Skip to main content

Dedikasi tiada henti: sosok teladan


Nama beliau Hadi Suwito, atau biasa dipanggil Mbah Hadi Slamet (Slamet adalah nama kecil beliau). Kakek berusia kurang lebih 80 tahun ini adalah juru kunci Gua Kiskendo, salah satu gua wisata yang cukup populer di Kab. Kulon Progo. Mbah Hadi sudah terlibat dalam pengembangan wisata di Kiskendo sejak mulai dibuka pada era 80-an. Beliau kemudian diberi amanat untuk menjadi juru kunci gua ini sampai sekarang.

Tugas seorang juru kunci tidaklah mudah. Beliau inilah yang bertanggung jawab menjaga Gua Kiskendo (terutama dalam hal spiritual). Maklum saja, gua adalah salah satu tempat yang bagi masyarakat lokal kental dengan aroma mistis. Hampir setiap hari Mbah Hadi berjaga di depan pintu gua, siap mengantar para pengunjung untuk menyaksikan fenomena menakjubkan yang ada di dalam Gua Kiskendo. Dengan sabar beliau juga akan menjelaskan sejarah dan mitos yang ada di gua yang berada di ketinggian sekitar 700 mdpl ini.

Mbah Hadi yang puluhan tahun menjadi juru kunci Gua Kiskendo sangat hafal seluk beluk lorong-lorong di dalamnya. Beliau seringkali memberikan petuah agar kita semua bisa bersahabat dengan alam, dengan cara menghargai dan melestarikannya. Di usianya yang tak lagi muda, Mbah Hadi memberikan contoh pengabdian yang luar biasa bagi masyarakat. Keikhlasan dan dedikasi tanpa mengharap imbalan menjadi pelajaran berharga dari kakek yang satu ini.

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat