Sunday, September 21, 2014

Jogja Memang Istimewa: pentas seni tradisional di taman Gua Kiskendo

Persiapan para penari jathilan sebelum pentas

Dengan tajuk Jogja Memang Istimewa, pentas seni tradisional ini digelar di taman Gua Kiskendo, 20-21 September 2014. Seni yang ditampilkan meliputi kesenian angguk putri, jathilan gedrug wanara, dan campur sari. Acara ini juga dimeriahkan dengan lomba mancing dan lomba senam sehat joget oplosan. Acara ini sukses menyedot animo masyarakat, baik masyarakat lokal maupun pengunjung objek wisata Gua Kiskendo.

Dalam sambutannya, Bapak Suharno selaku perwakilan panitia menyampaikan bahwa acara ini bertujuan untuk mendukung keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, sekaligus memberi sarana bagi masyarakat untuk berkreasi khususnya dalam bidang seni budaya. Bapak Anom Sucondro selaku lurah Jatimulyo mengapresiasi kerja keras Pokdarwis Gua Kiskendo beserta masyarakat yang menentukan kesukseskan acara ini. Beliau juga menghimbau masyarakat Jatimulyo untuk terus bersemangat bahu-membahu membangun kepariwisataan di Jatimulyo.

Bupati Kulon Progo,  dr. Hasto Wardoyo yang berkenan menghadiri acara pentas seni ini menyampaikan bahwa pemerintak kabupaten akan terus mendukung upaya masyarakat untuk mengembangkan potensi yang ada di Kulon Progo. Beliau juga menekankan agar masyarakat mendukung program unggulan pemkab, 'beli bela Kulonprogo', sebuah kampanye untuk mendahulukan membeli produk lokal yang dihasilkan Kulon Progo.

Acara ini semakin meriah dengan hadirnya para bintang tamu yang terkenal seperti Dalijo 'angkring' dan para penyanyi dari wilayah DIY.

Dedikasi tiada henti: sosok teladan


Nama beliau Hadi Suwito, atau biasa dipanggil Mbah Hadi Slamet (Slamet adalah nama kecil beliau). Kakek berusia kurang lebih 80 tahun ini adalah juru kunci Gua Kiskendo, salah satu gua wisata yang cukup populer di Kab. Kulon Progo. Mbah Hadi sudah terlibat dalam pengembangan wisata di Kiskendo sejak mulai dibuka pada era 80-an. Beliau kemudian diberi amanat untuk menjadi juru kunci gua ini sampai sekarang.

Tugas seorang juru kunci tidaklah mudah. Beliau inilah yang bertanggung jawab menjaga Gua Kiskendo (terutama dalam hal spiritual). Maklum saja, gua adalah salah satu tempat yang bagi masyarakat lokal kental dengan aroma mistis. Hampir setiap hari Mbah Hadi berjaga di depan pintu gua, siap mengantar para pengunjung untuk menyaksikan fenomena menakjubkan yang ada di dalam Gua Kiskendo. Dengan sabar beliau juga akan menjelaskan sejarah dan mitos yang ada di gua yang berada di ketinggian sekitar 700 mdpl ini.

Mbah Hadi yang puluhan tahun menjadi juru kunci Gua Kiskendo sangat hafal seluk beluk lorong-lorong di dalamnya. Beliau seringkali memberikan petuah agar kita semua bisa bersahabat dengan alam, dengan cara menghargai dan melestarikannya. Di usianya yang tak lagi muda, Mbah Hadi memberikan contoh pengabdian yang luar biasa bagi masyarakat. Keikhlasan dan dedikasi tanpa mengharap imbalan menjadi pelajaran berharga dari kakek yang satu ini.

Sunday, September 7, 2014

Laba-laba, ada di mana-mana namun sering terlupakan













Laba-laba dari Suku Sparassidae ini mungkin saja bersembunyi di balik bantal Anda.

Judul di atas terkesan provokatif, tetapi memang sepertinya itu adalah kondisi faktual saat ini. Kita bisa menemukan laba-laba, si hewan bertungkai delapan, hampir di setiap tempat di bumi ini. Tentunya selain perairan dan es di kutub. Tengoklah di kolong ranjang, atau meja. Bisa jadi ada laba-laba bertungkai panjang yang bersarang di sana. Di taman, laba-laba peloncat seringkali nampak menggemaskan menunjukkan sikapnya yang curious. Sampai di habitat ekstrim seperti gua, laba-laba masih bisa dijumpai. Seperti laba-laba Amauropelma matakecil yang hidup di gua-gua dengan ekosistem tertutup di kawasan Menoreh.

Selain mudah dijumpai, laba-laba juga mempunyai peranan yang besar dalam ekosistem. Misalnya laba-laba pemburu dari suku Lycosidae yang merupakan sahabat bagi para petani. Laba-laba ini hidup di areal persawahan dan aktif memburu serangga yang berpotensi menjadi hama, seperti wereng. Perilaku hidup sebagai predator menjadikan laba-laba menjadi agen pengontrol populasi. Melalui konsep pengelolaan hama terpadu (PHT), laba-laba sengaja dijaga keberadaannya untuk menjadi agensia pengendali populasi serangga hama.

Laba-laba, sebagai fauna yang sangat dengan kehidupan kita, dan menyumbangkan peranan yang besar dalam ekosistem sudah selayaknya kita perhatikan keberadaannya. Sedikitnya minat untuk mengkaji laba-laba menjadi tantangan untuk dijawab para calon-calon peneliti di masa depan. Negeri kita sangat kaya akan hewan anggota Kelas Arachnida itu, dan sangat besar peluang untuk mengembangkan ilmu perlaba-labaan di Indonesia. Peran para peneliti sangat diharapkan untuk mengungkapnya.

Sebagian orang masih menganggap laba-laba sebagai hewan berbahaya, atau terkesan menakutkan. Pandangan ini yang harus disingkirkan jauh-jauh, karena faktanya sedikit sekali jenis laba-laba yang berbahaya bagi manusia. Yang perlu kita lakukan adalah mengetahui jenis-jenis apa yang berbahaya, dan memahami bagaimana cara memperlakukan mereka dengan baik. Tidak ada alasan untuk menjadi arachnophobia!

Jagongan Menoreh













Pegunungan Menoreh merupakan deretan bukit nan hijau yang menjadi batas alami dua wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Kulonprogo di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Purworejo di Provinsi Jawa Tengah. Kawasan ini menyimpan kekayaan alam yang perlu dilestarikan bersama-sama. Banyak individu maupun kelompok pegiat keanekaragaman hayati yang telah melakukan kajian mengenai kekayaan alam Menoreh, namun belum ada kompilasi data yang mampu memberikan informasi yang lengkap. Adanya informasi yang lengkap dirasa perlu untuk menjadi dasar dalam memberikan masukan kepada para pihak terkait dalam mengelola kawasan ini secara berkelanjutan.

Berangkat dari realita tersebut, tercetuslah ide sederhana untuk mengumpulkan para pegiat keanekaragaman hayati untuk duduk bersama, saling berinteraksi dan berbagi informasi. Dengan ada kegiatan bersama tersebut diharapkan akan menjadi momentum awal bagi para pegiat dan masyarakat lokal untuk bekerja sama, bahu membahu untuk terus menggali kekayaan alam Menoreh, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi konservasi kawasan.

Kekayaan burung (avifauna) menjadi tema utama dalam kegiatan yang bertajuk ‘ngEPISENTRUM, Jagongan Menoreh’ ini. Burung dipilih karena kelompok satwa ini merupakan salah satu yang paling familiar di kalangan masyarakat dan para pegiat keanekaragaman hayati. Banyak pengamat burung yang telah berkontribusi nyata dalam pendataan avifauna kawasan Menoreh. Di dalam kegiatan inilah kami bermaksud mengundang mereka untuk berbagi informasi dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, demi kelestarian avifauna Menoreh.

Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 27-28 September 2014 di Dusun Sokomoyo, Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogo. Kami mengundang segenap komunitas pegiat keanekaragaman hayati (pengamat burung, mapala, LSM), maupun perorangan, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

Informasi tentang kegiatan ini akan terus diperbaharui.