Meretas Paradoks Kopi

Setiap memikmati secangkir kopi, ada kemungkinan kita turut membantu menyelamatkan hutan. Atau bisa juga malah merusaknya. Kopi mungkin buka...


Setiap memikmati secangkir kopi, ada kemungkinan kita turut membantu menyelamatkan hutan. Atau bisa juga malah merusaknya. Kopi mungkin bukan sekadar benda netral, tetapi merupakan pilihan sikap. Bahkan, bisa jadi sebuah idealisme yang pada akhirnya membentuk identitas kita.

Jika kita bertanya tentang apa yang paling langka di alam semesta, jawabannya bukan emas, berlian, atau mineral berharga lainnya. Profesor Brian Cox, seorang astrofisikawan asal Inggris, menyebut kayu sebagai barang paling langka di alam semesta–setidaknya sebelum ditemukan kehidupan lain yang menyerupai kita di luar planet Bumi. Fakta ini menakjubkan dan mengundang perenungan bagi kita.

Jika sebuah roket membawa kita terbang ke luar angkasa untuk melihat Bumi dari sana, sepanjang daratan garis khatulistiwa tampak paling hijau. Ini menandakan sebagai kawasan yang paling kaya keanekaragaman hayati di seantero planet. Bahkan, sejauh ini di seluruh semesta raya. Hutan-hutan membentang dengan kayu-kayu raksasa, satwa berkeliaran, dan segala kehidupan di dalamnya. Alam tropis kita tidak hanya kaya, namun juga kompleks. Kerusakan sebagian komponen bisa memusnahkan sebagian lainnya, termasuk kita sendiri. 

Kopi, minuman yang menjaga mata kita terjaga dan memberi energi neuron-neuron di otak untuk menjalankan proses akal budi, ironisnya merupakan paradoks. Ia bisa menjadi "monster" perusak hutan dan alam milik kita melalui praktik penanaman yang serampangan–pembudidayaan yang membabat hutan. Tetapi di sisi lain, juga berpotensi menjadi agen penyelamat untuk membangun kembali hutan-hutan melalui praktik wanatani, di mana kopi menjadi bagian sistem lestari.

Hutan tidak sekadar simpanan kekayaan berupa objek konkret (kayu, pangan, dan obat), tetapi juga penyimpan database pengetahuan yang dikumpulkan nenek moyang. Sifatnya akumulatif dan terus berkembang, melekat pada tradisi dan budaya kita. Artinya, melestarikan fungsi hutan adalah merawat identitas kita sendiri.

Pilihan ada pada kita, seyogyanya memilih sisi kedua dari paradoks kopi tadi. Kita tumbuhkan kopi tanpa merusak hutan. Malahan, bukan tidak mungkin memperluasnya: membangun hutan-hutan baru. Biarkan kopi menjadi bagian dari hutan itu sendiri, melengkapi identitas kita tanpa menghapus yang sudah ada. 


-SH


*Foto: Potret rustic-shade grown coffee di hutan habitat lima jenis primata

You Might Also Like

0 comments