa dalam menyukseskan pelaksanaan aturan tersebut. Akhirnya diskusi yang sangat menarik itu harus diakhiri, dan para peserta pulang ke rumah masing-masing dengan membawa PR untuk memikirkan bersama kelestarian Desa Jatimulyo sebagai habitat penting untuk burung, tempat bermain para pehobi pengamatan burung.

*) Foto koleksi panitia JBW