Sunday, August 24, 2014

Kabar gembira untuk kita semua!
















Laba-laba yang diduga Amauropelma matakecil yang ditemukan di loccality baru (Foto: Sidiq Harjanto)
 
Kabar menyenangkan sore ini untuk kita semua. Laba-laba buta yang diduga jenis Amauropelma matakecil, ditemukan di satu gua di wilayah Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika jenis laba-laba yang ditemukan ini terkonfirmasi sebagai A. matakecil, maka akan menjadi catatan baru bagi sebaran jenis endemik Menoreh tersebut. Sebelumnya laba-laba matakecil ditemukan di 3 gua di wilayah Kec. Kaligesing, Kab. Purworejo, Jawa Tengah.

Laba-laba buta tersebut ditemukan di sebuah gua dengan sistem yang relatif tertutup, tipikal habitat alaminya. Gua tersebut panjangnya diperkirakan mencapai 1 km, dan merupakan sistem sungai kecil. Dengan temuan baru ini, maka semakin membuktikan kekayaan alam karst di Menoreh terutama yang berada di wilayah Desa Jatimulyo. Di dalam gua tersebut juga dijumpai hewan-hewan khas gua lainnya, seperti isopod dan nocticolid.

Menjadi tantangan bagi kita semua untuk menjaga kelestarian biota khas gua di Menoreh. Hal utama yang perlu menjadi perhatian kita semua adalah dengan memelihara habitat laba-laba tersebut, misalnya dengan tidak membuang sampah ke dalam gua, dan memelihara keaslian vegetasi di atas sistem-sistem gua. Bagaimanapun, biota khas gua adalah 'harta karun' yang sangat berharga.

Terima kasih untuk anggota tim eksplorasi gua: Kang Mur, Andri, Ari.

Dia yang hidup di kegelapan abadi














Amauropelma matakecil, betina dewasa (Foto oleh Sidiq Harjanto)

Troglobit, sebutan bagi biota yang seluruh siklus hidupnya dihabiskan di dalam lingkungan hipogean (habitat bawah tanah, khususnya gua). Mereka teradaptasi hidup di habitat gelap, dengan kelembaban yang sangat tinggi, dan cenderung stabil. Kelompok biota ini merupakan jenis-jenis evolusioner yang sukses, meskipun di sisi lain mereka adalah makhluk yang rapuh. Sedikit perubahan mikroklimat, misalnya, bisa memberi dampak kepunahan bagi jenis-jenis tersebut.

Laba-laba Amauropelma matakecil hidup tanpa fungsi mata, karena telah mengalami reduksi ekstrim hingga nyaris hilang sama sekali. Hanya bintik-bintik kecil yang tersisa menandakan terjadinya proses evolusi regresif pada jenis itu. Seekor laba-laba buta menjalani kehidupan dengan mengandalkan organ sensor kemo-taktil pada tubuhnya. Sensor tersebut merasakan partikel-partikel di udara dan sentuhan, sehingga laba-laba tersebut mampu mengenali kondisi lingkungan di sekitarnya. Untuk mendapatkan mangsa, jenis seperti itu mengandalkan strategi 'diam dan menunggu', ketika ada mangsa mendekat, sensor kemo-taktil berupa trikobotria memberikan sinyal. Dan, dengan cepat mangsa disergap.

Si matakecil hidup di beberapa gua di kawasan Menoreh. Mereka sering terlihat berdiam di lantai gua, atau kadang bersembunyi di celah-celah batuan; hidup berdampingan dengan hewan-hewan khas gua lainnya, seperti nocticolid, kaki seribu, dan isopod terestrial. Matakecil, bersama biota khas gua lainnya, cenderung hidup di lingkungan yang relatif stabil. Habitat tempat mereka hidup adalah lorong-lorong yang jauh dari lingkungan luar, dan cenderung terisolasi. Hal itu menjadikan sebaran jenis endemik Menoreh ini, sangat terbatas.

Jenis troglobit seperti laba-laba matakecil memiliki nilai penting, baik bagi ilmu pengetahuan maupun dalam perlindungan kawasan. Bagi ilmu pengetahuan, troglobit adalah 'harta karun' bagi peneliti dalam mengungkap teka-teki evolusi. Untuk kepentingan konservasi, tak jarang jenis troglobit dijadikan flagship species, sebutan suatu jenis ikon konservasi suatu kawasan. Hal itu bukan suatu hal yang dilebih-lebihkan, mengingat keunikan dan kekhasan-nya. Dan lebih penting lagi, kerapuhannya. Menjaga kestabilan ekosistem merupakan cara yang harus ditempuh untuk mempertahankan keberadaan jenis troglobit.




Saturday, August 23, 2014

Birding Menoreh















Pengamatan burung (birding) semakin populer di kalangan masyarakat. Mengamati burung di alam liar merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap kekayaan alam, khususnya avifauna. Dengan membudayakan menikmati keindahan burung di habitat aslinya, kita juga sekaligus meredam eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam.

Di Pegunungan Menoreh hidup puluhan jenis burung, sehingga menarik para pegiat pengamatan burung datang ke sana. Salah satu lokasi pengamatan burung favorit di Menoreh adalah di Dusun Sokomoyo, Desa Jatimulyo. Uniknya, di dusun yang asri ini, kegiatan mengamati burung dilakukan di sekitar pemukiman warga, sehingga suasana pedesaan terasa sangat kental. Burung-burung di tempat ini seolah telah terbiasa hidup berdampingan dengan peradaban manusia.

Tak kurang 50 jenis burung tercatat di dusun ini, menghuni perkebunan dan ladang-ladang milik warga masyarakat. Beberapa jenis adalah burung migran yang melintas pada bulan-bulan tertentu, sedangkan sebagian besar adalah jenis-jenis penetap. Jenis-jenis burung yang cantik bisa dengan mudah diamati di sekitar jalur-jalur pengamatan yang telah di sediakan oleh pengelola desa wisata. Masyarakat bersama pemerintah desa memang berkomitmen untuk mengembangkan kepariwisataan sebagai salah satu upaya melestarikan kekayaan alam di desa ini.

Waktu terbaik mengamati burung adalah pagi hari dan sore hari, saat burung-burung aktif mencari makan di pepohonan. Wisatawan yang ingin melakukan pengamatan burung di Sokomoyo akan dibantu para pemandu yang sangat paham titik-titik terbaik di mana banyak burung dapat diamati.

Mari mengamati burung! Mari melestarikan alam!

Caving Kiskendo
















Gua Kiskendo berada di Desa Jatimulyo, Kec. Girimulyo, Kab. Kulonprogo; sekitar 40 km sebelah barat kota Yogyakarta. Gua alam ini terbentuk pada batuan karbonat Formasi Jonggrangan, sebuah kawasan karst kecil di puncak Pegunungan Menoreh yang mulai terbentuk pada kala miosen. Ratusan gua alami terbentuk pada batuan karbonat yang berada di ketinggian 600-800 mdpl ini.

Salah satu sistem perguaan yang panjang dan rumit adalah Gua Kiskendo. Setidaknya ada 9 pintu masuk gua, baik vertikal maupun horizontal. Sungai-sungai bawah tanah mengalir di dalamnya, kemudian menyatu menjadi Sungai Sumitro. Sungai-sungai utama mengalir sepanjang tahun, sebagian berhulu di wilayah Kab. Purworejo.

Gua Kiskendo sendiri mulai dikenal sebagai objek wisata sejak tahun 80-an, ditandai dengan pembangunan infrastruktur pendukung seperti taman, bumi perkemahan, parkir, dan aula. Awalnya pintu masuk gua wisata ini berupa lorong vertikal yang sulit diakses, sehingga kemudian dibuat tangga beton. Perkembangan selanjutnya, jalan beton dan beberapa jembatan juga dibuat untuk memudahkan akses ke dalam lorong-lorongnya. Hingga saat ini total panjang lorong yang dibuka untuk wisata umum adalah sekitar 700 meter, hanya sebagian kecil dari panjang total Gua Kiskendo.

Gua Kiskendo terkenal dengan legenda pewayangan Mahabarata, di mana gua ini konon dilatarbelakangi kisah Sugriwa-Subali. Gua ini juga tersohor sebagai kompleks pertapaan bagi para pelaku spiritual. Di dalamnya terdapat 9 pertapaan dengan peruntukkannya masing-masing. Para pengunjung juga seringkali mengambil air di Sendang Panguripan untuk maksud-maksud tertentu. Mbah Hadi Suwito selaku juru kunci gua ini dengan ramah menjelaskan seluk beluk tiap sudut gua kepada para pengunjung.

Selain legenda Sugriwa-Subali dan tempat-tempat pertapaan di dalamnya, Gua Kiskendo memiliki ornamen yang beragam seperti stalaktit, stalagmit, helektit, gourdams, drapperi, soda straw, dll. Ornamen-ornamen tersebut terbentuk dari proses alam yang kompleks selama ribuan tahun sehingga patut kita jaga bersama-sama.

Hewan-hewan gua yang unik hidup di Gua Kiskendo, seperti kalacemeti, jangkerik gua, kaki seribu, dan kelelawar. Hewan-hewan itu telah beradaptasi dengan lingkungan gua yang gelap, misalnya dengan pengembangan organ peraba. Misalnya jangkerik yang hidup di dalam gua memiliki antena yang jauh lebih panjang daripada tubuhnya sendiri.

Itulah sedikit cerita tentang Gua Kiskendo sebagai salah satu kekayaan alam Pegunungan Menoreh, mari kita nikmati dan  lestarikan bersama-sama.


Wednesday, August 13, 2014

Mengoptimalkan peran caver


Perangkat desa Jatimulyo yang turun langsung mensurvei ketersediaan air di gua.

Di Indonesia ini mungkin ada ribuan caver (penelusur gua), baik profesional maupun amatir. Ini adalah potensi yang sangat besar. Para caver adalah mereka yang sangat mengenal gua, bahkan kadang melebihi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Di sisi itulah para caver bisa berangkat untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Kawasan karst seringkali dihadapkan pada permasalahan ketersediaan air bersih bagi masyarakatnya. Ini adalah sesuatu yang wajar bila menilik karakteristik hidrologi kawasan karst itu sendiri yang  biasanya sedikit memiliki sumber air permukaan. Ada banyak air di karst, tetapi letaknya di bawah tanah, di sistem-sistem sungai yang sulit diakses oleh orang yang tidak memiliki keahlian khusus.

Caver dengan keahliannya dalam mengakses tempat-tempat ekstrim secara strategis bisa berkontribusi dalam memberikan informasi mengenai keberadaan sumber air, bahkan sekaligus membantu dalam proses pengangkatan air hingga menjangkau permukaan. Kontribusi semacam itulah yang sekarang sangat dinantikan masyarakat yang tinggal di tempat-tempat yang sangat dekat dengan aktivitas para caver. Di sini kepekaan sosial kita sebagai caver, diuji.