Skip to main content

Amazing Asnawi

Mencapai Gua Asnawi di lereng Gunung Sepintiang, Kab. Lahat, membutuhkan perjuangan tersendiri. Bagaimana tidak, jalan menuju gua ini terjal dan licin. Ditambah beban perbekalan di punggung, perjalanan itu sangat melelahkan. Tetapi setelah memasuki pintu masuk gua yang dulunya dibuat pagar itu, semua rasa lelah itu sirna. Baru berjalan beberapa meter, beberapa ekor Stennaselus nampak tenang di sebuah genangan air. Itu pertama kalinya saya menyaksikan jenis udang gua dari kelompok Isopoda itu di habitat alaminya.

Stennaselus dari Gua Asnawi. (Dok. Sidiq Harjanto)

Semakin masuk ke dalam, udang itu semakin banyak. Sangat banyak untuk ukuran stigobion (sebutan untuk biota air khas gua). Sebuah aliran sungai kecil itu dipenuhi udang buta yang tubuhnya berwarna merah muda itu. Saya harus melangkah pelan sekali, menghindari agar tidak menginjak salah satu di antara mereka. Air sungai itu sangat jernih. Tdak ada sampah, bahkan endapan lumpurnya juga sangat sedikit. Mungkin karena vegetasi di sekitar gua ini masih relatif terjaga.

Lorong yang kami telusuri mungkin sekitar 500 meter. Entah, saya terlalu exited dengan temuan-temuan di gua itu, sampai tidak terlalu memperhatikan seberapa jauh kami melangkah. Ini tidak safe sih... Di ujung perjalanan, tim saya menjumpai lorong vertikal kurang lebih 20 meter. Di bawah sana terdengar gemuruh air yang menandakan ada sungai yang lebih besar. Penelusuran dihentikan, karena waktu sudah tidak memungkinkan.


Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat