Skip to main content

Air terjun Kembang Soka






Menyusuri sungai Bangki, kami bergerak turun dengan cepat. Kami tidak sabar untuk mencapai pertemuan dengan sungai lainnya, Mudal. Alur-alur sungai ini berada di dusun Gunungkelir, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Sebelum titik pertemuan kedua sungai (tempuran), ada air terjun yang konon menyuguhkan panorama yang eksotis.

Tak lama kami berjalan, sebuah air terjun sudah menanti. Tingginya kurang lebih 10 meter, dengan kemiringan hampir 90 derajat. Curug Kemiri, begitulah orang-orang menyebutnya. Kami memutuskan untuk turun menggunakan teknik tali tunggal (SRT). Ada sensasi tersendiri saat air terjun mengguyur tubuh yang menggantung pada seutas tali. Sayangnya di puncak musim kenarau seperti saat ini, debit air di sungai ini hanya kecil.

Di sepanjang jalur turun vertikal ini tumbuh lumut dan tanaman kecil yang membentuk panorama yang sangat indah. Saya benar-benar dimanjakan dengan formasi tumbuhan yang membentuk laksana karpet alam.

Dan benar saja, di samping air terjun yang kami turuni ini ada air terjun lain yang berasal dari sungai Mudal. Namanya curug Kembangsoka. Kami tak bisa menyembunyikan perasaan exited. Bak anak kecil, kami berlari-lari sambil teriak-teriak kegirangan. Wow ini surga dunia bung! Air terjun setinggi sekitar 5 meter yang airnya jernih dengan kemilau kehijauan yang dihasilkan dari warna tanaman air yang tumbuh sehat di bawahnya.

Nanti saat musim hujan telah tiba dan sungai-sungai itu kembali mengalir deras, kami pasti akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk mengunjunginya.

Terima kasih: Pak Ju, Kang Mur, Ary, Hery, Jubleg

Comments

Popular posts from this blog

Pulaunya kelulut

Tetrigona
Tahun kemarin saya ke Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Kayong Utara (KKU). Sebagai orang yang sedang tergila-gila dengan lebah, maka yang sejak pertama sampai, saya langsung saja incang-inceng mengamati bunga-bunga dan pokok-pokok kayu yang berlubang, berharap menemukan lebah kelulut. Dan benar saja, cukup mudah menemukan lebah, baik lebah yang sedang harvesting di bebungaan, maupun lebah-lebah yang berdiam di sarangnya. Barangkali jenis kelulut gagak (Heterotrigona itama), yang paling sering dan paling mudah ketemu. Si gagak ini mudah dikenal dari tubuhnya yang berukuran relatif besar dan berwarna hitam legam. Kelulut kecil bersarang pada celah-celah bangunan, saya menduga Tetragonula fuscobalteata, ukurannya sungguh kecil. Barangkali kelulut paling kecil yang pernah saya jumpai.

 Lepidotrigona
Beberapa jenis kelulut di Pulau Borneo baru pertama kali saya jumpai, seperti kelulut hitam dari marga Tetrigona. Warna tubuhnya hitam, dengan sayap separuh hitam dan separuh k…

Desa di atas awan

Desa Tlogohendro berada di pegunungan Dieng, tepatnya di kecamatan Petungkriyono, kab Pekalongan. Untuk menuju desa ini bisa lewat rute kota Pekalongan- Doro- Petungkriyono. Jalan dari Doro ke Petungkriyono sudah relatif bagus. Medan jalannya berkelok-kelok diselingi tanjankan dan turunan cukup terjal. Salah satu yang iconik adalah panorama hutan yang menyambut saat memasuki kecamatan Petungkriyono, yaitu di Sokokembang. Dari ibukota kecamatan, desa Tlogohendro masih sekitar setengah jam perjalanan.


Tlogohendro dengan luas 1.450 ha ini berada di atas 1.000 mdpl, sehingga udaranya sejuk dan cenderung dingin pada malam hari. Komoditas paling menonjol dari desa ini adalah sayur-mayur seperti kentang, cabai, dan bawang daun (masyarakat desa menyebutnya selong). Di pinggir ladang-ladang sayur biasanya ditanami kopi arabika. Desa ini menjadi salah satu penghasil kopi penting di kabupaten Pekalongan.


Keunikan desa ini dibandingkan desa-desa lain adalah makanan pokoknya yang masih berupa na…

Sekilas tentang lebah tak bersengat