Monday, October 3, 2016

Aroma Kopi Menoreh


Musim panen kopi di suatu waktu di sekitar tahun 1960, masyarakat Menoreh disibukkan dengan kopi-kopi merah yang menunggu untuk dipetik. Tahun-tahun itu, kopi menjadi penggerak perekonomian. Pegunungan Menoreh adalah penghasil kopi yang cukup besar. Dikenal sejak jaman penjajahan Belanda. 

Masyarakat sendiri telah memiliki keahlian menyangrai kopi, menggunakan gerabah di atas api dari pembakaran jenis-jenis kayu keras atau batok kelapa. Roasted bean kemudian ditumbuk hingga menjadi bubuk lembut. Bubuk kopi diseduh dengan air panas dan ditambah gula kelapa. Pada saat itu gula tebu masih jarang. Kalaupun ada di pasar, tak semua orang mampu membeli. 

Aroma kopi yang harum menyeruak di antara rumah-rumah kampung berdinding anyaman bambu, beratapkan alang-alang. 'Slllrrrpp.., kopi nikmat pun diseruput di antara dinginnya udara Menoreh. Menemani para petani kopi bercerita tentang hasil panen kebun mereka', demikian Mbah Hadi mengisahkan keindahan masa lalu kopi Menoreh. Bisahkah kopi kembali mengaliri nadi ekonomi masa kini?

Sidiq Harjanto
co-founder Kopi Sulingan

Friday, May 6, 2016

Catatan seorang beekeeper (pemula)


Beberapa bulan terakhir ini saya menekuni hobi baru, merawat dan memelihara lebah. Untuk sementara saya mengkhususkan diri pada jenis-jenis lebah tak bersengat (stingless bee). Orang Jawa menyebutnya klanceng, di Sunda biasa disebut teuweul, masyarakat Melayu mengenalnya sebagai kelulut, begitu juga di daerah lain lebah dari kelompok ini juga memiliki sebutan masing-masing. Klanceng ini masih satu keluarga dengan lebah madu (Apis spp.) yaitu merupakan anggota suku Apidae. Lebah tak bersengat masuk ke dalam tribus Meliponini. Kalau budidaya lebah madu pada umumnya (marga Apis) biasa disebut apiculture, maka untuk jenis-jenis lebah tak bersengat biasa disebut meliponiculture.

Meliponiculture berkembang sejak lama di Amerika Tengah dan Selatan, di benua Afrika dan Australia. Suku-suku primitif di Benua Amerika telah ribuan tahun memelihara lebah tak bersengat sebagai lebah asli (native bee) untuk dipanen madu dan propolisnya. Demikian pula di Afrika dan Australia. Suku-suku tersebut bahkan memasukkan lebah tak bersengat dalam budaya mereka, khususnya dalam ritual-ritual tertentu dan sebagai bagian dari metode pengobatan tradisional. Di Indonesia sendiri, budidaya klanceng sejauh yang saya tahu, belum begitu populer. Nenek moyang kita lebih mengenal lebah hutan (Apis dorsata), dan lebah lokal (Apis cerana) sebagai lebah penghasil madu. Mungkin karena jumlah produksi madu yang lebih besar.

Berbicara tentang produksi madu, lebah klanceng memiliki produksi madu yang jauh lebih kecil dibandingkan lebah madu Apis spp. Dari ukuran tubuhnya saja lebah tak bersengat ini umumnya jauh lebih kecil, lebah yang saya pelihara panjang tubuhnya kurang dari setengah centimeter. Madu yang dihasilkan oleh lebah tak bersengat juga relatif berbeda dengan lebah madu biasa. Karakternya cenderung lebih encer, dan rasanya lebih kompleks - perpaduan antara rasa manis dan rasa asam - dan khas. Cita rasa ini disebabkan konon karena pengaruh resin kantong madu dan adanya unsur polen. Yup, selain menyimpan madu, lebah juga menyimpan polen sebagai cadangan makanan. Pada lebah yang saya pelihara, terkadang kantong madu dan polen ini bercampur. Madu yang dihasilkan klanceng berasal dari nektar beranekaragam jenis tanaman bunga (multiflora). Beberapa literatur menyebutkan kandungan nutrisi madu klanceng lebih kompleks dibandingkan lebah biasa, sehingga khasiatnya juga dianggap lebih baik.

Bagi saya, memelihara lebah klanceng membuat saya sangat bergairah untuk belajar lebih dalam. Lebah memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia maupun bagi keseimbangan ekosistem. Lebah-lebah kecil ini bukan saja menghasilkan madu, polen, dan propolis; namun juga memiliki peran ekologis yaitu sebagai polinator bagi berbagai jenis tanaman berbunga. Dewasa ini habitat asli dari lebah tak bersengat semakin hilang, seiring dengan semakin hilangnya hutan. Lebah ini bersarang pada lubang-lubang pohon, batu, tanah, maupun bangunan. Pemilihan habitat bersarang ini tergantung jenisnya. Selain membutuhkan habitat yang ideal untuk bersarang, lebah juga membutuhkan lingkungan yang menyediakan sumber pakan yang cukup, khususnya tanaman berbunga yang menyediakan nektar dan polen; dan tanaman penghasil resin sebagai bagian penting untuk membangun sarang.

Saat ini setidaknya saya mengoleksi dua jenis lebah, nampaknya keduanya dari marga Tetragonula. Jenis-jenis ini masih cukup banyak di sekitar tempat saya tinggal, namun di sisi lain ketersediaan habitat bersarangnya juga semakin menyusut. Dengan membuatkan rumah bagi mereka, setidaknya populasi mereka bisa tetap ada dan terus memberikan manfaat bagi kehidupan kita. Di sisi lain, membudidayakan lebah ini juga bisa memberi potensi ekonomi dengan cara memanen madunya. Kalaupun belum cukup untuk dijual, madu yang dipanen bisa dimanfaatkan untuk dikonsumsi sendiri.

Banyak sekali yang ingin saya tuliskan, namun tak bijak kalau saya tulis dalam satu artikel panjang yang membosankan. Mungkin kedepan saya akan lebih sering membuat tulisan tentang lebah, khususnya lebah-lebah peliharaan saya, sahabat saya. Ya, karena lebah membuat saya sangat bergairah!



Monday, March 21, 2016

Merasakan sapta pesona di ujung barat Nusantara



 
Pulau Weh, harus saya akui sebagai salah satu pulau favorit. Saya bukan seorang maniak traveling, pun juga bukan pengamat wisata. Namun pandangan pribadi saya tentang Pulau Weh mengatakan bahwa pulau di ujung barat Indonesia ini adalah salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia. Pulau dengan luas 156,3 km persegi (menurut Wikipedia) ini memang dikaruniai keindahan alam yang istimewa. Pulau vulkanik ini ibarat kata kalau kita memotret asal jepret aja hasilnya pasti bagus. Mulai dari lautnya, hutan, gunung api, kota dan perkampungannya selalu menarik untuk dipandang.Di sinilah kota Sabang yang kental dengan nuansa masa-masa prakemerdekaan berada. 

Akses yang relatif mudah dan aman
Paling umum Pulau Weh ditempuh melalui jalur laut dari pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh menuju pelabuhan Balohan di Sabang. Setiap hari ada 2 pelayaran kapal feri pulang pergi, dengan durasi perjalanan sekitar 2 jam. Kalau mau lebih cepat bisa menggunakan kapal cepat yang membutuhkan waktu kurang dari satu jam. Jika tujuannya berwisata, di Balohan sudah banyak layanan antar jemput yang include pemandu yang siap mengantar dan memberi penjelasan tentang beberapa objek wisata di Sabang. Dari pengalaman saya, biaya yang mereka tawarkan sepertinya sudah memiliki standar. Sebagian besar wisatawan menginap di Iboih, sebuah kampung wisata yang ramai dan dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan.


Akan lebih menyenangkan jika mengelilingi Sabang menggunakan kendaraan sewaan. Di Iboih ada banyak sepeda motor yang bisa disewa dengan harga yang cukup bersahabat. Mengelilingi sabang sendiri tanpa pemandu? Tak ada masalah, karena plang-plang penunjuk arah di jalanan kota Sabang sudah bisa di andalkan. Peta-peta wisata juga mudah dijumpai. Masih bingung juga? Masyarakat Sabang akan dengan ramah menunjukkan arah jika dimintai bantuan menjelaskan rute jalanan. Amankah? Sejauh ini Sabang adalah kota yang aman dan ramah bagi pengunjung.

Pemandangan yang memanjakan mata
Kesan pertama masuk ke Sabang adalah adalah kota yang bersih dan tertata. Ciri khas yang saya amati di Sabang adalah kanan kiri-jalan yang tertata, dan relatif seragam dengan pepohonan yang tertata rapi. Sesekali kebun-kebun pinang menghiasi pemandangan di Pulau Weh. Jalur timur yang saya lewati ini berada di tepi pantai. Secara umum pantai-pantai di Sabang bersih dan tertata. Hutan dan perkampungan seakan menyatu dalam harmoni. Tidak ada lahan terbuka yang merusak pemandangan. Yang ada hanya hutan-hutan lebat yang di tepinya terdapat pemukiman-pemukiman. Kadang kala segerombolan monyet ekor panjang teramati di tepian jalan, seakan tidak terganggu oleh lalu lalang kendaraan.


Kaya akan sejarah
Sebagai kota di ujung barat negeri ini, Sabang merupakan salah satu kota penting sejak jaman penjajahan. Bangunan-bangunan kuno peninggalan Belanda sejak tahun 1800an banyak dijumpai di Kota Sabang. Beberapa gedung masih digunakan sampai saat ini. Bunker dan beteng peninggalan Jepang juga banyak terdapat di pesisir. Hal ini menandakan bahwa pada masa perang, Sabang adalah pertahanan strategis dari musuh. Dengan sejarah yang cukup panjang, masyarakat di Sabang saat ini terdiri dari berbagai etnis dan latar belakang budaya, menjadikannya unik dan eksotik.

Dari wisata bawah air sampai volkano
Tugu kilometer nol Indonesia adalah tujuan utama para pelancong. Bagaimanapun, menginjakkan kaki di ujung barat negara ini adalah sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan. Ada lagi tugu Sabang-Merauke yang hanya ada dua di Indonesia. Kekayaan daya tarik Sabang (Pulau Weh) tak ada habisnya. Mulai dari bawah lautnya yang menawan, pantai-pantai baik pasir putih dan pasir hitam, kota sejarah, danau air tawar Aneuk Laot, air terjun Pria Laot, hingga Jaboi volcano.


Itulah Sabang di mata saya sebagai orang awam. Sabang berhasil menerapkan sapta pesona wisata sehingga menjadikannya berkharisma dan berkembang menjadi destinasi wisata yang memiliki reputasi baik. Aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan; semuanya menyatu menjadi karakter yang melekat di Kota Sabang dengan Pulau Weh-nya. Saya cinta Sabang.

Wednesday, February 24, 2016

Cerita dari Tanah Gayo




Pagi yang cerah, bus ‘Harapan Indah’ yang berbadan besar memasuki terminal Paya Ilang di Takengon, Aceh Tengah. Bus yang membawa rombongan kami, para petualang kopi (kami menyebutnya seperti itu). Suasana dingin seolah menyambut kami dengan sapaan ‘selamat datang di Tanah Gayo!’. Yes, inilah kerajaan kopi arabica terbesar di Asia, dan saya telah menginjakkan kaki di tanah subur ini. Setelah perjalanan berjam-jam dari Medan, rasa lelah dan kantuk seakan lenyap sudah dengan pesona keindahan kota kecil bernama Takengon ini.

Kami sudah dijemput seorang teman, Bang Hendra Maulizar, seorang pengusaha kopi muda yang sepak terjangnya tak perlu diragukan lagi. Kalau pembaca pernah mencicipi kopi gayo ‘Pantan Musara’, maka bisa dipastikan kopi tersebut keluar dari gudang milik perusahaan Bang Hendra yang dirintis bersama ayahnya. Beberapa hari kami di Gayo, untuk belajar segala sesuatu tentang kopi, ditemani langsung oleh Bang Hendra yang orangnya sangat ramah. Tujuan utama kami adalah belajar mengenal cita rasa kopi (cupping) di kota Bener Meriah, dan mengunjungi Desa Pantan Musara.

Masyarakat Gayo tidak bisa dipisahkan dari kopi. Ada ungkapan di kalangan masyarakat Gayo, ‘Orang Gayo hidup dari kopi dan mati untuk kopi’. Tak muluk-muluk memang, karena Tanah Gayo merupakan salah satu lumbung kopi arabica dunia. Mayoritas masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, menggantungkan penghidupan pada bisnis kopi. Mulai dari petani kopi, industri pengolahan pascapanen, roastery, kedai kopi, hingga pemain besar seperti pengeksport. 


Penikmat dan pecinta kopi pasti familiar dengan kopi gayo. Tidak hanya level nasional, tetapi juga dikenal di tingkat internasional. Bang Mahdi, seorang putra Gayo yang merupakan Q-Grader*, menceritakan bagaimana dunia tergantung pada kopi gayo sehingga membuat harganya selalu di atas rata-rata harga kopi dunia. Mengapa kopi gayo begitu diperhitungkan di pasar kopi dunia? Pertama, varietas kopi gayo yang sangat beragam. Setidaknya ada 136 varietas dan beberapa di antaranya adalah ‘varietas tua’, seperti typica, abyssinia, dan bergendal. Kedua, karakter kopi gayo yang kuat di body dan acidity; sehingga kopi-kopi dari berbagai negara membutuhkannya sebagai basic blend.

Dataran tinggi Gayo, diciptakan dengan segenap karakteristiknya yang dibutuhkan bagi kopi arabica. Faktor ketinggian tempat yang rata-rata lebih dari 1.000 mdpl, formasi batuan, dan curah hujan menjadi faktor penentu utama. Dan tentu saja, kecintaan masyarakat Gayo akan kopi, membuat mereka menghasilkan biji-biji kopi terbaik.

BTW, saya bukan pakar kopi. Apa yang saya sampaikan di atas semata-mata berdasarkan apa yang saya pelajari dari para ahli dan pecinta kopi yang saya temui selama di Gayo beberapa bulan yang lalu. Hanya beberapa hari memang, sebelum kami bergeser ke tempat-tempat lain selama perjalanan di Sumatera. Namun beberapa hari itu begitu kental dengan pengalaman dan pembelajaran berharga. Saya ucapkan terima kasih kepada: Bang Hendra sekeluarga, Kang Meiardy dan Mas Imam (teman petualangan selama di Gayo), Gayo Cupper Team dan teman-teman Gayo Cupping Class angkatan ke-3, dan segenap masyarakat Gayo yang ramah. Banyak pelajaran dipetik dari masyarakat Gayo, namun saya tak mampu menceritakan setiap detail perjalanan itu. Juga kepada Huda dan Bang Gigi yang menampung kami selama di Kota Medan.

Mari ngopi..mari belajar..mari berkarya!

*) Q-Grader adalah seorang pencicip cita rasa kopi arabica profesional yang tersertifikasi.