Skip to main content

Jogja Memang Istimewa: pentas seni tradisional di taman Gua Kiskendo

Persiapan para penari jathilan sebelum pentas

Dengan tajuk Jogja Memang Istimewa, pentas seni tradisional ini digelar di taman Gua Kiskendo, 20-21 September 2014. Seni yang ditampilkan meliputi kesenian angguk putri, jathilan gedrug wanara, dan campur sari. Acara ini juga dimeriahkan dengan lomba mancing dan lomba senam sehat joget oplosan. Acara ini sukses menyedot animo masyarakat, baik masyarakat lokal maupun pengunjung objek wisata Gua Kiskendo.

Dalam sambutannya, Bapak Suharno selaku perwakilan panitia menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk mendukung keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus memberi sarana bagi masyarakat untuk berkreasi khususnya dalam bidang seni budaya. Bapak Anom Sucondro selaku lurah Jatimulyo mengapresiasi kerja keras Pokdarwis Gua Kiskendo beserta masyarakat yang menentukan kesukseskan acara ini. Beliau juga menghimbau masyarakat Jatimulyo untuk terus bersemangat bahu-membahu membangun kepariwisataan di Jatimulyo.

Bupati Kulon Progo,  dr. Hasto Wardoyo yang berkenan menghadiri acara pentas seni ini menyampaikan bahwa pemerintak kabupaten akan terus mendukung upaya masyarakat untuk mengembangkan potensi yang ada di Kulon Progo. Beliau juga menekankan agar masyarakat mendukung program unggulan pemkab, 'beli bela Kulonprogo', sebuah kampanye untuk mendahulukan membeli produk lokal yang dihasilkan Kulon Progo.

Acara ini semakin meriah dengan hadirnya para bintang tamu yang terkenal seperti Dalijo 'angkring' dan para penyanyi dari wilayah DIY.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat